Analis di Kitco dan Saxo Bank menyebut aksi jual ini sebagai pelepasan tak terelakkan dari pasar yang terlalu panas. Emas sempat naik hampir 20% dan perak lebih dari 40% di awal bulan, dengan posisi, leverage, dan aktivitas opsi mencapai level “khas puncak jangka pendek,” kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank . The Guardian melaporkan bahwa pemicu langsungnya adalah pencalonan mantan Gubernur Fed Kevin Warsh oleh Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua Federal Reserve — sosok hawkish yang memaksa pelaku pasar menilai ulang secara radikal prospek suku bunga
.
Kalau kehancuran Januari adalah pelepasan spekulatif, aksi jual Maret–April adalah sesuatu yang jauh lebih ganjil: krisis geopolitik yang justru menjadi bumerang bagi emas. Ketika pasukan AS dan Israel menyerang fasilitas energi Iran di Maret 2026, skenario normal mengharuskan adanya pelarian ke aset aman. Yang terjadi sebaliknya: emas anjlok sekitar 25% dari rekor Januari di $5.595 ke titik rendah sekitar $4.100 . Hingga akhir Maret, emas mencatat bulan terburuk sejak 2008
.
The Middle East Insider merangkum momen ini dengan gamblang: “Saat perang dimulai, modal global memang bergegas ke tempat aman — tetapi bukan ke emas. Mereka lari ke obligasi pemerintah AS dan dolar AS” .
Mekanismenya kini terdokumentasi dengan baik oleh banyak lembaga. Konflik Iran melonjakkan harga minyak, yang menyulut ketakutan inflasi, mendorong imbal hasil obligasi AS (Treasury yield) lebih tinggi, dan memperkuat dolar AS . DBS Bank mengamati bahwa kenaikan harga energi dari gangguan Timur Tengah “mendorong ekspektasi inflasi, imbal hasil, dan dolar AS, sehingga menekan emas”
. BNP Paribas menjelaskan bahwa reli emas sebelumnya didorong oleh tren de-dolarisasi dan ekspektasi penurunan suku bunga — dua faktor yang kini berbalik arah, dengan investor kembali ke dolar AS
.
Morgan Stanley menerbitkan laporan berjudul “Status safe haven emas di bawah tekanan,” mencatat logam mulia ini “tersandung di tengah konflik Iran setelah mencetak kenaikan tahunan yang konsisten sejak 2021” . Amy Gower, Strategis Komoditas Logam & Pertambangan Morgan Stanley, mengatakan “Sensitivitas emas terhadap kebijakan moneter dan suku bunga riil telah mengalahkan respons tradisionalnya terhadap ketidakpastian geopolitik”
.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang 52% adanya kenaikan suku bunga Fed pada akhir 2026, sebuah pembalikan drastis dari ekspektasi pemangkasan sebelumnya . Indeks Dolar AS (DXY) melonjak di atas 100 seiring eskalasi konflik, memperkuat tekanan jual pada logam yang dihargai dalam dolar
. Seperti yang diungkapkan Bob Haberkorn, strategis pasar senior di RJO Futures, kepada Reuters: “Penurunan harga emas tampaknya berasal dari pergeseran menuju likuiditas — preferensi pada uang tunai. Kami menyaksikan penguatan dolar bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi”
.
Sepanjang 2026, perak secara konsisten mencatat penurunan persentase lebih besar ketimbang emas, mencerminkan peran gandanya sebagai logam moneter sekaligus logam industri. Aksi jual 2 Februari mengirim perak terperosok 14,2% . Pada pertengahan Februari, perak ambruk di bawah $73 selama jam perdagangan Asia
. Kemerosotan logam putih ini diperparah oleh sensitivitasnya terhadap sentimen penghindaran risiko dan kekeringan likuiditas, karena investor melepas aset dengan eksposur industri untuk menutup margin call di tempat lain.
Kejatuhan kilat (flash crash) pada 12 Februari menambah lapisan misteri. Kitco melaporkan bahwa “tidak ada alasan jelas” yang muncul untuk aksi jual cepat ini, menduga kemungkinan bank investasi besar atau hedge fund memutuskan untuk melepas posisi beli besar-besaran — atau mengambil posisi menjelang rilis data CPI yang mungkin panas . Forbes, melaporkan episode yang sama, mengutip Viktoria Kuszak dari Sucden Financial yang mengatakan penurunan ini “lebih didorong oleh aliran pasar daripada faktor fundamental”
.
Fokus jangka pendek tertuju pada data inflasi AS. Penurunan Selasa lalu secara eksplisit terkait dengan penempatan posisi menjelang angka CPI yang bisa menentukan atau menggagalkan narasi kenaikan suku bunga . Bila inflasi tercetak lebih panas dari perkiraan, tekanan pada emas dan perak akan kian kuat karena pelaku pasar memperhitungkan pengetatan Fed yang lebih agresif.
Di luar data, arah konflik Iran tetap menjadi kartu liar. Setiap eskalasi yang mengganggu lebih jauh pasokan minyak akan memperkuat lingkaran paradoks ini — minyak melonjak, imbal hasil naik, dolar menguat, dan emas tertekan. Analis di TradingKey mencatat bahwa logika harga emas telah mengalami “pergeseran kunci” dari permintaan safe haven ke likuiditas dan suku bunga riil, dan bahwa tingginya biaya peluang (opportunity costs) menghalangi investasi di aset tanpa imbal hasil ketika suku bunga riil tinggi .
Morningstar merangkum paradoks ini dengan tajam: “Inflasi energi yang didorong oleh minyak justru memperkuat dolar AS dan suku bunga, yang merupakan hambatan finansial bagi emas” . Bagi para investor yang terbiasa melihat emas melesat di masa krisis, 2026 adalah pelajaran brutal tentang retaknya korelasi historis — dan tampaknya pelajaran ini belum berakhir.
Comments
0 comments