Sesuai laporan per 25 Mei 2026—sebelum pembelian terbaru—Bitmine melaporkan portofolio yang lebih mirip dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) daripada neraca perusahaan biasa :
Dengan menambahkan sekitar 25.000 ETH yang baru dibeli setelah 25 Mei, estimasi total kepemilikan kini menjadi sekitar 5,41 juta ETH, atau sekitar 4,49% dari pasokan yang beredar—berarti progres telah mencapai 89% menuju target 5% .
Yang membedakan Bitmine dari ETF pasif atau sekadar 'pemegang kripto' perusahaan biasa adalah strategi agresif mereka dalam melakukan staking terhadap hampir semua aset yang dibeli. Pada 25 Mei, perusahaan melaporkan 4.712.917 ETH dalam kondisi aktif di-staking—sekitar 87% dari total—menghasilkan pendapatan yang diproyeksikan mencapai USD 276 juta per tahun (sekitar Rp 4,4 triliun), berdasarkan imbal hasil staking tujuh harian sebesar 2,75% .
Operasi staking ini dilakukan melalui platform institusional bernama MAVAN dan para mitranya. Perlu dicatat, angka imbal hasil 2,75% ini menurun dari 2,86% yang tercatat dua minggu sebelumnya, mencerminkan tren yang lebih luas di jaringan Ethereum: seiring meningkatnya jumlah ETH yang di-staking di seluruh jaringan, imbal hasil per unitnya tertekan . Meskipun begitu, Chairman Bitmine menegaskan keunggulan skala, dengan pernyataan, "Bitmine telah me-staking ETH lebih banyak daripada entitas lain di dunia"
.
Buku panduan dasar Bitmine cukup lugas: beli besar-besaran saat sentimen pasar sedang ketakutan, lakukan staking untuk menghasilkan imbal hasil, dan biarkan efek 'pengeringan pasokan' bertambah seiring waktu.
Ada pula tesis mekanis: dengan membeli dan me-staking sebagian besar ETH yang beredar, Bitmine berargumen bahwa mereka secara efektif menarik pasokan dari pasar likuid. Perusahaan ini bahkan mengklaim bahwa aksinya turut menyebabkan pasokan Ethereum menjadi disinflationary (deflasi) sejak pertengahan tahun 2025 .
Aksi borong ini tentu saja tidak luput dari perhatian. Hal ini telah memicu diskusi lebih luas mengenai desentralisasi dan konsentrasi kekuatan, karena satu entitas korporasi yang menguasai hampir 5% pasokan jaringan menimbulkan pertanyaan tentang potensi pengaruhnya—meskipun secara teknis ETH yang di-staking tidak memberikan kendali tata kelola secara langsung .
Ambisi perusahaan ini ternyata tidak berhenti pada saldo ETH-nya. Pada 9 April 2026, Bitmine resmi naik kelas dari NYSE American ke papan utama New York Stock Exchange, dengan tetap menggunakan kode saham BMNR. Bersamaan dengan itu, dewan direksi mengesahkan program share repurchase (pembelian kembali saham) senilai USD 4 miliar (sekitar Rp 64 triliun)—sebuah langkah yang dimaksudkan untuk mengirimkan sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap nilai fundamental neraca yang kental dengan kripto, sekaligus menarik perhatian investor institusi yang lebih besar .
Transformasi ini sangatlah dramatis. Pada awal Februari 2026, perusahaan 'hanya' memegang 4,33 juta ETH, atau 3,58% dari pasokan. Pada akhir Mei, total itu sudah melonjak lebih dari satu juta ETH—cerminan nyata dari mesin akumulasi yang sepertinya didesain untuk terus berjalan hingga target 5% resmi tertembus .
Di balik semua perhatian, angka-angka tersebut datang dengan catatan penting yang perlu dipahami investor:
Comments
0 comments