Di siklus sebelumnya, ETF Bitcoin spot menjadi pahlawan. Kini, mereka berubah menjadi mimpi buruk. Instrumen investasi yang tadinya rajin mengakumulasi Bitcoin ini justru mengalami arus keluar selama 11 hingga 12 hari berturut-turut. Total nilai yang ditarik investor mencapai angka fantastis, yaitu $3,0 hingga $3,5 miliar di awal Juni .
Puncaknya terjadi pada 2 Juni, ketika ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar bersih harian sebesar $519 juta . BlackRock, raksasa investasi global, memimpin eksodus ini dengan arus keluar $2,58 miliar dari ETF IBIT miliknya
. Alih-alih memanfaatkan harga murah untuk berburu koin (dip-buying), para investor institusional memilih untuk terus menjual kepemilikan mereka. Lapisan pendukung yang biasanya meredam kejatuhan kini lenyap. Total aset bersih di seluruh ETF Bitcoin spot AS ambruk menjadi $85 miliar, turun drastis dari puncak di atas $100 miliar pada awal tahun
.
Salah satu pahlawan terbesar Bitcoin, Michael Saylor, melalui perusahaannya Strategy (dulu MicroStrategy), melakukan manuver yang mengejutkan pasar. Untuk pertama kalinya sejak 2022, mereka menjual 32 BTC di minggu pertama Juni. Nilai transaksi ini memang mini, hanya 0,004% dari total kepemilikan Strategy yang mencapai lebih dari 843.000 BTC. Namun, sinyal yang dikirimkannya begitu dahsyat .
Aksi ini menghancurkan asumsi pasar bahwa Strategy adalah "pemegang abadi" yang tidak akan pernah menjual Bitcoin satu pun. Begitu berita ini tersiar, gelombang likuidasi posisi long (beli) langsung melanda pasar saat para pedagang bereaksi panik, menilai ulang risiko penjualan lebih lanjut dari institusi besar .
Seperti kurang lengkap penderitaan minggu itu, hantu masa lalu ikut bergabung. Trustee dari bursa kripto Mt. Gox yang telah bangkrut memindahkan 10.422 BTC (sekitar $739 juta) ke dompet baru pada 2 Juni. Ini adalah transfer terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan langsung menghidupkan kembali ketakutan lama: bahwa distribusi aset kepada para kreditor bisa membanjiri pasar .
Dalam waktu kurang dari satu jam setelah pergerakan on-chain ini terdeteksi, harga Bitcoin langsung anjlok dari $71.000 ke $69.950. Saat ini, Mt. Gox masih menggenggam sekitar 34.504 BTC senilai $2,43 miliar, dengan tenggat pembayaran final pada 31 Oktober 2026, membuat pasar terus dibayangi kelebihan pasokan .
Penurunan harga yang "tertib" dengan cepat berubah menjadi kaskade pembantaian akibat tingginya penggunaan leverage di pasar berjangka perpetual. Begitu harga menembus level support kunci, order stop-loss terpicu, yang memicu lebih banyak penjualan, yang memicu lebih banyak stop-loss lagi.
Hasilnya, aset kripto senilai lebih dari $1,5 miliar dilikuidasi di seluruh bursa dalam minggu itu. Hari paling brutal adalah 3 Juni, di mana likuidasi mencapai rekor harian $1,8 miliar—tertinggi sejak Februari 2026—dengan likuidasi posisi long menyumbang sekitar $1,35 miliar .
Biasanya, saat Bitcoin terguncang, sebagian modal akan berotasi ke altcoin. Namun, kali ini berbeda. Indeks Musim Altcoin berkisar antara 46–48 dari skala 100, jauh di bawah ambang 75 yang menandakan kinerja altcoin mengungguli Bitcoin . Dominasi Bitcoin tetap bercokol di sekitar 58%, artinya modal tidak berputar dari BTC ke altcoin, melainkan benar-benar keluar dari pasar kripto sepenuhnya
.
Sebagian besar altcoin menunjukkan pola teknikal bearish tanpa adanya pantulan yang berarti. Total kapitalisasi pasar altcoin (TOTAL2) bahkan sudah dalam tren menurun sejak akhir 2025 .
Fitur paling mencolok dari peristiwa ini adalah cerainya Bitcoin dari pasar saham AS. Sejak pertengahan Mei 2026, Bitcoin turun lebih dari 10%, sementara Indeks Nasdaq Composite justru naik 2,7% ke serangkaian rekor tertinggi baru . Indeks S&P 500 bahkan mencatatkan kenaikan harian selama sembilan hari berturut-turut pada 2 Juni—rentetan terkuat sejak Mei 2025—sementara sentimen kripto, yang diukur oleh Indeks Selera Risiko Block Scholes, melemah tajam
.
Apa yang terjadi? Menurut para pelaku pasar, ini adalah rotasi besar-besaran modal spekulatif dari kripto ke saham-saham teknologi, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Rally saham AI, dikombinasikan dengan preferensi institusional terhadap aset yang likuid dan teregulasi, menyedot dana dari aset digital persis di saat kripto paling membutuhkannya .
Ini adalah sebuah anomali dari korelasi historis di mana Bitcoin dan saham biasanya bergerak seirama. Divergensi kali ini adalah yang terlebar sejak krisis FTX di akhir 2022, dengan satu perbedaan krusial: perpecahan ini bukan dipicu oleh kegagalan sistemik di dunia kripto, melainkan oleh keputusan alokasi modal di tengah lingkungan "selera risiko tinggi" yang justru melewati kripto .
Pada akhirnya, minggu terburuk Bitcoin di tahun 2026 bukanlah krisis yang lahir dari rahim industri kripto sendiri. Ia adalah perpaduan sempurna antara pengetatan moneter global, hengkangnya investor institusional, kecemasan suplai, dan rotasi kapital yang membuat pasar kripto merana sendirian di tengah riuhnya pesta pasar saham.
Comments
0 comments