Gabungan larangan perjalanan era Trump, biaya jaminan visa hingga $15.000, dan waktu tunggu wawancara visa lebih dari 800 hari telah mencegah ribuan suporter, anggota keluarga, dan bahkan ofisial pertandingan menghadi... Kiper Tanjung Verde, Vozinha, menjadi pahlawan viral setelah hasil imbang 0 0 melawan Spanyol, l...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What visa-related complications have marred the 2026 FIFA World Cup in the United States, and how did they affect Cape Verde goalkeeper Vozi. Article summary: Visa-related complications have become one of the most prominent controversies of the 2026 FIFA World Cup, stemming from the Trump administration's tightened immigration policies, expanded travel bans, and strict visa ad. Topic tags: general, general web, user generated, news. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "## The FIFA World Cup begins on Thursday (11 June), but many supporters face travel bans, visa delays and rejection rates as high as 70%, raising concerns over fan access to the to" source context "FIFA World Cup fans hit by visa chaos" Reference image 2: visual subject "## The FIFA World Cup begins on Thur
Piala Dunia FIFA 2026 seharusnya menjadi festival persatuan, tetapi bagi ribuan pemain, ofisial, dan penggemar, ajang ini justru didefinisikan oleh pintu gerbang yang terkunci. Jalinan kebijakan visa AS yang diperketat—larangan perjalanan yang meluas, biaya jaminan baru, dan waktu tunggu visa yang memecahkan rekor—telah secara sistematis mengecualikan orang-orang untuk menghadiri pertandingan. Kontroversi ini mencapai puncaknya di Atlanta pada 15 Juni, saat kiper Tanjung Verde berusia 40 tahun, Vozinha, tampil heroik dengan tujuh penyelamatan untuk menahan gawangnya dari kebobolan melawan Spanyol, tetapi hanya bisa merayakannya secara daring; ibunya berada 6.400 kilometer jauhnya, terhalang oleh biaya visa AS.
Gambar dari Mercedes-Benz Stadium menceritakan dua kisah. Di lapangan, Vozinha—nama lengkap Josimar José Evora Dias—dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan setelah hasil imbang 0-0 yang bersejarah, poin pertama Tanjung Verde di Piala Dunia, melawan tim Spanyol yang dipenuhi Rodri, Pedri, dan Lamine Yamal . Di luar lapangan, pria berusia 40 tahun itu menangis tersedu-sedu. Kakek-neneknya, yang membesarkannya, telah meninggal dunia. Ibunya, yang masih hidup, tidak bisa berada di sana untuk menyaksikan momen terbesar dalam hidupnya.
“Ibu saya tidak bisa berada di sini karena masalah visa,” kata Vozinha kepada wartawan setelah pertandingan . Masalahnya bukan hanya penolakan, tetapi hambatan finansial yang tidak bisa didaki oleh keluarganya. Pada Januari 2026, pemerintah AS memberlakukan persyaratan bagi warga negara Tanjung Verde untuk memberikan biaya jaminan yang dapat dikembalikan hingga $15.000 (sekitar Rp245 juta) sebagai tambahan dari biaya visa standar, jumlah yang membuat ibunya mustahil menyelesaikan permohonannya
. “Ibu saya juga tidak bisa berada di sini karena masalah visa dan uang yang harus kami bayarkan untuk itu,” jelasnya. “Kami tidak berhasil mengurusnya”
. Jumlah pengikut Instagram-nya, yang menjadi proksi simpati global, melonjak dari sekitar 50.000 menjadi lebih dari 2 juta dalam hitungan jam setelah pertandingan
.
Kisah Vozinha bukanlah kasus terisolasi, melainkan wajah personal dari kerusakan sistemik. Masalah ini meluas jauh melampaui satu keluarga dan telah mempengaruhi logistik operasional turnamen itu sendiri.
Skala pengecualian ini memicu pertanyaan untuk Presiden FIFA Gianni Infantino dalam konferensi pers pra-turnamennya di Mexico City. Tanggapannya sejak itu menjadi salah satu titik nyala dari acara ini.
Infantino dengan datar meremehkan tingkat keparahan masalah tersebut. “Apa yang terjadi pada wasit dari Somalia sangat disayangkan, tapi kami tidak bisa mengendalikan segalanya,” katanya. “Terkadang Anda hanya harus santai” . Dia bahkan melangkah lebih jauh, mengatakan kepada para kritikus bahwa terkadang lebih baik untuk “santai dan tenang” atas masalah-masalah ini
.
Sambil mengalihkan tanggung jawab, Infantino menyatakan bahwa FIFA tidak bisa mendikte pemerintah tuan rumah tentang siapa yang diizinkan masuk ke negaranya, memposisikan organisasi tersebut hanya sebagai badan olahraga yang harus menghormati keputusan imigrasi yang berdaulat . “Kami bukan raja dunia,” katanya
.
Ketika didesak apakah dia memiliki penyesalan tentang pemberian hak tuan rumah kepada Amerika Serikat dalam kondisi seperti ini, Infantino berterus terang. “Tidak ada penyesalan,” jawabnya. “Saya sangat mengenal dunia penyelenggaraan acara dan tentu ada masalah... Kami selalu melakukan yang terbaik” .
Sikap itu menuai kecaman tajam dari kelompok hak asasi manusia, penggemar, dan media, terutama karena FIFA pada saat yang sama menghadapi sorotan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait masalah hak asasi manusia yang berkaitan dengan imigrasi . Retorika organisasi tentang menyatukan dunia bertabrakan langsung dengan gambar seorang pemain yang menangis untuk seorang ibu yang tidak mampu membayar untuk memasuki negara tuan rumah, dan seorang wasit yang secara fisik diblokir untuk melakukan pekerjaannya.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Gabungan larangan perjalanan era Trump, biaya jaminan visa hingga $15.000, dan waktu tunggu wawancara visa lebih dari 800 hari telah mencegah ribuan suporter, anggota keluarga, dan bahkan ofisial pertandingan menghadi...
Gabungan larangan perjalanan era Trump, biaya jaminan visa hingga $15.000, dan waktu tunggu wawancara visa lebih dari 800 hari telah mencegah ribuan suporter, anggota keluarga, dan bahkan ofisial pertandingan menghadi... Kiper Tanjung Verde, Vozinha, menjadi pahlawan viral setelah hasil imbang 0 0 melawan Spanyol, lalu menangis di lapangan karena ibunya tidak bisa mendapatkan visa AS—aplikasi membutuhkan biaya jaminan dan biaya admini...
Presiden FIFA Gianni Infantino meminta para kritikus untuk ‘santai dan tenang’, mengatakan FIFA tidak bisa mendikte AS soal siapa yang boleh masuk [18].