Kasus di Taipei ini menjadi puncak dari bukti yang terus menumpuk bahwa jaringan kriminal telah menemukan cara sistematis untuk mengakali kontrol ekspor. Pada Maret 2026, Departemen Kehakiman AS membuka dakwaan yang mendakwa tiga individu terkait Supermicro atas konspirasi menyelundupkan chip AI senilai $2,5 miliar ke pelanggan di Cina antara tahun 2022 dan 2024, menggunakan rute melalui Taiwan, Thailand, dan Hong Kong . Penyelidik Taiwan meyakini bahwa server yang telah mencapai laboratorium AI Cina jauh lebih banyak daripada yang berhasil disita
.
Pergeseran dari penegakan administratif ke penuntutan pidana adalah titik balik yang krusial. "Ini adalah penindakan formal pertama Taiwan terhadap pengiriman ilegal perangkat keras komputasi AI yang dibatasi," kata pernyataan dari Kantor Kejaksaan Distrik Keelung . Langkah ini menandakan Taipei kini memandang penyelundupan chip sebagai kejahatan keamanan nasional, bukan sekadar masalah kepatuhan perdagangan biasa.
Menyusul terbongkarnya praktik penyelundupan, Taiwan sedang menjajaki pembatasan yang lebih luas pada ekspor chip AI ke Cina. Langkah ini untuk menutup celah yang tersisa dengan regulasi AS . Aturan yang diusulkan itu akan memberi otoritas alat hukum yang lebih besar untuk mengelola ekspor teknologi sensitif, yang secara spesifik menyasar pengalihan perangkat keras canggih
.
Detail spesifik—seperti chip mana yang akan tercakup, ambang batas performa, atau jadwal implementasi—belum dirilis ke publik . Langkah ini diambil setelah AS mengecualikan Taiwan dari putaran terbaru pembatasan ekspor chip AI-nya. Washington secara eksplisit menyebut kontrol ketat yang sudah dimiliki pulau itu sebagai justifikasi
.
Pemerintah Taiwan menyambut pengecualian ini sebagai validasi atas pendekatan mereka. "Pengecualian Taiwan dari pembatasan baru AS pada ekspor chip dan teknologi AI seharusnya memberi keyakinan tentang kontrol Taipei sendiri dan penghormatan terhadap hukum," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan .
Pembatasan chip AI yang diusulkan ini hanyalah langkah terbaru dalam eskalasi yang berlangsung cepat selama setahun. Sejak pertengahan 2025, Taiwan secara fundamental telah mengubah postur kontrol ekspornya:
Juni 2025 — Memasukkan Huawei dan SMIC dalam Daftar Hitam: Taiwan menambahkan dua raksasa teknologi Cina ini ke daftar entitas Strategic High-Tech Commodities (SHTC). Perusahaan Taiwan kini wajib mendapatkan lisensi pemerintah sebelum mengekspor apa pun ke mereka . Para analis menyebut langkah ini sebagai "eskalasi penting" yang makin menyelaraskan kebijakan Taiwan dengan Amerika Serikat
.
Juni 2025 — Perluasan daftar hitam 601 entitas: Dalam pembaruan yang sama, Taiwan menambahkan 601 entitas asing ke daftar hitam perdagangannya, yang mayoritas berasal dari Cina, bersama dengan organisasi seperti al-Qaida dan Taliban . Perluasan ini menempatkan para pembuat chip Cina pada posisi hukum yang setara dengan perusahaan-perusahaan Rusia, Iran, dan Korea Utara yang terkena sanksi, yang mengharuskan persetujuan awal untuk ekspor apa pun
.
November 2025 — Kontrol peralatan canggih: Taiwan menambahkan 18 kategori ke dalam daftar kontrol ekspornya, mencakup printer 3D kelas atas, peralatan manufaktur semikonduktor canggih, dan komputer kuantum . Seorang pejabat pemerintah mengatakan pembaruan itu dikoordinasikan "bersama dengan sekutu kami" tetapi "tidak menargetkan negara tertentu"
.
September 2025 — Kontrol sepihak terhadap Afrika Selatan: Taipei sempat memberlakukan pembatasan ekspor semikonduktor ke Afrika Selatan terkait perselisihan pemindahan kantor perwakilan Taiwan. Ini menunjukkan kesediaan Taiwan untuk menggunakan pengaruh chip di luar Cina dan untuk tujuan non-teknologi .
Akhir 2024 — Penghentian TSMC: AS menuntut agar TSMC menghentikan pengiriman chip AI canggih ke Cina; Taiwan menurut .
Secara keseluruhan, langkah-langkah ini mencerminkan strategi yang disengaja untuk memosisikan Taiwan bukan hanya sebagai produsen yang patuh, melainkan sebagai penegak yang sangat diperlukan dalam rezim kontrol teknologi yang dipimpin AS.
Taiwan menyumbang lebih dari 60% pendapatan pengecoran semikonduktor global, dengan TSMC sendiri memproduksi sekitar 90% chip AI paling canggih di dunia yang dibangun pada proses di bawah 7nm. Pengetatan kontrol pulau ini atas siapa yang dapat mengakses chip tersebut memiliki konsekuensi besar yang berjenjang:
Pembatasan yang lebih ketat antara Taiwan dan Cina mempercepat terbentuknya dua ekosistem semikonduktor yang berbeda—satu kubu yang selaras dengan AS, satunya lagi dengan Cina—memaksa perusahaan untuk memilih pihak yang akan dilayani . AI Diffusion Framework dan Foundry Due Diligence Rule era Biden, yang menetapkan Taiwan sebagai mitra Tingkat 1, telah membatasi seberapa banyak produksi canggih dapat terjadi di luar negara-negara tepercaya
. Kontrol Taiwan sendiri kian memperdalam jurang pemisah itu.
Cina sangat bergantung pada peralatan, material, dan layanan desain chip buatan Taiwan, yang semuanya kini mulai dibatasi secara sistematis . Keputusan daftar hitam Taiwan secara langsung menyasar ambisi AI Huawei dan upaya SMIC untuk mengejar produksi chip canggih. Langkah ini bertujuan untuk memblokir akses Cina ke teknologi 7-nanometer dan di bawahnya
.
Seiring tertutupnya jalur legal, permintaan untuk perutean pasar gelap semakin meningkat. Jaringan yang terhubung dengan Supermicro menunjukkan sejauh mana pembeli akan berusaha . Para penyelundup mengembangkan rute transit yang semakin kompleks melalui Jepang, Thailand, dan Hong Kong, membuat penegakan hukum seperti permainan "pukul tikus" yang tak berkesudahan
.
Pengecualian Taiwan dari pembatasan ekspor AI AS terbaru mencerminkan kepercayaan mendalam Washington pada kontrol Taipei . Hal ini memperdalam kemitraan teknologi AS-Taiwan tetapi berisiko memicu pembalasan Cina yang lebih tajam—baik melalui perluasan kontrol ekspor logam tanah jarang, tekanan perdagangan, atau destabilisasi politik
.
Beijing telah menggunakan pengaruhnya sendiri, dengan memperluas kontrol ekspor pada galium, germanium, dan material penting lainnya yang dibutuhkan untuk produksi chip . Dinamika saling balas ini berarti bahwa setiap pembatasan Taiwan berisiko memicu respons eskalatif yang akan merembet ke seluruh jaringan pasokan global yang saling bergantung secara mendalam.
Para analis mencatat bahwa kontrol ekspor AS pada chip saja "tidak akan mencegah Cina untuk terus mengembangkan AI canggih" . Pertanyaannya bukanlah apakah Cina akan terus maju, tetapi dengan biaya berapa, pada kecepatan berapa, dan melalui saluran rahasia apa. Postur penegakan baru Taiwan berarti pulau itu akan menjadi pusat dalam menjawab pertanyaan itu selama bertahun-tahun ke depan.