Penahanan personel PBB oleh otoritas de facto Houthi di Yaman telah berubah menjadi krisis penyanderaan terbesar dalam sejarah modern Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hingga Juni 2026, dua tahun setelah gelombang penangkapan massal pertama, sebanyak 73 staf PBB masih ditahan. Respons PBB diwarnai dengan kecaman berulang, penangguhan operasi, dan tekanan diplomatik berkelanjutan—sementara pihak Houthi justru meningkatkan eskalasi dengan tuduhan spionase, pengadilan tiruan, dan setidaknya satu kematian dalam tahanan.
Kronologi Penangkapan Massal Sejak Juni 2024
- 6–7 Juni 2024 — Pihak Houthi melancarkan gelombang penangkapan massal, meringkus puluhan staf PBB, LSM, dan masyarakat sipil di wilayah kendali mereka, termasuk enam staf hak asasi manusia PBB
![]()
.
- 13 Juni 2024 — Setidaknya 13 personel PBB dipastikan ditahan, dengan 4 lainnya ditahan tanpa bisa dihubungi (inkomunikado)
. Sekretaris Jenderal PBB mengutuk penangkapan itu dan menuntut pembebasan segera
.
- 23–25 Januari 2025 — Tujuh personel PBB tambahan ditahan secara sewenang-wenang di Sanaa . Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengutuk aksi ini sebagai eskalasi .
Comments
0 comments