| Prekursor ozon troposferik; memengaruhi kadar metana |
| Sekitar 9 ± 2% |
| Hidrogen molekuler (H₂) | Dapat memengaruhi metana dan ozon, namun kuantifikasinya masih terbatas dalam studi terkini [10, 13] | Perlu penelitian lebih lanjut |
Menurut kajian NASA, peningkatan emisi gas-gas ini sejak era pra-industri telah menghasilkan radiative forcing (ukuran pengaruh pemanasan) dari ozon troposferik sebesar sekitar 410 mW/m² . Angka ini setara dengan sekitar 0,35 W/m² yang diestimasi IPCC [12, 24].
Untuk memahami mekanismenya, bayangkan atmosfer sebagai laboratorium kimia raksasa. CO, NOₓ, dan NMVOC adalah katalis yang memicu reaksi berantai:
Studi Science yang baru tersebut memperkirakan bahwa kontribusi pemanasan gabungan dari gas-gas ini mencapai sekitar 0,3°C dari total pemanasan yang terjadi . Sebagai perbandingan, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) AR6 mengestimasi kontribusi historis metana sebesar 0,5°C dan CO₂ sebesar 0,8°C [1, 7]. Ini berarti gas tidak langsung mewakili porsi pemanasan yang hampir sebanding dengan sepertiga kontribusi CO₂, sebuah angka yang terlalu signifikan untuk diabaikan.
Paradoksnya, gas-gas ini justru tidak diatur sebagai gas rumah kaca dalam kerangka kerja iklim internasional utama.
Protokol Kyoto dan Perjanjian Paris terutama menargetkan gas rumah kaca langsung yang berumur panjang, seperti CO₂, metana (CH₄), nitrous oksida (N₂O), dan gas berfluorinasi (F-gas) [2, 20]. Perjanjian Paris berfokus pada upaya membatasi kenaikan suhu global hingga di bawah 2°C, dan mengejar upaya untuk 1,5°C [2, 19].
Mengapa gas tidak langsung terlewat? Ada beberapa faktor yang mungkin berperan:
Akibatnya, upaya global untuk menekan emisi ini masih jauh dari memadai. Seperti yang dicatat oleh studi terbaru, polutan ini "sebagian besar absen dari kerangka kebijakan iklim global" . Defra Inggris, misalnya, melaporkan emisi ini dalam inventaris nasionalnya karena dampak pemanasannya, tetapi mereka tidak menjadi target pemotongan dalam rezim iklim PBB
.
Meskipun terabaikan secara kebijakan, argumen untuk mengurangi emisi gas tidak langsung sangat kuat dan menawarkan keuntungan ganda:
Para ilmuwan di balik studi ini menekankan bahwa "mengintegrasikan gas rumah kaca tidak langsung ke dalam kerangka kebijakan iklim merupakan peluang mitigasi yang kritis dan sejauh ini terlewatkan" untuk memerangi krisis iklim [14, 16].
Meskipun ada ketidakpastian ilmiah dalam penghitungannya [6, 31], satu hal menjadi jelas: kita tidak bisa lagi mengabaikan polutan yang diam-diam bertanggung jawab atas 15% dari krisis pemanasan kita. Menutup blind spot ini bukan sekadar kebutuhan iklim, tetapi juga langkah konkret menuju masa depan yang lebih sehat.
Comments
0 comments