Salah satu usulan paling kontroversial adalah kewajiban menampilkan nilai uang dunia nyata untuk setiap mata uang virtual dalam gim—seperti permata, koin, atau token—ketika pemain melakukan pembelian.
Jaringan Consumer Protection Cooperation (CPC), yang beranggotakan otoritas perlindungan konsumen negara-negara Uni Eropa, telah menerbitkan prinsip-prinsip untuk meningkatkan transparansi dan kewajaran penggunaan mata uang virtual dalam gim. Prinsip tersebut mendorong agar pemain dapat mengetahui dengan jelas berapa banyak uang euro yang sebenarnya mereka keluarkan .
CEO Supercell, Ilkka Paananen, menentang pendekatan ini. Dalam surat terbukanya, ia memperingatkan bahwa persyaratan tersebut dapat “membunuh salah satu kisah sukses teknologi terbesar Eropa” . Menurut argumen Paananen, model free-to-play menggunakan mata uang virtual untuk memisahkan proses bermain dari persepsi pengeluaran uang secara langsung. Jika setiap pembelian harus selalu disertai nilai euro, struktur ekonomi yang menopang gim-gim tersebut dinilai bisa berubah secara mendasar .
Loot box adalah paket berisi item virtual acak yang dibeli dengan uang nyata atau mata uang dalam gim. Parlemen Eropa telah menyerukan pelarangan loot box dan konten acak berbayar lainnya dalam gim yang dapat diakses anak-anak, dengan alasan adanya risiko pengeluaran tak terkendali dan dampak terhadap anak di bawah umur .
Dalam resolusi Oktober 2025 tentang perlindungan anak di ruang digital, Parlemen Eropa secara khusus meminta Komisi untuk “melarang mekanisme yang menyerupai perjudian seperti ‘loot box’ dalam gim yang dapat diakses anak di bawah umur” .
Industri gim menilai sistem penilaian PEGI—sistem klasifikasi usia gim di Eropa—serta mekanisme pengaturan mandiri yang sudah ada semestinya dipertimbangkan sebelum aturan baru dibuat . Menurut mereka, definisi yang terlalu luas mengenai konten acak atau mekanisme manipulatif juga dapat menimbulkan ketidakpastian hukum.
Konsultasi publik DFA menerima lebih dari 3.300 tanggapan. Hasilnya menunjukkan dukungan kuat terhadap pengaturan dark patterns dan desain adiktif, meski pelaku industri memperingatkan bahwa aturan yang tidak spesifik dapat menyulitkan pengembang dalam menentukan fitur mana yang masih diperbolehkan .
DFA juga menyasar apa yang disebut regulator sebagai dark patterns, yakni desain antarmuka yang dapat memengaruhi atau menekan pengguna agar mengambil keputusan tertentu. Dalam gim, isu ini dapat mencakup bonus login harian, hadiah karena bermain terus-menerus, pengaturan bawaan yang memaksimalkan durasi bermain, serta mekanisme yang membuat pemain merasa harus kembali agar tidak kehilangan progres.
Komisi Eropa menggambarkan DFA sebagai upaya menangani “teknik dan praktik komersial tidak etis terkait dark patterns, pemasaran oleh influencer media sosial, desain produk digital yang adiktif, dan pembuatan profil daring, terutama ketika kerentanan konsumen dieksploitasi untuk tujuan komersial” .
Parlemen Eropa meminta Komisi untuk “menonaktifkan secara bawaan fitur desain yang paling adiktif” bagi anak-anak . Sementara itu, European Consumer Summit 2025 merekomendasikan larangan terhadap mata uang dalam aplikasi, mekanisme pay-to-progress, dan pay-to-win pada gim yang kemungkinan diakses anak-anak .
Video Games Europe dan European Games Developer Federation (EGDF) telah mengoordinasikan upaya untuk memengaruhi isi DFA sebelum proposal resminya diterbitkan.
Pada Oktober 2025, industri menyerahkan tanggapan terhadap konsultasi publik DFA. Mereka berargumen bahwa hukum perlindungan konsumen Uni Eropa, ditambah sistem PEGI dan mekanisme pengaturan bersama, sudah menyediakan perlindungan yang memadai. Mereka juga memperingatkan bahwa aturan baru berpotensi tumpang tindih dengan regulasi yang sudah ada .
Pada Maret 2026, Video Games Europe turut menandatangani surat bersama dari industri yang ditujukan kepada Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa Henna Virkkunen dan Komisaris Michael McGrath. Surat tersebut meminta Komisi untuk “mengatur ulang arah” kebijakan agar berfokus pada penyederhanaan dan prinsip regulasi yang lebih baik, bukan menciptakan aturan khusus untuk gim .
Puncak kampanye lobi ini akan berlangsung pada 3 Juni 2026 melalui acara “Games in Europe: Built Here, Played Globally” di Microsoft Innovation Hub, Brussel. Acara yang diselenggarakan EGDF dan Video Games Europe itu akan mempertemukan para CEO perusahaan gim Eropa dengan pengambil keputusan utama Uni Eropa .
EGDF memperingatkan bahwa DFA dapat “mengubah secara mendasar cara gim free-to-play beroperasi” . Sejumlah pengembang bahkan membandingkan potensi dampaknya dengan perubahan kebijakan privasi IDFA milik Apple, yang sebelumnya menekan pendapatan iklan seluler .
CEO Supercell Ilkka Paananen menjadi salah satu pengkritik DFA yang paling vokal. Ia menilai kewajiban menampilkan harga uang nyata pada setiap item dalam gim menunjukkan bahwa pembuat kebijakan belum memahami cara kerja ekonomi free-to-play. Menurutnya, aturan tersebut dapat “memberikan pukulan kritis” bagi sektor gim Eropa .
Presiden King Todd Green, yang memimpin perusahaan di balik Candy Crush dan Farm Heroes Saga, juga menyuarakan kekhawatiran terhadap regulasi berlebihan . Perhatian industri dalam isu ini terutama berkaitan dengan daya saing studio Eropa di pasar global serta kemungkinan investasi dan pengembangan gim bergeser ke luar Uni Eropa.
Kelompok konsumen dan hak digital justru mendorong DFA yang lebih ambisius.
European Digital Rights (EDRi) mengusulkan agar DFA diadopsi sebagai Regulation yang berlaku langsung di negara-negara anggota, bukan sekadar arahan yang perlu diterjemahkan ke hukum nasional. EDRi juga menyerukan mekanisme penegakan yang kuat, kewajiban bagi perusahaan untuk merancang layanan secara adil, serta larangan terhadap dark patterns dan antarmuka manipulatif .
European Consumer Summit 2025 merekomendasikan larangan loot box, mata uang dalam aplikasi, mekanisme pay-to-progress, dan pay-to-win pada gim yang menyasar atau kemungkinan diakses anak-anak. Forum tersebut juga mendukung inisiatif lintas sektor untuk membatasi desain adiktif seperti infinite scrolling, autoplay, hadiah karena penggunaan terus-menerus, dan “lubang kelinci” algoritmik yang membuat pengguna sulit berhenti .
Resolusi Parlemen Eropa yang diadopsi pada November 2025 menempatkan “desain produk dan layanan digital yang adiktif” serta praktik komersial tidak etis sebagai bagian penting dari tujuan DFA .
Komisi Eropa diperkirakan menerbitkan proposal resminya pada akhir 2026. Setelah itu, pembahasan oleh Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa dapat berlanjut hingga 2027 . Jika aturan tersebut akhirnya disahkan, penerapannya diperkirakan baru dimulai sekitar 2030 .
Dengan demikian, DFA belum menjadi hukum dan rincian akhirnya masih dapat berubah. Acara industri di Brussel pada 3 Juni menjadi kesempatan penting bagi pengembang untuk menyampaikan keberatan sebelum rancangan aturan dipublikasikan.
Perdebatan ini pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama kuat: industri ingin mempertahankan model bisnis yang telah membuat gim Eropa kompetitif secara global, sedangkan regulator dan kelompok konsumen ingin memastikan bahwa keberhasilan tersebut tidak dibangun di atas pengeluaran yang tidak transparan atau desain yang mengeksploitasi kerentanan pemain. Dengan ratusan juta pemain dan nilai ekonomi miliaran euro di dalamnya, keputusan mengenai DFA akan menjadi salah satu pertarungan kebijakan paling penting bagi industri gim Eropa.
Salah satu usulan paling kontroversial adalah kewajiban menampilkan nilai uang dunia nyata untuk setiap mata uang virtual dalam gim—seperti permata, koin, atau token—ketika pemain melakukan pembelian.
Jaringan Consumer Protection Cooperation (CPC), yang beranggotakan otoritas perlindungan konsumen negara-negara Uni Eropa, telah menerbitkan prinsip-prinsip untuk meningkatkan transparansi dan kewajaran penggunaan mata uang virtual dalam gim. Prinsip tersebut mendorong agar pemain dapat mengetahui dengan jelas berapa banyak uang euro yang sebenarnya mereka keluarkan .
CEO Supercell, Ilkka Paananen, menentang pendekatan ini. Dalam surat terbukanya, ia memperingatkan bahwa persyaratan tersebut dapat “membunuh salah satu kisah sukses teknologi terbesar Eropa” . Menurut argumen Paananen, model free-to-play menggunakan mata uang virtual untuk memisahkan proses bermain dari persepsi pengeluaran uang secara langsung. Jika setiap pembelian harus selalu disertai nilai euro, struktur ekonomi yang menopang gim-gim tersebut dinilai bisa berubah secara mendasar .
Loot box adalah paket berisi item virtual acak yang dibeli dengan uang nyata atau mata uang dalam gim. Parlemen Eropa telah menyerukan pelarangan loot box dan konten acak berbayar lainnya dalam gim yang dapat diakses anak-anak, dengan alasan adanya risiko pengeluaran tak terkendali dan dampak terhadap anak di bawah umur .
Dalam resolusi Oktober 2025 tentang perlindungan anak di ruang digital, Parlemen Eropa secara khusus meminta Komisi untuk “melarang mekanisme yang menyerupai perjudian seperti ‘loot box’ dalam gim yang dapat diakses anak di bawah umur” .
Industri gim menilai sistem penilaian PEGI—sistem klasifikasi usia gim di Eropa—serta mekanisme pengaturan mandiri yang sudah ada semestinya dipertimbangkan sebelum aturan baru dibuat . Menurut mereka, definisi yang terlalu luas mengenai konten acak atau mekanisme manipulatif juga dapat menimbulkan ketidakpastian hukum.
Konsultasi publik DFA menerima lebih dari 3.300 tanggapan. Hasilnya menunjukkan dukungan kuat terhadap pengaturan dark patterns dan desain adiktif, meski pelaku industri memperingatkan bahwa aturan yang tidak spesifik dapat menyulitkan pengembang dalam menentukan fitur mana yang masih diperbolehkan .
DFA juga menyasar apa yang disebut regulator sebagai dark patterns, yakni desain antarmuka yang dapat memengaruhi atau menekan pengguna agar mengambil keputusan tertentu. Dalam gim, isu ini dapat mencakup bonus login harian, hadiah karena bermain terus-menerus, pengaturan bawaan yang memaksimalkan durasi bermain, serta mekanisme yang membuat pemain merasa harus kembali agar tidak kehilangan progres.
Komisi Eropa menggambarkan DFA sebagai upaya menangani “teknik dan praktik komersial tidak etis terkait dark patterns, pemasaran oleh influencer media sosial, desain produk digital yang adiktif, dan pembuatan profil daring, terutama ketika kerentanan konsumen dieksploitasi untuk tujuan komersial” .
Parlemen Eropa meminta Komisi untuk “menonaktifkan secara bawaan fitur desain yang paling adiktif” bagi anak-anak . Sementara itu, European Consumer Summit 2025 merekomendasikan larangan terhadap mata uang dalam aplikasi, mekanisme pay-to-progress, dan pay-to-win pada gim yang kemungkinan diakses anak-anak .
Video Games Europe dan European Games Developer Federation (EGDF) telah mengoordinasikan upaya untuk memengaruhi isi DFA sebelum proposal resminya diterbitkan.
Pada Oktober 2025, industri menyerahkan tanggapan terhadap konsultasi publik DFA. Mereka berargumen bahwa hukum perlindungan konsumen Uni Eropa, ditambah sistem PEGI dan mekanisme pengaturan bersama, sudah menyediakan perlindungan yang memadai. Mereka juga memperingatkan bahwa aturan baru berpotensi tumpang tindih dengan regulasi yang sudah ada .
Pada Maret 2026, Video Games Europe turut menandatangani surat bersama dari industri yang ditujukan kepada Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa Henna Virkkunen dan Komisaris Michael McGrath. Surat tersebut meminta Komisi untuk “mengatur ulang arah” kebijakan agar berfokus pada penyederhanaan dan prinsip regulasi yang lebih baik, bukan menciptakan aturan khusus untuk gim .
Puncak kampanye lobi ini akan berlangsung pada 3 Juni 2026 melalui acara “Games in Europe: Built Here, Played Globally” di Microsoft Innovation Hub, Brussel. Acara yang diselenggarakan EGDF dan Video Games Europe itu akan mempertemukan para CEO perusahaan gim Eropa dengan pengambil keputusan utama Uni Eropa .
EGDF memperingatkan bahwa DFA dapat “mengubah secara mendasar cara gim free-to-play beroperasi” . Sejumlah pengembang bahkan membandingkan potensi dampaknya dengan perubahan kebijakan privasi IDFA milik Apple, yang sebelumnya menekan pendapatan iklan seluler .
CEO Supercell Ilkka Paananen menjadi salah satu pengkritik DFA yang paling vokal. Ia menilai kewajiban menampilkan harga uang nyata pada setiap item dalam gim menunjukkan bahwa pembuat kebijakan belum memahami cara kerja ekonomi free-to-play. Menurutnya, aturan tersebut dapat “memberikan pukulan kritis” bagi sektor gim Eropa .
Presiden King Todd Green, yang memimpin perusahaan di balik Candy Crush dan Farm Heroes Saga, juga menyuarakan kekhawatiran terhadap regulasi berlebihan . Perhatian industri dalam isu ini terutama berkaitan dengan daya saing studio Eropa di pasar global serta kemungkinan investasi dan pengembangan gim bergeser ke luar Uni Eropa.
Kelompok konsumen dan hak digital justru mendorong DFA yang lebih ambisius.
European Digital Rights (EDRi) mengusulkan agar DFA diadopsi sebagai Regulation yang berlaku langsung di negara-negara anggota, bukan sekadar arahan yang perlu diterjemahkan ke hukum nasional. EDRi juga menyerukan mekanisme penegakan yang kuat, kewajiban bagi perusahaan untuk merancang layanan secara adil, serta larangan terhadap dark patterns dan antarmuka manipulatif .
European Consumer Summit 2025 merekomendasikan larangan loot box, mata uang dalam aplikasi, mekanisme pay-to-progress, dan pay-to-win pada gim yang menyasar atau kemungkinan diakses anak-anak. Forum tersebut juga mendukung inisiatif lintas sektor untuk membatasi desain adiktif seperti infinite scrolling, autoplay, hadiah karena penggunaan terus-menerus, dan “lubang kelinci” algoritmik yang membuat pengguna sulit berhenti .
Resolusi Parlemen Eropa yang diadopsi pada November 2025 menempatkan “desain produk dan layanan digital yang adiktif” serta praktik komersial tidak etis sebagai bagian penting dari tujuan DFA .
Komisi Eropa diperkirakan menerbitkan proposal resminya pada akhir 2026. Setelah itu, pembahasan oleh Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa dapat berlanjut hingga 2027 . Jika aturan tersebut akhirnya disahkan, penerapannya diperkirakan baru dimulai sekitar 2030 .
Dengan demikian, DFA belum menjadi hukum dan rincian akhirnya masih dapat berubah. Acara industri di Brussel pada 3 Juni menjadi kesempatan penting bagi pengembang untuk menyampaikan keberatan sebelum rancangan aturan dipublikasikan.
Perdebatan ini pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama kuat: industri ingin mempertahankan model bisnis yang telah membuat gim Eropa kompetitif secara global, sedangkan regulator dan kelompok konsumen ingin memastikan bahwa keberhasilan tersebut tidak dibangun di atas pengeluaran yang tidak transparan atau desain yang mengeksploitasi kerentanan pemain. Dengan ratusan juta pemain dan nilai ekonomi miliaran euro di dalamnya, keputusan mengenai DFA akan menjadi salah satu pertarungan kebijakan paling penting bagi industri gim Eropa.