Inti argumen Haas melampaui masalah teknis. Jauh sebelum Computex, di konferensi Founders Forum Global di Oxford, ia sudah menyuarakan kekhawatiran strategisnya. Ia memperingatkan bahwa kontrol ekspor yang ketat berisiko menjadi bumerang. "Jika Anda mempersempit akses ke teknologi dan memaksa ekosistem lain untuk tumbuh, itu tidak baik. Itu membuat kuenya lebih kecil, dan terus terang, sangat tidak baik bagi konsumen," tegasnya .
Pandangan ini sejalan dengan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang juga getol menyuarakan penolakan terhadap pembatasan yang terlalu keras. Logikanya sederhana: jika China tidak bisa membeli, mereka akan giat membangun sendiri. Ketika mereka berhasil, pasar global untuk produk-produk AS justru akan menyusut secara permanen. Haas mengonfirmasi bahwa jejak Arm di China masih "cukup signifikan," dengan kontribusi sekitar 15% dari total pendapatan perusahaan .
Di saat Haas menyoroti betapa sulitnya mengatur CPU, pemerintah AS justru baru saja melancarkan jurus pamungkas untuk menutup celah besar dalam regulasi GPU dan chip canggih. Pada 31 Mei 2026, Departemen Perdagangan AS melalui Bureau of Industry and Security (BIS) mengeluarkan pedoman mendadak: aturan lisensi ekspor kini berlaku untuk semua anak perusahaan yang berkantor pusat di China, di mana pun mereka beroperasi .
Langkah ini menutup celah yang sebelumnya banyak dimanfaatkan perusahaan China dengan merutekan pembelian chip canggih melalui anak perusahaan mereka di Malaysia, Singapura, atau negara lain. Chip seperti Nvidia Blackwell dan AMD MI350x yang sebelumnya bisa lolos, kini memerlukan lisensi khusus jika pembelinya terkait dengan entitas induk di China .
Langkah ini menunjukkan tekad AS untuk tetap mempersulit akses China ke semikonduktor mutakhir, meskipun untuk CPU, kompleksitasnya berlipat ganda.
Di atas panggung Computex yang sama, Haas juga memberikan pengumuman bisnis penting yang memperjelas betapa berlapisnya konflik ini. Ia mengonfirmasi bahwa ByteDance (induk TikTok) dan Oracle adalah pengguna terbaru dari CPU pusat data AGI milik Arm .
Fakta bahwa raksasa teknologi China yang jadi sorotan AS justru menjadi pelanggan dari perusahaan yang berbasis di Inggris (dan terpengaruh regulasi AS), menciptakan dilema yang rumit. Bagaimana Anda mengontrol ekspor CPU AI ketika chip tersebut dirancang oleh perusahaan global, dan digunakan oleh perusahaan China di pusat data di seluruh dunia? Inilah dualitas yang digarisbawahi oleh Haas.
Ketidakpastian ini diperparah oleh volatilitas kebijakan AS sendiri:
Sikap yang berubah-ubah ini menciptakan mimpi buruk perencanaan bagi perusahaan seperti Arm, Nvidia, dan AMD.
Pada akhirnya, peringatan Haas adalah tentang perbedaan fundamental antara GPU dan CPU. GPU memiliki jalur performa yang lebih spesifik untuk AI, sehingga lebih mudah didefinisikan dalam aturan larangan . CPU adalah otak serbaguna dari semua komputer. Mencoba memisahkan CPU untuk AI dari dunia komputasi umum adalah "hampir mustahil"
.
Tantangan ini, dikombinasikan dengan pertumbuhan mandiri ekosistem China, menjadi pertanyaan besar: apakah upaya mengontrol CPU ini efektif, atau justru hanya menjadi pukulan telak bagi industri teknologi global tanpa hasil strategis yang jelas?
Comments
0 comments