Per 13 Juni 2026, AS dan Iran telah menyepakati naskah final Nota Kesepahaman (MoU) 60 hari, namun masa depan kesepakatan ini terancam oleh perselisihan sengit soal pencairan segera aset Iran yang dibekukan, yang nila... Iran menuntut setidaknya Rp192 triliun asetnya dicairkan segera setelah penandatanganan, sementa...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the current status of the proposed U.S.-Iran memorandum of understanding as of June 13, 2026, including the announced signing timeli. Article summary: As of June 13, 2026, the U.S. and Iran have a finalized draft text of a Memorandum of Understanding (MOU) to extend their ceasefire and reopen the Strait of Hormuz, with a signing expected as soon as Sunday, June 14, in . Topic tags: general, general web, user generated, news. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "The signing of an initial agreement would open a 60-day period during which Iran would reopen the Strait of Hormuz and the United States would" source context "US, Pakistan say Iran deal set for Sunday as Tehran split clouds signing | Iran International" Reference image 2: visual subject "US-Iran memorandum
Para negosiator Amerika Serikat dan Iran, dengan mediasi Pakistan dan Qatar, telah merampungkan naskah akhir dari sebuah Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) penting yang bertujuan meredakan konflik berbulan-bulan di Timur Tengah. Pada 12 Juni, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi pencapaian "naskah final yang disepakati bersama," menandakan bahwa jalur diplomasi kini lebih dekat pada keberhasilan dibandingkan titik mana pun sejak perang dimulai . MoU ini, sebuah kerangka kerja sementara 60 hari, akan memperpanjang gencatan senjata saat ini, mewajibkan pembukaan kembali segera Selat Hormuz yang kritis, dan memulai negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Teheran
.
Upacara penandatanganan sementara dijadwalkan pada hari Minggu, 14 Juni, di Jenewa, Swiss, yang waktunya diatur secara strategis di sekitar KTT G7 di Prancis yang dimulai keesokan harinya . Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf diharapkan akan menandatangani dokumen tersebut, dengan beberapa laporan menyebutkan adanya komponen virtual yang melibatkan negara-negara mediator, Pakistan dan Qatar
.
Meskipun ada terobosan yang optimistis, jurang perbedaan yang substansial tetap ada di antara interpretasi kedua negara terhadap kesepakatan itu, yang dipicu oleh manuver publik dan oposisi domestik garis keras di kedua belah pihak . Kesepakatan ini sama sekali bukan perdamaian yang komprehensif; ia adalah wadah rapuh untuk serangkaian isu inti yang masih sangat diperdebatkan.
MoU ini dirancang sebagai kerangka kerja berbasis kinerja. Alih-alih memberikan pertukaran konsesi di muka, posisi AS mengaitkan keringanan sanksi dan pencairan aset keuangan secara langsung dengan tindakan Iran yang dapat diverifikasi di lapangan . Komponen inti kesepakatan yang telah disepakati secara publik meliputi:
Seorang pejabat senior pemerintahan AS memberikan peluang 80% hingga 85% bagi kesepakatan ini untuk ditandatangani, tetapi memperingatkan bahwa kelompok garis keras Iran masih berupaya menggagalkan terobosan ini .
Titik pertikaian paling panas adalah waktu pemberian keringanan sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan. Kedua belah pihak beroperasi dengan asumsi yang secara fundamental tidak cocok.
Posisi Iran: Para negosiator Iran, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, telah secara eksplisit menyatakan: setidaknya 50% dari aset luar negeri Iran yang dibekukan—batas bawahnya adalah $12 miliar (setara sekitar Rp192 triliun)—harus segera dicairkan begitu MoU ditandatangani . Sisa dana, bagian dari total angka yang diklaim Teheran sebesar $24 miliar (setara sekitar Rp384 triliun), harus dibebaskan dalam waktu 60 hari
. Tuntutan ini bukanlah taktik negosiasi, melainkan prasyarat yang tidak bisa ditawar dari sudut pandang Teheran
.
Posisi AS: Washington dengan tegas menolak gagasan pencairan dana di muka. Pejabat AS bersikeras bahwa keringanan sanksi, termasuk akses ke aset yang dibekukan, akan disusun secara bertahap berdasarkan kepatuhan Iran yang telah diverifikasi . Seorang pejabat senior pemerintahan menyatakan dengan jelas, "Iran tidak menerima uang tunai apa pun, dan tidak ada keringanan sanksi di muka yang ditawarkan"
. AS telah menyarankan mekanisme kemanusiaan, yang mungkin dikelola dengan bantuan Qatar, dapat memungkinkan Iran mengakses sejumlah dana untuk pembelian yang tidak terkena sanksi, tetapi ini masih jauh dari tuntutan Teheran
.
Di luar pertarungan aset, para pejabat AS dan Iran secara publik menggambarkan dua kesepakatan yang berbeda, menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan.
Bahkan jika kompromi soal aset dapat ditemukan, masalah terpisah yang tampaknya sulit diatasi menghalangi jalan menuju penandatanganan. Iran telah menyatakan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat yang tidak bisa ditawar untuk menyelesaikan kesepakatan apa pun dengan AS .
Syarat ini saat ini belum terpenuhi. Pada 4 Juni, pemimpin Hizbullah Naim Qassem secara resmi menolak perjanjian gencatan senjata yang ditengahi AS antara Israel dan Lebanon, menyebut kesepakatan itu sepihak dan mengharuskan para pejuangnya untuk menyerah . Dia menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon
. Penolakan itu segera meruntuhkan gencatan senjata yang rapuh, dengan pecahnya kembali permusuhan antara pasukan Israel dan Hizbullah
.
Ini secara langsung melemahkan kemampuan Iran untuk memenuhi prasyaratnya dan membuat MoU AS-Iran menggantung. Selama front Lebanon tetap aktif, Iran dapat menggunakannya untuk mengulur waktu, sembari menghadapi risiko terseret langsung ke dalam konflik yang lebih luas .
Proses ini telah dijaga tetap berjalan oleh tim mediasi aktif dari dua negara.
Kementerian Luar Negeri Iran telah secara publik mengakui mediasi kedua negara, bahkan sambil menuduh Washington melakukan tindakan yang merusak proses diplomatik . Diplomasi ulang-alik yang intens ini telah menempatkan beban geopolitik yang sangat besar di pundak Islamabad dan Doha, yang keberhasilannya dapat berujung pada Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi kegagalannya bisa menjadi bencana besar.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Per 13 Juni 2026, AS dan Iran telah menyepakati naskah final Nota Kesepahaman (MoU) 60 hari, namun masa depan kesepakatan ini terancam oleh perselisihan sengit soal pencairan segera aset Iran yang dibekukan, yang nila...
Per 13 Juni 2026, AS dan Iran telah menyepakati naskah final Nota Kesepahaman (MoU) 60 hari, namun masa depan kesepakatan ini terancam oleh perselisihan sengit soal pencairan segera aset Iran yang dibekukan, yang nila... Iran menuntut setidaknya Rp192 triliun asetnya dicairkan segera setelah penandatanganan, sementara AS bersikeras bahwa keringanan sanksi harus diberikan secara bertahap berdasarkan kepatuhan Iran yang terverifikasi.
Kesepakatan yang diharapkan ditandatangani oleh Wapres AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran ini secara sempit berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata, dengan tegas mengecualikan p...