Berikut adalah rincian bagaimana setiap faktor berkontribusi pada aksi jual tersebut:
Pada 8 Juni, Iran secara resmi mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel . Pengumuman ini segera memangkas lonjakan harga minyak yang terjadi semalam, karena pasar menganggap risiko gangguan pasokan di Timur Tengah telah mereda. Sebelumnya, beberapa putaran negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran telah berhasil menurunkan harga minyak mentah sekitar 20% dari puncaknya di tahun 2026 . Premi risiko perang yang sempat menggelembungkan harga perlahan mengempis.
Di hari yang sama, 8 Juni, raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, mengejutkan pasar dengan memangkas Harga Jual Resmi (Official Selling Price/OSP) untuk minyak mentah Arab Light bagi pembeli di Asia sebesar $6 per barel (sekitar Rp90.000-an, dengan asumsi kurs Rp15.000) untuk pengiriman Juli. Ini adalah pemotongan bulanan terdalam sejak tahun 2022, membuat preminya menyusut menjadi $9,50 per barel di atas patokan Dubai/Oman . Diskon agresif ini merupakan sinyal langsung bahwa permintaan dari Asia, pasar terbesar kerajaan, sedang melunak .
Sehari sebelumnya, pada 7 Juni, tujuh negara OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia sepakat untuk menaikkan kuota produksi mereka sebanyak 188.000 barel per hari (bph) untuk bulan Juli, menandai kenaikan bulanan keempat berturut-turut . Dengan tambahan ini, total pembatalan pemotongan sukarela secara kumulatif kini mencapai sekitar 788.000 bph. Langkah ini memperkuat narasi peningkatan pasokan di saat permintaan menunjukkan pelemahan .
Impor minyak mentah China, sebagai konsumen terbesar dunia, telah mengalami penurunan tajam. Hal ini menjadi faktor kunci yang mencegah harga minyak bertahan di atas $100 per barel . Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi China menambah tekanan pada sektor energi. Di saat yang sama, sentimen "risk-off" yang lebih luas di pasar ekuitas Asia, yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan aksi jual di saham-saham teknologi, turut menyeret kinerja sektor ini .
Kombinasi faktor-faktor di atas menghantam harga minyak secara brutal. Harga minyak mentah Brent, yang sempat melambung di atas $107 per barel pada awal April akibat ketegangan perang, kini anjlok ke sekitar $92 per barel pada 9 Juni . Secara ringkas, gencatan senjata menghilangkan premi risiko gangguan pasokan langsung, diskon Arab Saudi mengonfirmasi melemahnya permintaan Asia, dan kenaikan kuota OPEC+ yang stabil memberi sinyal bahwa aliansi tersebut tidak melihat kebutuhan untuk menahan pasokan. Semua ini secara kolektif meruntuhkan premi risiko yang sempat menggelembungkan harga selama konflik.
Berikut adalah rincian bagaimana setiap faktor berkontribusi pada aksi jual tersebut:
Pada 8 Juni, Iran secara resmi mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel . Pengumuman ini segera memangkas lonjakan harga minyak yang terjadi semalam, karena pasar menganggap risiko gangguan pasokan di Timur Tengah telah mereda. Sebelumnya, beberapa putaran negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran telah berhasil menurunkan harga minyak mentah sekitar 20% dari puncaknya di tahun 2026 . Premi risiko perang yang sempat menggelembungkan harga perlahan mengempis.
Di hari yang sama, 8 Juni, raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, mengejutkan pasar dengan memangkas Harga Jual Resmi (Official Selling Price/OSP) untuk minyak mentah Arab Light bagi pembeli di Asia sebesar $6 per barel (sekitar Rp90.000-an, dengan asumsi kurs Rp15.000) untuk pengiriman Juli. Ini adalah pemotongan bulanan terdalam sejak tahun 2022, membuat preminya menyusut menjadi $9,50 per barel di atas patokan Dubai/Oman . Diskon agresif ini merupakan sinyal langsung bahwa permintaan dari Asia, pasar terbesar kerajaan, sedang melunak .
Sehari sebelumnya, pada 7 Juni, tujuh negara OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia sepakat untuk menaikkan kuota produksi mereka sebanyak 188.000 barel per hari (bph) untuk bulan Juli, menandai kenaikan bulanan keempat berturut-turut . Dengan tambahan ini, total pembatalan pemotongan sukarela secara kumulatif kini mencapai sekitar 788.000 bph. Langkah ini memperkuat narasi peningkatan pasokan di saat permintaan menunjukkan pelemahan .
Impor minyak mentah China, sebagai konsumen terbesar dunia, telah mengalami penurunan tajam. Hal ini menjadi faktor kunci yang mencegah harga minyak bertahan di atas $100 per barel . Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi China menambah tekanan pada sektor energi. Di saat yang sama, sentimen "risk-off" yang lebih luas di pasar ekuitas Asia, yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan aksi jual di saham-saham teknologi, turut menyeret kinerja sektor ini .
Kombinasi faktor-faktor di atas menghantam harga minyak secara brutal. Harga minyak mentah Brent, yang sempat melambung di atas $107 per barel pada awal April akibat ketegangan perang, kini anjlok ke sekitar $92 per barel pada 9 Juni . Secara ringkas, gencatan senjata menghilangkan premi risiko gangguan pasokan langsung, diskon Arab Saudi mengonfirmasi melemahnya permintaan Asia, dan kenaikan kuota OPEC+ yang stabil memberi sinyal bahwa aliansi tersebut tidak melihat kebutuhan untuk menahan pasokan. Semua ini secara kolektif meruntuhkan premi risiko yang sempat menggelembungkan harga selama konflik.