Perang AS Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 picu krisis fiskal terparah Irak sejak 2003. Untuk bertahan, Irak hidupkan kembali jalur pipa Kirkuk–Ceyhan via Turki, kirim minyak lewat truk ke Suriah, dan setujui proyek jangka panjang pipa Basra–Haditha senilai $4,6 miliar demi lewati Selat Hormuz [17][21][25].

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What financial crisis is Iraq facing due to the U.S.-Israeli war with Iran, including the collapse in its oil exports and revenues through t. Article summary: Iraq is in the grip of its worst fiscal crisis since 2003, triggered by the U.S.-Israeli war with Iran that began on February 28, 2026. Iran's effective blockade of the Strait of Hormuz has slashed Iraq's oil exports — w. Topic tags: general, government, general web, user generated, education. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# Financial ‘catastrophe’ awaits Iraq if Iran war continues: FM. Image of Financial ‘catastrophe’ awaits Iraq if Iran war continues: FM. Iraq's oil exports went down from around 10" source context "Financial 'catastrophe' awaits Iraq if Iran war continues: FM" Reference image 2: visual subj
Irak sedang mengalami keruntuhan finansial paling parah sejak jatuhnya Saddam Hussein, dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Blokade efektif Iran di Selat Hormuz telah menutup jalur ekspor utama Irak, memotong pendapatan minyak—yang membiayai 90% anggaran pemerintah—lebih dari 70% . Krisis uang tunai yang terjadi memaksa Baghdad melakukan pencetakan uang darurat, berebut mencari jalur ekspor alternatif, dan melahirkan seruan mendesak untuk akhirnya mendiversifikasi ekonomi dari minyak.
Sebelum perang, Irak mengekspor sekitar 3,5 juta barel per hari (bph), dan hampir semuanya melewati Selat Hormuz . Serangan balasan Iran terhadap serangan AS dan Israel termasuk menegaskan kendali atas selat itu, yang secara efektif menghentikan perdagangan minyak maritim Irak. Pada awal Maret, produksi minyak Irak telah merosot dari 4,3 juta bph menjadi sekitar 1,3 juta bph
.
Konsekuensi finansialnya langsung dan menghancurkan. Pendapatan minyak bulanan Irak anjlok dari $6,8 miliar pada bulan Februari menjadi sekitar $1 miliar . Dengan tagihan gaji dan pensiun pegawai negeri yang melebihi $6 miliar per bulan, pemerintah dihadapkan pada jurang defisit yang katastropik
.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan pasokan yang lebih luas ini sebagai "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," melampaui gabungan krisis minyak tahun 1973 dan 1979 . Harga minyak mentah Brent awalnya melonjak melewati $109 per barel sebelum akhirnya stabil di kisaran $93
.
Menghadapi krisis likuiditas yang mendesak, Irak terpaksa mencetak uang. Menteri Luar Negeri Fuad Hussein mengonfirmasi pada 7 Juni 2026 bahwa Irak telah mencetak 25 triliun dinar Irak (sekitar $16,3 miliar) untuk mengatasi kekurangan dana tersebut . Ia memperingatkan bahwa jumlah uang beredar telah meningkat dari 100 triliun menjadi 125 triliun dinar, dan gaji pegawai negeri mungkin tidak akan bisa dibayarkan bulan depan jika Selat Hormuz tetap ditutup.
"Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan mencetak uang, karena ini meningkatkan inflasi, yang memang sudah naik," ujar Hussein .
Bank Sentral Irak (CBI) secara terbuka membantah mencetak uang untuk gaji, menggolongkan aksinya sebagai "pendiskontoan surat utang negara"—mekanisme standar untuk menyediakan likuiditas sementara terhadap utang pemerintah . Namun, pengakuan jujur Hussein dan peringatan dari para pakar ekonomi memperjelas bahwa langkah itu setara dengan penciptaan uang baru tanpa aset yang mendasarinya
.
Pakar keuangan Mahmoud Dagher memprediksi bahwa utang domestik akan membengkak dari 100 triliun dinar ($65,3 miliar) menjadi antara 130 hingga 140 triliun dinar sebagai akibatnya .
Selain mencetak uang, pemerintah Irak telah mengejar beberapa langkah fiskal darurat yang tumpang tindih:
Dengan terminal selatan di Basra yang secara efektif terputus, Irak berpacu untuk membuka koridor darat guna membawa minyak mentahnya ke pasar. Hasilnya menunjukkan kecerdikan sekaligus batasan infrastruktur negara itu.
Jalur penyelamat paling langsung adalah pipa Kirkuk–Ceyhan yang diaktifkan kembali, melintasi Wilayah Kurdistan menuju pelabuhan Ceyhan di Mediterania, Turki. Rute ini awalnya mengalirkan 200.000–250.000 bph . Kabinet Irak kemudian menyetujui rencana untuk melipatgandakan pengiriman menjadi 770.000 bph dalam waktu 2,5 bulan
. Namun, hingga awal Mei, ekspor melalui rute ini baru mencapai sekitar 200.000–220.000 bph, terkendala oleh sengketa hukum dan finansial antara Baghdad, Erbil, dan Ankara
.
Dalam langkah pragmatis, Irak mencapai kesepakatan dengan Damaskus untuk mengangkut minyak mentah lewat truk melalui Suriah menuju pelabuhan Baniyas di Mediterania. Irak mulai mengekspor menggunakan truk tangki pada awal April 2026, dengan pejabat Suriah berjanji menjamin transit yang aman dan memfasilitasi operasi selanjutnya . Total volume yang diangkut belum diungkapkan, namun tetap merupakan sebagian kecil dari tingkat ekspor pra-perang.
Irak merencanakan solusi yang lebih permanen: pipa Basra–Haditha, yang diotorisasi oleh pemerintah dengan perkiraan biaya $4,6 miliar dan kapasitas 2,25 juta bph . Didesain untuk mengalirkan minyak mentah dari ladang minyak selatan ke rute ekspor utara, proyek ini secara efektif akan melewati Selat Hormuz sepenuhnya. Namun, penyelesaiannya masih bertahun-tahun lagi. Irak juga menjajaki potensi pipa baru menuju pelabuhan Baniyas di Suriah
.
Krisis ini telah mengungkap dengan sangat jelas kerapuhan ekonomi Irak. Minyak mendanai sekitar 90% pendapatan pemerintah—sebuah ketergantungan yang telah diperingatkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan lembaga lainnya selama bertahun-tahun .
Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) mencatat pada tahun 2026 bahwa Irak memerlukan "langkah konkret untuk memajukan diversifikasi ekonomi" dan "implementasi yang lebih cepat dan efektif dari reformasi tata kelola, lingkungan bisnis, dan sektor keuangan yang direncanakan" . Konsultasi Pasal IV IMF tahun 2025 juga memperingatkan bahwa tanpa reformasi signifikan untuk meningkatkan pendapatan non-minyak dan mengendalikan tagihan gaji publik, defisit fiskal akan semakin memburuk
.
Menteri Keuangan yang baru diangkat, Falih al-Sari, menjadikan mobilisasi pendapatan non-minyak sebagai pusat dari tanggap daruratnya. Ia menekankan perlunya "memaksimalkan pendapatan publik" dari badan dan departemen yang berafiliasi dengan kementerian untuk memenuhi kewajiban negara .
Pemerintahan Perdana Menteri terpilih Ali Al-Zaidi telah mengadopsi pendekatan multi-jalur:
Strategi anggaran 2026 secara eksplisit bertujuan untuk "mengurangi ketergantungan penuh pada minyak" dengan mengadopsi harga minyak lindung nilai yang lebih rendah sekitar $60 per barel, merasionalisasi pengeluaran, dan meningkatkan pendapatan non-minyak .
Para pejabat dan pakar mengkategorikan situasi saat ini sebagai krisis keuangan dan ekonomi paling parah di Irak sejak 2003 . Negara ini tidak hanya menghadapi masalah pendapatan tetapi "polikrisis" yang melibatkan pelebaran kesenjangan fiskal, keamanan yang memburuk, dan tekanan politik yang meningkat
.
Menteri Keuangan Fuad Hussein dengan tegas memperingatkan tentang "bencana fiskal" jika Selat Hormuz tetap ditutup, seraya mencatat bahwa bahkan dengan langkah-langkah darurat, kemampuan pemerintah untuk membayar gaji diukur dalam hitungan bulan, bukan tahun . Krisis ini juga berbenturan dengan sektor listrik Irak, di mana hilangnya pasokan gas Iran telah memicu pemadaman listrik menjelang puncak musim panas
.
Perburuan Irak untuk menemukan rute ekspor baru, mencetak uang, dan akhirnya mendiversifikasi basis pendapatannya merepresentasikan sebuah bangsa yang berjuang menjaga ekonominya agar tidak runtuh di bawah beban perang yang tidak dimulainya—dan kegagalan selama puluhan tahun untuk membangun fondasi ekonomi pasca-minyak.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Perang AS Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 picu krisis fiskal terparah Irak sejak 2003.
Perang AS Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 picu krisis fiskal terparah Irak sejak 2003. Untuk bertahan, Irak hidupkan kembali jalur pipa Kirkuk–Ceyhan via Turki, kirim minyak lewat truk ke Suriah, dan setujui proyek jangka panjang pipa Basra–Haditha senilai $4,6 miliar demi lewati Selat Hormuz [17][21][25].