Tentangan politik ini diamplifikasi oleh suara-suara kuat dari industri. BusinessEurope, pelobi bisnis terkemuka UE, menerbitkan kertas posisi pada 29 Mei 2026 yang menuntut transisi didorong "melalui insentif, bukan mandat" serta menyerukan netralitas teknologi penuh, alih-alih dorongan de facto ke kendaraan baterai-listrik .
Para produsen otomotif juga tak kalah vokal. Grup BMW merilis kertas kebijakan yang berargumen bahwa mandat ini "meleset dari sasaran" dan secara efektif akan melarang kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2030, tanpa peduli permintaan konsumen atau realitas pasar . Pada Desember 2025, BMW dan Toyota bergabung dalam koalisi 67 perusahaan penyewaan, persewaan, dan armada dalam sepucuk surat kepada Presiden Komisi Ursula von der Leyen, menyebut target pembelian wajib kendaraan listrik sebagai "sangat mahal dan kontraproduktif" [2, 14].
Serangkaian asosiasi industri yang lebih luas—termasuk AECC, IRU, CLEPA, dan FuelsEurope—juga menyuarakan dukungan pada pendekatan berbasis insentif, netral teknologi, serta pengecualian perusahaan leasing dan UKM dari cakupan regulasi .
Proses legislasi memasuki fase kritis:
Dewan harus mengadopsi regulasi itu melalui pemungutan suara mayoritas berkualifikasi: 55% negara anggota (15 dari 27) yang mewakili minimal 65% populasi UE. Minoritas penghalang bisa dibentuk hanya oleh empat negara yang mewakili 35% populasi. Koalisi sembilan negara, yang mencakup anggota besar seperti Polandia dan Italia, sudah melampaui ambang itu .
Artinya, Komisi tak punya jalan untuk mengesahkan aturan ini tanpa konsesi yang signifikan. Hasil yang paling mungkin adalah perubahan dari mandat nasional mengikat menuju kerangka kerja yang lebih fleksibel, yang menekankan insentif, dukungan infrastruktur, dan lini masa transisi yang lebih panjang. Tanpa perubahan semacam itu, regulasi ini mustahil mengamankan mayoritas yang dibutuhkan.
Comments
0 comments