Kedekatan ini menuai kritik tajam. Kelompok hak asasi manusia FairSquare mengajukan pengaduan etika resmi yang menyatakan Infantino telah melanggar persyaratan netralitas politik FIFA . Dalam konferensi pers pra-turnamen pada 10 Juni 2026, Infantino membela aliansi ini, mengklaim bahwa Piala Dunia tidak akan mungkin terselenggara tanpa keterlibatan langsung Trump . Le Monde menggambarkan Infantino sebagai 'bawahan yang patuh' yang menyelaraskan FIFA dengan pemerintahan Trump daripada menjaga independensi olahraga .
Beberapa hari sebelum pertandingan pembuka, wasit asal Somalia, Omar Artan (34), tiba di Bandara Internasional Miami untuk mengikuti seminar pra-turnamen yang wajib dihadiri. Meskipun memiliki visa AS yang sah dan paspor diplomatik, ia ditahan dan ditolak masuk oleh Customs and Border Protection dengan alasan 'masalah pemeriksaan' yang tidak disebutkan . Ia diterbangkan ke Istanbul dan dikeluarkan dari turnamen . Artan dijadwalkan menjadi wasit Somalia pertama di Piala Dunia putra, sebuah mimpi yang menurut pengakuannya kepada The New York Times telah 'hancur' .
Ketika ditanya tentang insiden ini dalam konferensi pers 10 Juni di Mexico City, respons Infantino mengejutkan para kritikus. Ia mendesak publik untuk 'chill and relax' dengan menyatakan, 'Kita harus menghormati bahwa kita bukanlah raja dunia' dan FIFA tidak bisa mendikte aturan visa kepada pemerintah . Komentar ini langsung dianggap tidak peka; BBC Sport berargumen bahwa Infantino memiliki kesempatan jelas untuk 'membela Piala Dunia' dan melindungi ofisialnya sendiri, tetapi memilih sikap pasif .
Sebagai bentuk konsolasi profesional, UEFA kemudian menunjuk Artan untuk memimpin final Piala Super UEFA pada bulan Agustus .
Kasus Artan adalah yang paling menonjol, tetapi bukan satu-satunya. Sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, pemerintahannya memberlakukan larangan perjalanan yang menargetkan negara-negara termasuk Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti—semuanya lolos ke turnamen yang diperluas . Dampaknya sangat parah:
Tokoh-tokoh terkenal tidak segan-segan mengkritik baik Infantino maupun arah turnamen.
Gary Lineker, mantan striker dan penyiar Inggris, menyebut dinamika Trump-Infantino 'sangat aneh, sangat ganjil' dan bercanda bahwa presiden FIFA sekarang harus dipanggil 'Sycophant-ino' . Ia menyoroti absurditas negara tuan rumah yang 'berperang dengan salah satu negara peserta' dan secara terbuka bertanya-tanya apakah harga tiket sengaja dirancang untuk 'membuat orang tidak mampu' hadir .
Profesor Jules Boykoff dari Pacific University, penulis buku Red Card: The 2026 World Cup, Sportswashing, and the FIFA Greed Machine, menawarkan kritik yang lebih struktural. Ia berpendapat bahwa turnamen ini mewakili 'titik terendah baru' bagi olahraga ini, menunjukkan bagaimana Trump melakukan 'sportswashing' modern sementara Infantino bertindak sebagai 'akomplis utamanya', menggunakan Amerika Serikat sebagai 'pompa uang pribadi FIFA' .
Akses finansial juga menjadi titik api. Beberapa pertandingan yang paling diminati melihat harga tiket melebihi 1.000 dolar AS per kursi (sekitar Rp 16 juta) . Bahkan Trump sendiri mengkritik biaya tersebut, dilaporkan mengatakan kepada New York Post bahwa dia tidak akan membayar sebanyak itu untuk sebuah pertandingan . Ditambah dengan pembatasan visa, harga yang tinggi ini berkontribusi pada sentimen yang meluas bahwa Piala Dunia dibangun untuk para VIP dan kepentingan korporat, bukan untuk penggemar biasa .
Piala Dunia 2026 dimaksudkan untuk menjadi bersejarah—yang pertama menampilkan 48 tim dan yang pertama diadakan oleh tiga negara di seluruh benua. Namun, saat pertandingan dimulai pada 11 Juni di Mexico City, badan pengatur olahraga ini mendapati dirinya membela tidak hanya persiapan turnamennya tetapi juga jiwa politiknya. Dengan 'hadiah perdamaian' yang diejek, wasit yang dideportasi, dan penggemar yang terkunci di luar, 'olahraga yang indah' jarang terlihat begitu ternoda oleh politik yang mengelilinginya.
Kedekatan ini menuai kritik tajam. Kelompok hak asasi manusia FairSquare mengajukan pengaduan etika resmi yang menyatakan Infantino telah melanggar persyaratan netralitas politik FIFA . Dalam konferensi pers pra-turnamen pada 10 Juni 2026, Infantino membela aliansi ini, mengklaim bahwa Piala Dunia tidak akan mungkin terselenggara tanpa keterlibatan langsung Trump . Le Monde menggambarkan Infantino sebagai 'bawahan yang patuh' yang menyelaraskan FIFA dengan pemerintahan Trump daripada menjaga independensi olahraga .
Beberapa hari sebelum pertandingan pembuka, wasit asal Somalia, Omar Artan (34), tiba di Bandara Internasional Miami untuk mengikuti seminar pra-turnamen yang wajib dihadiri. Meskipun memiliki visa AS yang sah dan paspor diplomatik, ia ditahan dan ditolak masuk oleh Customs and Border Protection dengan alasan 'masalah pemeriksaan' yang tidak disebutkan . Ia diterbangkan ke Istanbul dan dikeluarkan dari turnamen . Artan dijadwalkan menjadi wasit Somalia pertama di Piala Dunia putra, sebuah mimpi yang menurut pengakuannya kepada The New York Times telah 'hancur' .
Ketika ditanya tentang insiden ini dalam konferensi pers 10 Juni di Mexico City, respons Infantino mengejutkan para kritikus. Ia mendesak publik untuk 'chill and relax' dengan menyatakan, 'Kita harus menghormati bahwa kita bukanlah raja dunia' dan FIFA tidak bisa mendikte aturan visa kepada pemerintah . Komentar ini langsung dianggap tidak peka; BBC Sport berargumen bahwa Infantino memiliki kesempatan jelas untuk 'membela Piala Dunia' dan melindungi ofisialnya sendiri, tetapi memilih sikap pasif .
Sebagai bentuk konsolasi profesional, UEFA kemudian menunjuk Artan untuk memimpin final Piala Super UEFA pada bulan Agustus .
Kasus Artan adalah yang paling menonjol, tetapi bukan satu-satunya. Sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, pemerintahannya memberlakukan larangan perjalanan yang menargetkan negara-negara termasuk Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti—semuanya lolos ke turnamen yang diperluas . Dampaknya sangat parah:
Tokoh-tokoh terkenal tidak segan-segan mengkritik baik Infantino maupun arah turnamen.
Gary Lineker, mantan striker dan penyiar Inggris, menyebut dinamika Trump-Infantino 'sangat aneh, sangat ganjil' dan bercanda bahwa presiden FIFA sekarang harus dipanggil 'Sycophant-ino' . Ia menyoroti absurditas negara tuan rumah yang 'berperang dengan salah satu negara peserta' dan secara terbuka bertanya-tanya apakah harga tiket sengaja dirancang untuk 'membuat orang tidak mampu' hadir .
Profesor Jules Boykoff dari Pacific University, penulis buku Red Card: The 2026 World Cup, Sportswashing, and the FIFA Greed Machine, menawarkan kritik yang lebih struktural. Ia berpendapat bahwa turnamen ini mewakili 'titik terendah baru' bagi olahraga ini, menunjukkan bagaimana Trump melakukan 'sportswashing' modern sementara Infantino bertindak sebagai 'akomplis utamanya', menggunakan Amerika Serikat sebagai 'pompa uang pribadi FIFA' .
Akses finansial juga menjadi titik api. Beberapa pertandingan yang paling diminati melihat harga tiket melebihi 1.000 dolar AS per kursi (sekitar Rp 16 juta) . Bahkan Trump sendiri mengkritik biaya tersebut, dilaporkan mengatakan kepada New York Post bahwa dia tidak akan membayar sebanyak itu untuk sebuah pertandingan . Ditambah dengan pembatasan visa, harga yang tinggi ini berkontribusi pada sentimen yang meluas bahwa Piala Dunia dibangun untuk para VIP dan kepentingan korporat, bukan untuk penggemar biasa .
Piala Dunia 2026 dimaksudkan untuk menjadi bersejarah—yang pertama menampilkan 48 tim dan yang pertama diadakan oleh tiga negara di seluruh benua. Namun, saat pertandingan dimulai pada 11 Juni di Mexico City, badan pengatur olahraga ini mendapati dirinya membela tidak hanya persiapan turnamennya tetapi juga jiwa politiknya. Dengan 'hadiah perdamaian' yang diejek, wasit yang dideportasi, dan penggemar yang terkunci di luar, 'olahraga yang indah' jarang terlihat begitu ternoda oleh politik yang mengelilinginya.