Tren ini bukan hanya terjadi pada mobil baru. Permintaan mobil listrik bekas juga meroket. Platform jual beli mobil daring di Inggris, Jerman, Prancis, dan Spanyol melaporkan lonjakan drastis pencarian dan pembelian EV bekas . Bahkan, pengecer Prancis Aramisauto mencatat peningkatan pangsa penjualan EV mereka nyaris dua kali lipat dalam tiga minggu pasca-konflik, dari 6,5% menjadi 12,7%, sementara penjualan mobil bensin dan diesel menurun
.
Skala ledakan permintaan ini sangat luas. Data eksklusif Reuters menunjukkan bahwa penjualan EV baru menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di 37 negara pada Maret 2026 . Memasuki April 2026, pertumbuhan tahun-ke-tahun masih sangat kuat di angka 34%
.
Di tengah tsunami permintaan ini, pabrikan Prancis, Renault, menjadi salah satu yang paling diuntungkan. CEO Grup Renault, François Provost, dalam wawancaranya dengan Reuters mengungkapkan data mencengangkan: buku pesanan kendaraan listrik mereka di Prancis dan Jerman membengkak hingga 50% sejak perang Iran dimulai .
"Harga bahan bakar yang tinggi telah memicu minat pada kendaraan listrik," ujar Provost, seraya mengakui bahwa laju permintaan kini melampaui kapasitas produksi mereka yang ada . Untuk mengantisipasi hal ini, Renault tidak tinggal diam.
Strategi jangka pendek: Tambah shift produksi.
Meski Provost menegaskan bahwa tidak ada masalah dalam pasokan baterai, perusahaan harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi permintaan. Renault berencana menambah shift produksi di pabrik-pabrik andalannya, termasuk di kompleks Renault ElectriCity di Douai, Prancis utara . Pabrik Douai sendiri bukan fasilitas sembarangan; tempat ini sanggup memproduksi 900 unit mobil listrik per hari dan telah merakit 100.000 unit hatchback listrik andalan mereka, Renault 5 E-Tech, hanya dalam 15 bulan
.
Bintang Baru: Renault 5 E-Tech.
Kisah sukses Renault tak lepas dari model retro-modern ini. Di Prancis, Renault 5 E-Tech adalah mobil listrik terlaris sepanjang tahun 2025 dengan 37.997 unit, mengalahkan raksasa Tesla Model Y yang hanya terjual 19.207 unit . Mobil ini menjadi juara tak terbantahkan, mendominasi puncak penjualan di 5 dari 6 bulan terakhir tahun 2025
.
Provost sadar bahwa 'berkah' dari harga minyak mahal ini bisa bersifat sementara. Ia mengakui bahwa permintaan mungkin akan melandai jika konflik Iran berakhir dan harga BBM kembali stabil, namun ia yakin transisi struktural ke EV akan terus berlanjut .
Untuk menjaga momentum dan menjangkau pasar massal, Provost memiliki dua agenda utama:
1. Dorongan untuk Baterai LFP yang Lebih Murah.
Provost tengah mendorong penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) berbiaya lebih rendah dari Envision AESC. Gigafactory Envision di Douai (yang kini berkapasitas 9 GWh dan berencana ekspansi hingga 30 GWh) menjadi kunci untuk memproduksi mobil listrik yang lebih terjangkau . Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga harga jual EV tetap kompetitif, terutama jika subsidi mulai dikurangi.
2. Seruan Aturan Konten Lokal untuk Produsen China.
Di panggung politik, Provost lantang menyuarakan agar Uni Eropa memperketat aturan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Ia meminta UE mewajibkan pabrikan mobil China tidak hanya merakit mobil di Eropa, tetapi juga membeli komponen dari pemasok lokal . Hal ini sejalan dengan rancangan Industrial Accelerator Act UE yang kontroversial, yang mewajibkan 70% komponen kendaraan listrik bersumber dari dalam UE (tidak termasuk baterai) agar memenuhi syarat subsidi
. Renault sendiri mengklaim sekitar 80% pemasok untuk Renault 5 sudah berlokasi dalam radius 300 km dari pabrik
.
Comments
0 comments