Inilah perbedaan krusialnya: UNTUK virus Zaire, sudah ada vaksin (Ervebo) dan terapi yang disetujui WHO. Namun, untuk Bundibugyo, belum ada vaksin atau obat antivirus spesifik yang mendapat izin . Hal ini membuat upaya penanganan sangat bergantung pada langkah-langkah klasik kesehatan masyarakat seperti pelacakan kontak, isolasi, dan perawatan suportif. Menteri Kesehatan RDK, Roger Kamba, memperingatkan bahwa strain ini memiliki "tingkat fatalitas sangat tinggi yang bisa mencapai 50%"
.
Per 29–30 Mei 2026, angka resmi yang dirilis menunjukkan:
Namun, para pejabat WHO meyakini beban sebenarnya jauh lebih besar. Alasannya, pengujian dan pengawasan sangat terbatas, terutama di daerah-daerah yang dilanda konflik . Dari lebih 1.000 total kasus yang dilaporkan di RDK, hanya sedikit yang terkonfirmasi laboratorium. Banyak kematian terjadi di pelosok sebelum sampel bisa diambil dan dikirim ke laboratorium
.
“RDK menyatakan bahwa pada 27 Mei, seorang pasien sembuh, meninggalkan rumah sakit, dan telah dipulangkan ke komunitas,” kata Anais Legand dari WHO pada 29 Mei . Ini adalah kasus kesembuhan pertama yang terkonfirmasi laboratorium dalam wabah kali ini.
Meskipun menjadi tonggak, perlu dicatat bahwa ini adalah pasien terkonfirmasi pertama yang sembuh. WHO memperkirakan ada juga pasien suspek lain yang sembuh tanpa konfirmasi laboratorium. Kesembuhan ini dicapai dengan perawatan suportif intensif, bukan dengan obat spesifik. Dr. Richard Kitengé, yang menangani pasien tersebut, menyebut banyak pasien lain juga menunjukkan kemajuan baik dan mungkin akan dipulangkan dalam 48-72 jam ke depan .
Pada 17 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menetapkan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) .
Yang menarik, ini adalah pertama kalinya seorang Dirjen WHO membuat deklarasi PHEIC sebelum menggelar Komite Darurat. Langkah di luar kebiasaan ini diambil karena meningkatnya kasus, penyebaran lintas batas ke Uganda, dan ketidakpastian besar mengenai skala epidemi yang sesungguhnya .
Dua hari setelahnya, pada 28 Mei, Dr. Tedros tiba di Kinshasa untuk kunjungan resmi demi mendukung respons nasional. Setibanya di sana, ia langsung melontarkan seruan yang tidak biasa dari seorang pemimpin badan kesehatan dunia.
“Saya menyerukan gencatan senjata. Kami tidak bisa memerangi virus ini jika kami tidak bisa menjangkau masyarakatnya,” tegas Dr. Tedros .
Inilah inti tantangan terbesar wabah ini: ketidakamanan. Provinsi Ituri dan Kivu Utara adalah sarang aktivitas kelompok bersenjata. Pejabat WHO melaporkan bahwa pelacakan kontak—salah satu senjata paling dasar melawan Ebola—sedang gagal total. Ketidakamanan dan pengungsian massal membuat petugas kesehatan tidak bisa menjangkau sebagian besar kontak suspek .
Dr. Tedros menggambarkan wabah ini sebagai “sangat kompleks”, menyebut bukan hanya konflik, tapi juga pengungsian penduduk, kelangkaan pangan, ketidakpercayaan komunitas, dan medan sulit sebagai hambatan penanganan . Ia mendesak pendanaan internasional lebih besar dan memperingatkan bahwa negara-negara tetangga menghadapi “risiko yang sangat tinggi”
.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan RDK, Roger Kamba, mendorong narasi agar tidak panik. Pada 29 Mei, ia menyatakan, “Saya mendengar di media bahwa epidemi ini 'di luar kendali'... bukan itu masalahnya.” .
Kamba mengakui bahwa wabah ini masih dalam tahap awal dan mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan untuk diatasi. Ia menyebut jumlah orang dengan gejala yang kompatibel sudah mencapai sekitar 1.000, dengan sekitar 3.600 kontak sedang dipantau . Artinya, sistem kesehatan masih berjuang untuk sekadar “melihat” skala penuh dari ancaman ini, apalagi mengendalikannya.
Wabah ini dengan jelas menunjukkan bahwa respons terhadap penyakit menular di era modern bukan hanya pertarungan sains melawan virus. Di Kongo timur, ini adalah pertarungan melawan:
Tanpa vaksin, setiap kasus adalah pertempuran sendiri. Tanpa akses aman, setiap pertempuran itu semakin berat. Kesembuhan pasien pertama menjadi pengingat kuat: langkah-langkah kesehatan masyarakat dasar bisa berhasil. Tantangannya adalah menciptakan kondisi agar langkah-langkah itu bisa berjalan.
Comments
0 comments