Laporan The Fertilizer Institute menyebutkan bahwa hampir 50 persen ekspor urea global dan sekitar 30 persen amonia dunia berasal dari negara-negara di sebelah barat Selat Hormuz . Dengan aliran yang terputus, para pembeli di pasar-pasar rentan tidak hanya dihadapkan pada harga selangit, tetapi juga kelangkaan fisik. Analisis dari International Food Policy Research Institute (IFPRI) menunjukkan bahwa penutupan ini secara efektif memblokir sekitar 21 juta metrik ton kapasitas ekspor urea tahunan dari kawasan Teluk
.
Riset Goldman Sachs memperingatkan bahwa kenaikan biaya pupuk ini hampir pasti akan merembet ke harga biji-bijian, mengingat pupuk menyumbang sekitar 20 persen dari biaya produksi gabah . Kejutan pasokan ini bukan sekadar soal kapal mana yang tidak bisa berlayar keluar dari Teluk Persia. Ada efek lapis kedua: produsen pupuk di India, Bangladesh, dan Pakistan, yang kehilangan pasokan gas alam dari Qatar, terpaksa menghentikan atau memangkas produksi mereka
.
Ketika pupuk kimia menjadi tidak terjangkau atau bahkan lenyap dari pasaran, petani di tiga benua mulai beradaptasi dengan apa yang bisa mereka peroleh secara lokal. Sebuah laporan Associated Press pada akhir Mei 2026 menangkap pergeseran ini dengan gamblang, mendokumentasikan bagaimana petani di Senegal, Brazil, dan India beralih ke pupuk kandang, kompos, dan pupuk hayati (biofertilizer) berbasis mikroba untuk menyelamatkan tanaman mereka .
Di Senegal, petani bernama Mamadou Sow sudah lebih dulu beralih ke kompos organik delapan tahun silam. Kini, ia mengajak tetangganya untuk membeli kotoran ternak dari penggembala lokal dan mengajari mereka cara membuat tumpukan kompos yang kaya nutrisi, menjadikan cacing yang menggeliat sebagai tanda kompos yang sehat. "Berbahaya kalau kita terus bergantung pada pupuk kimia," ujar Sow kepada AP . Senegal, yang setiap tahunnya mengimpor sekitar 125.000 ton pupuk
, kini menyaksikan dorongan akar rumput menuju siklus nutrisi di lahan sendiri dan produksi pupuk hayati mandiri.
Brazil, sebagai eksportir pertanian terbesar dunia, menghadapi situasi yang sangat riskan. Negara ini sangat bergantung pada pupuk impor. Dengan pasokan dari Teluk yang terputus, petani Brazil kini beralih ke bio-inputs dan alternatif organik dalam skala yang belum pernah dicoba sebelumnya oleh sektor ini . Ini bukanlah eksperimen niche, melainkan respons struktural terhadap kolapsnya rantai pasok yang telah menjadi tulang punggung ekonomi pertanian Brazil selama puluhan tahun.
Paparan India juga sama parahnya. Analisis dari kementerian pertahanan Spanyol memperkirakan India menghadapi pengurangan 20% hingga 25% dalam rantai pasok pupuknya, dengan produsen andalan IFFCO terancam menghentikan operasi akibat potensi pemotongan pasokan LNG hingga 40% . Memasuki musim tanam kritis kharif untuk padi dan jagung pada Juni-Juli, petani kecil yang beroperasi dengan margin tipis terpaksa mengurangi aplikasi pupuk sintetis dan menggantinya dengan kotoran sapi, kompos, serta pupuk hayati produksi dalam negeri
. The Economic Times mencatat bahwa paradoks anggaran India sangat mencolok: negara ini menghabiskan ₹1,86 lakh crore (sekitar Rp 350 triliun) untuk subsidi pupuk, namun hanya mengalokasikan ₹2.481 crore (sekitar Rp 4,5 triliun) untuk Misi Nasional Pertanian Alami
—sebuah ketimpangan prioritas yang kini dibongkar paksa oleh krisis.
Jauh di luar tiga negara itu, pergeseran menuju alternatif alami juga terlihat secara global. Laporan Los Angeles Times pada Mei 2026 mendokumentasikan perusahaan rintisan Prancis, Toopi Organics, yang mengubah urin manusia menjadi pakan bakteri untuk tanaman, sebuah perusahaan susu Malaysia yang memberi makan limbah ternak kepada cacing untuk memperkaya tanah, serta para peneliti yang mengeksplorasi kulit almond giling dan produk mikroba sebagai pengganti pupuk sintetis . "Situasi perang ini, sayangnya, adalah hal yang baik untuk kami," ujar François Gérard dari Toopi Organics kepada surat kabar tersebut
. Krisis ini sedang mempercepat investasi pada teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai solusi pinggiran.
Dimensi paling mengkhawatirkan dari gangguan di Hormuz adalah dampak kemanusiaannya. World Food Programme (WFP) telah mengeluarkan peringatan paling keras sejak perang Ukraina: hampir 45 juta orang tambahan dapat jatuh ke dalam kerawanan pangan akut—Fase 3 IPC atau lebih tinggi—jika konflik berlanjut hingga pertengahan 2026 . Ini akan mendorong total kelaparan akut global ke tingkat yang memecahkan rekor, memperparah kondisi 318 juta orang yang sudah lebih dulu terdampak
.
Mekanismenya bukan hal misterius. Harga pupuk yang lebih tinggi menurunkan hasil panen. Hasil panen yang menurun memperketat pasokan pangan. Pasokan yang ketat, ditambah biaya bahan bakar dan transportasi yang melambung, mendorong harga pangan melampaui kemampuan penduduk yang paling rentan. UNCTAD telah memperingatkan pada Maret 2026 bahwa penurunan ekspor pupuk regional mengancam konsekuensi "yang sangat serius" bagi produksi pangan global, dengan waktu yang sangat kritis karena Afrika sub-Sahara memasuki musim tanamnya .
WFP telah terpaksa memotong jatah makanan bagi orang-orang dalam kondisi kelaparan di Sudan. Di Afghanistan, badan ini kini hanya bisa mendukung satu dari empat anak dengan gizi buruk akut dalam apa yang saat ini merupakan krisis malnutrisi terburuk di dunia . Biaya pengiriman logistik kemanusiaan telah meningkat 18 persen sejak konflik dimulai, dan sekitar 70.000 metrik ton pasokan pangan WFP terdampak langsung oleh gangguan ini
.
Laporan Mercy Corps yang diterbitkan pada akhir Mei 2026 memproyeksikan bahwa kerawanan pangan akan memburuk di enam negara yang sangat terpapar—termasuk Somalia, Sudan, Pakistan, dan Ethiopia—sepanjang paruh kedua 2026 hingga 2027 . Analisis tersebut mencatat bahwa bahkan setelah gencatan senjata 7 April, Selat Hormuz belum kembali beroperasi secara komersial secara normal. Selat ini masih berada di bawah rezim transit berbasis izin dari Iran, dengan peringatan bahaya ranjau yang masih berlaku, yang berarti aliran pupuk dan bahan bakar masih sangat terhambat
.
Direktur Jenderal FAO telah membingkai taruhan ini dalam perspektif antargenerasi: "Keputusan yang kita buat sekarang akan menentukan apakah ini tetap menjadi guncangan yang bisa dikelola, atau berkembang menjadi krisis ketahanan pangan global yang lebih dalam di tahun 2026, 2027, dan seterusnya" . Siklus tanam tidak akan menunggu diplomasi. Ketika seorang petani kehilangan kesempatan untuk pemupukan yang memadai, panennya terancam gagal, dan kelaparan yang mengikutinya diukur dalam hitungan bulan, bukan pekan.
Para analis di University of Illinois telah membuat model tiga skenario. Bahkan dalam skenario paling optimistis "pembukaan kembali dengan cepat" (quick reopening), harga urea tetap berada di atas USD 700 per short ton hingga pertengahan 2026 dan baru akan melandai secara bertahap . Di bawah skenario "transit yang dipertentangkan" (contested transit), harga tetap tinggi hingga November. Di bawah skenario konflik berkepanjangan (extended conflict), puncak harga bukan hanya lebih tinggi, tetapi datang lebih lambat, yaitu nyaris USD 1.000 per ton pada Oktober
. Durasi gangguan sama pentingnya dengan guncangan awal itu sendiri.
Carnegie Endowment mencatat bahwa harga pangan biasanya butuh waktu enam hingga sembilan bulan untuk sepenuhnya mencerminkan guncangan pasokan pupuk, yang berarti efek terburuk pada inflasi harga pangan konsumen masih akan datang . Sementara itu, China, India, dan Mesir termasuk di antara negara-negara yang paling terpapar efek berkepanjangan dari gangguan ini pada produksi pertanian
.
Yang jelas dari berbagai bukti yang ada adalah bahwa krisis Hormuz bukan sekadar gangguan perdagangan. Ini adalah stress test ketahanan sistem pangan global, ujian seberapa cepat petani dan pemerintah bisa beradaptasi ketika input kimiawi yang menjadi fondasi pertanian modern tiba-tiba lenyap.
Comments
0 comments