Jawabannya sederhana: mereka sudah lama 'puasa' IPO besar. Sejak SoftBank Corp. melantai di bursa pada 2018, Jepang belum pernah lagi melihat penawaran saham perdana sebesar ini . Padahal, dana menganggur rumah tangga Jepang mencapai $15 triliun. Bayangkan, duit sebanyak itu mencari pelarian dari deposito berbunga rendah, dan tiba-tiba muncul ikon global seperti SpaceX.
SpaceX bukan sekadar perusahaan roket biasa. Dengan Elon Musk di balik kemudi, ditambah proyek ambisius seperti Starlink (internet satelit) dan Starship, perusahaan ini menjadi 'aset trofi' yang langka dan bisa diakses langsung oleh investor Jepang lewat broker lokal seperti Mizuho, Rakuten, dan SBI . Biasanya, ritel Jepang hanya bisa berinvestasi tidak langsung lewat ETF yang terdaftar di bursa AS. Kali ini, mereka mendapat akses langsung (direct access), dan itu barang langka
.
IPO SpaceX mencatat sejarah. Dengan harga $135 per saham, perusahaan ini mengantongi valuasi pasar mencapai $1,77 triliun (sekitar Rp28.000 triliun), langsung masuk jajaran raksasa seperti Apple dan Microsoft . Total dana yang dihimpun mencapai $75 miliar, menggandakan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Saudi Aramco ($29,4 miliar pada 2019)
.
Tapi yang bikin geleng-geleng kepala adalah tingkat kelebihan permintaan (oversubscription). Secara global, permintaan investor mencapai lebih dari 4 kali lipat dari saham yang tersedia . Nilai total permintaan sempat menyentuh $250 miliar, atau lebih dari tiga kali target yang ingin dihimpun
. Order book ditutup pada 10 Juni 2026 pukul 4 sore waktu New York
.
Besar-besaran IPO ini sampai memaksa penyedia indeks global mengubah aturan mainnya. FTSE Russell memberlakukan aturan "Fast Entry" pada 26 Mei 2026. Aturan ini memungkinkan IPO berkapitalisasi pasar jumbo untuk masuk ke indeks Russell AS hanya dalam 5 hari perdagangan, bukan lagi menunggu peninjauan kuartalan seperti biasanya . Aturan ini bahkan melonggarkan syarat free float dan hak suara minimum untuk mengakomodasi skema lock-up
.
Langkah ini jelas-jelas 'menjemput bola' menjelang debut SpaceX. MSCI juga mengonfirmasi akan menerapkan aturan serupa untuk memasukkan SpaceX ke indeks globalnya hanya dalam 10 hari perdagangan setelah listing . Dengan masuknya SpaceX ke indeks-indeks utama, dana pensiun dan reksa dana indeks (index fund) secara otomatis akan memborong sahamnya, memicu apa yang disebut "forced buying"
.
Biasanya, investor ritel Jepang dikenal konservatif dan betah bermain di pasar domestik. Namun, euforia SpaceX kali ini menunjukkan selera baru: mereka berani menjangkau langsung IPO mega-kap AS . Ini dimungkinkan karena saluran distribusi via broker online Jepang semakin matang, memudahkan investor individu ikut serta dalam penawaran primer di luar negeri
.
Jadi, meskipun porsi Jepang 'hanya' $2,2 miliar, partisipasi ini tetap menjadi sinyal penting bahwa uang dingin rumah tangga Jepang mulai bergerak agresif ke aset teknologi global ketika ada kesempatan langka.
Comments
0 comments