Departemen Luar Negeri AS pada 5 Juni 2026 menyetujui Penjualan Militer Luar Negeri senilai $1,98 miliar untuk platform sistem anti pesawat nirawak (C UAS) ke Kuwait [1][6]. Anduril Industries, perusahaan pertahanan yang didirikan oleh pendukung Presiden Trump, ditunjuk sebagai kontraktor utama [4][6].

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What are the key details of the U.S. State Department's $1.98 billion approval of a counter-drone system sale to Kuwait, including the conte. Article summary: ## The $1.98B Counter-Drone Sale to Kuwait. Topic tags: general, government, general web, user generated, education. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "### Top Menu - English Version. ### Sidebar Menu Mobile En. ### Follow us. # US approves potential $1.98bn counter-drone sale to Kuwait. The US State Department has approved a pote" source context "US approves potential $1.98bn counter-drone sale to Kuwait | Middle East Eye" Reference image 2: visual subject "### Top Menu - English Version. ### Sidebar Menu Mobile En. ### Follow us. # US approves potential $1.98bn counter-drone sale to Kuwait. The US State Departme
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi memberikan lampu hijau pada 5 Juni 2026 untuk penjualan sistem pertahanan anti-pesawat nirawak (Counter-Unmanned Aerial Systems/C-UAS) kepada Kuwait. Nilai kesepakatan ini ditaksir mencapai $1,98 miliar atau sekitar Rp32 triliun . Pengumuman ini disampaikan melalui notifikasi kepada Kongres AS pada hari Jumat, 5 Juni
.
Perusahaan pertahanan Anduril Industries—yang didirikan oleh Palmer Luckey, seorang pendukung setia Presiden Donald Trump—ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam proyek strategis ini . Meski sudah disetujui, kesepakatan ini masih harus melewati masa peninjauan Kongres sebelum benar-benar final
.
Paket penjualan ini mencakup platform canggih seperti Roadrunner-Munition dan Anvil-Kinetic, sistem komando dan kendali Lattice, serta menara pengawas jarak jauh yang dilengkapi pengendali tembakan. Semua perangkat ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menetralisir ancaman drone yang kian masif .
Keputusan Washington ini tidak lahir di ruang hampa. Persetujuan itu muncul hanya dua hari setelah salah satu serangan Iran paling destruktif sejak gencatan senjata 8 April. Pada 3 Juni 2026 dini hari, Iran melancarkan serangan terkoordinasi menggunakan drone dan rudal balistik ke Bandara Internasional Kuwait .
Serangan ini menewaskan seorang warga negara India dan melukai 63 orang lainnya, serta menyebabkan kerusakan struktural parah pada Terminal 1. Otoritas Kuwait terpaksa menangguhkan semua penerbangan sebelum akhirnya membuka kembali operasi secara parsial melalui Terminal 4 di hari yang sama . Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebut Iran menembakkan dua rudal ke Kuwait dan tiga ke Bahrain, dan menyebut serangan itu sebagai tindakan yang "disengaja, terencana, dan tidak bisa dibenarkan"
.
Konflik yang lebih besar dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury, membombardir situs-situs nuklir, infrastruktur militer, dan pusat komando Iran . Perang yang sempat mereda dengan gencatan senjata pada 8 April 2026—dimediasi oleh Pakistan—itu kini memasuki fase "adu kemauan" (battle of wills). Kedua belah pihak saling menekan tanpa ingin kembali ke perang total
. Gencatan senjata yang awalnya dijadwalkan selama dua minggu itu telah diperpanjang tanpa batas, namun terus dilanggar oleh serangan-serangan sporadis
.
Pembelian sistem anti-drone ini bukanlah langkah tunggal Kuwait. Negara Teluk ini juga tengah mengupayakan kontrak NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) senilai $1,02 miliar secara terpisah. Kombinasi kedua sistem ini akan membentuk arsitektur pertahanan udara tiga lapis: NASAMS untuk ancaman rudal dan pesawat di ketinggian menengah-jauh, serta sistem Anduril untuk ancaman drone di ketinggian rendah dan jarak dekat .
Langkah Kuwait ini adalah bagian dari perlombaan pertahanan di antara negara-negara Teluk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga berlomba memperkuat pertahanan udara mereka setelah rentetan drone dan rudal Iran berulang kali menembus atau membebani sistem perlindungan yang ada. Ironisnya, meski Arab Saudi juga menginginkan akses serupa, mereka terganjal karena tidak memiliki Status of Forces Agreement (SOFA) dengan AS, sebuah prasyarat untuk jalur persetujuan darurat .
Perang Iran 2026 telah menimbulkan korban yang signifikan di pihak Kuwait:
Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa penjualan ini bertujuan memperkuat keamanan "sekutu utama non-NATO" di Timur Tengah dan tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di kawasan . Namun, para kritikus berpendapat langkah ini justru memperdalam keterlibatan AS dalam konflik. Sementara itu, militer AS sendiri melakukan serangan balasan ke situs radar Iran pascaserangan 3 Juni
.
Di sisi lain, Iran membantah sengaja menargetkan warga sipil dan malah mengklaim bahwa kerusakan di bandara Kuwait disebabkan oleh rudal pencegat AS yang meleset—klaim yang langsung dibantah keras oleh militer AS sebagai informasi palsu . Para analis melihat situasi ini sebagai erosi berbahaya dari gencatan senjata tanpa jalur diplomatik yang jelas menuju perdamaian permanen
.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Departemen Luar Negeri AS pada 5 Juni 2026 menyetujui Penjualan Militer Luar Negeri senilai $1,98 miliar untuk platform sistem anti pesawat nirawak (C UAS) ke Kuwait [1][6].
Departemen Luar Negeri AS pada 5 Juni 2026 menyetujui Penjualan Militer Luar Negeri senilai $1,98 miliar untuk platform sistem anti pesawat nirawak (C UAS) ke Kuwait [1][6]. Anduril Industries, perusahaan pertahanan yang didirikan oleh pendukung Presiden Trump, ditunjuk sebagai kontraktor utama [4][6].
Persetujuan ini muncul hanya 48 jam setelah serangan Iran pada 3 Juni yang menghantam Bandara Internasional Kuwait, menewaskan satu warga negara India dan melukai 63 orang [5][8].