Raksasa media sosial, Meta Platforms, tidak hanya menjadi pelanggan pertama chip ini, tetapi juga terlibat langsung sebagai mitra utama dan pengembang bersama (co-developer) . Dalam pernyataannya, Meta menyebut chip ini dikembangkan untuk mengoptimalkan infrastruktur berskala gigawatt yang menopang aplikasi-aplikasi besarnya, termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, serta bekerja berdampingan dengan akselerator AI kustom milik Meta sendiri, MTIA
.
Selain Meta, sejumlah nama besar lain juga telah menyatakan komitmennya sebagai pelanggan, termasuk OpenAI dan SK Telecom . Mohamed Awad, Executive Vice President Cloud AI Arm, mengungkapkan bahwa proyek ini dimulai tiga tahun lalu atas permintaan langsung dari Meta, yang menginginkan lebih dari sekadar cetak biru (blueprint) dari Arm
.
Hanya enam pekan setelah peluncuran pada Maret 2026, Arm melaporkan bahwa permintaan pelanggan terhadap CPU AGI telah melampaui angka $2 miliar untuk tahun fiskal 2027 dan 2028. Angka ini dua kali lipat dari estimasi awal yang disebutkan saat peluncuran .
Dalam laporan keuangan kuartal keempat tahun fiskal 2026 (berakhir Maret 2026) yang dirilis pada 6 Mei 2026, CEO Rene Haas dan CFO Jason Child mengonfirmasi lonjakan ini, namun tetap mempertahankan panduan pendapatan jangka pendek pada angka $1 miliar. Alasannya? Keterbatasan pasokan. Arm mengaku baru bisa mengamankan kapasitas pasokan untuk sekitar setengah dari total permintaan yang ada, dan tengah bekerja keras untuk mengamankan kapasitas wafer, memori, dan pengemasan tambahan dari rantai pasok . Pendapatan dari pengiriman perdana chip ini sendiri diprediksi baru akan masuk pada kuartal keempat tahun fiskal Arm saat ini, yang berarti sekitar akhir tahun 2026
.
Langkah Arm ini menandai perubahan strategi paling signifikan dalam sejarahnya. Perusahaan ini membangun nama besarnya dengan melisensikan desain arsitektur chip ke perusahaan lain seperti Qualcomm dan Apple, dan mendominasi pasar prosesor smartphone. Kini, bisnis pusat data dengan cepat menjadi penggerak utama pertumbuhan.
Bukti transformasi ini sangat jelas:
Total pendapatan Arm sendiri mencatat rekor sebesar $3,601 miliar untuk tahun fiskal 2026, dengan pertumbuhan dua digit dari lisensi dan royalti .
Di tengah memanasnya perang dagang teknologi antara AS dan China, CEO Arm Rene Haas turut menyuarakan pendapatnya. Berbicara di Taipei pada 2 Juni 2026, Haas berpendapat bahwa AS akan sangat kesulitan untuk melarang ekspor CPU yang bermanfaat untuk AI ke China .
Argumen utamanya sederhana: CPU adalah komponen yang sangat umum. "CPU itu seperti minyak dalam hal cakupan aplikasinya," ujar Haas. "Itu akan menjadi pemangkasan (pembatasan) yang sangat drastis." . Ia menekankan bahwa sangat sulit untuk membedakan antara CPU yang khusus untuk AI dengan CPU untuk keperluan umum lainnya, sehingga larangan luas justru akan memperlambat kemajuan teknologi secara keseluruhan dan merugikan industri serta konsumen
.
Pernyataan ini menempatkan Haas sejalan dengan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang telah lama mengkritik kontrol ekspor AS yang dianggap terlalu luas dan berpotensi kontraproduktif .
Apa yang dilakukan Arm sekarang bukan sekadar menjual chip; ini adalah sebuah deklarasi bahwa masa depan pusat data, dan mungkin seluruh komputasi modern, akan bertenaga Arm.
Comments
0 comments