Tim dari Max Planck Institute dan Universitas Bonn mengidentifikasi makrofag di hati merpati sebagai sel sensor utama yang mendeteksi medan magnet Bumi [15][23]. Mekanisme ini mengandalkan efek kuantum superparamagnetik dari nanopartikel besi oksida yang terkumpul di dalam sel imun saat mendaur ulang sel darah merah...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the biological mechanism behind pigeons' ability to sense Earth's magnetic field for navigation, and what evidence supports the find. Article summary: Here is a comprehensive answer based on the newly published research (May 28, 2026, in *Science* by Clivia Lisowski and colleagues at the Max Planck Institute for Biological Intelligence / the Institute of Neurobiology i. Topic tags: general, government, academic, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Electron microscopy image of pigeon liver tissue shows hepatic macrophage (blue) in contact to nerve fiber (yellow), which enables them to transmit (“magnetic”) information to the" source context "How pigeons exploit magnetic fields for navigation" Reference image 2: visual subject "# How pi
Bagaimana seekor merpati pos yang dilepas ratusan kilometer jauhnya bisa pulang dengan tepat? Misteri ini telah membingungkan para ilmuwan selama puluhan tahun. Teori lama menunjuk pada sel saraf kaya besi di paruh, atau protein kriptokrom di mata yang bekerja dengan mekanisme pasangan radikal kuantum . Namun, penelitian revolusioner yang dipublikasikan pada 28 Mei 2026 di jurnal Science oleh Clivia Lisowski dan timnya dari Max Planck Institute for Biological Intelligence dan Universitas Bonn, Jerman, akhirnya menemukan jawaban yang mengejutkan: kompas internal merpati tersembunyi di dalam hati mereka.
Berlawanan dengan dugaan sebelumnya, sensor magnetik merpati bukanlah sel saraf khusus. Tim peneliti Jerman secara sistematis memindai semua organ merpati untuk mencari sinyal magnetik dan menemukan sinyal kuat dari organ yang tidak terduga: hati (liver) .
Di dalam hati, mereka mengidentifikasi makrofag, sejenis sel darah putih yang berfungsi sebagai 'petugas kebersihan' sistem imun, sebagai sel yang mengumpulkan besi. Proses ini terjadi secara alami: makrofag mendaur ulang sel darah merah yang sudah tua. Saat memecah hemoglobin, produk sampingan berupa atom besi menumpuk di dalamnya .
Atom-atom besi ini kemudian membentuk kluster nanopartikel besi oksida superparamagnetik (superparamagnetic iron oxide nanoparticles/SPIONs). Partikel ini berukuran sangat kecil, kurang dari 30 nanometer, sehingga pada suhu tubuh, mereka tidak memiliki momen magnetik permanen. Namun, sifat superparamagnetik ini memungkinkan mereka untuk langsung menjadi magnet kuat begitu terpapar medan magnet eksternal—dalam hal ini, medan magnet Bumi yang sangat lemah (sekitar 25–65 µT)—lalu kehilangan daya magnetnya kembali saat medan hilang, mencegah penggumpalan permanen .
Saat merpati mengubah orientasi terbang terhadap medan geomagnetik, nanopartikel ini secara fisik berotasi atau mengelompok. Gerakan mekanis ini diduga merusak bentuk membran atau sitoskeleton sel makrofag. Deformasi mekanis inilah yang diubah menjadi sinyal listrik—sebuah proses transduksi yang cerdas .
Pertanyaan kritisnya: bagaimana sinyal dari hati mencapai otak? Hati ternyata dipersarafi dengan kaya oleh saraf vagus, saraf parasimpatis utama yang langsung menghubungkan organ dalam ke batang otak.
Model yang diusulkan para peneliti adalah sinyal listrik dari makrofag yang terdeformasi ditangkap oleh ujung saraf vagus di hati, lalu dikirim ke nukleus vestibular medial dan area lain di batang otak yang telah diidentifikasi sebelumnya sebagai pusat pemrosesan navigasi dan orientasi spasial . Studi pemetaan aktivitas otak penuh pada merpati telah mengonfirmasi bahwa neuron di wilayah-wilayah ini aktif merespons perubahan medan magnet
.
Bukti paling meyakinkan datang dari eksperimen 'depletion' atau penghilangan. Para ilmuwan secara temporer melumpuhkan atau menghilangkan makrofag kaya besi di hati sekelompok merpati pos. Mereka lalu melepaskan burung-burung itu di bawah kondisi langit mendung total, di mana matahari tidak terlihat sama sekali.
Hasilnya dramatis: "Mereka tidak bisa menemukan jalan pulang," ujar Christian Kurts dari Universitas Bonn. Burung-burung yang kehilangan makrofag hatinya benar-benar kehilangan kemampuan navigasi, sementara kelompok kontrol yang tidak diobati tetap bisa pulang dengan normal .
Eksperimen ini juga membuktikan sebuah strategi navigasi ganda yang elegan:
Inilah mengapa penghilangan makrofag hanya melumpuhkan navigasi saat cuaca buruk, bukan saat cerah .
Selama bertahun-tahun, hipotesis dominan adalah bahwa merpati mendeteksi medan magnet melalui sel-sel kaya besi di paruh atas yang dipersarafi saraf trigeminal. Namun, pada tahun 2012, sebuah studi penting membuktikan bahwa sel-sel di paruh itu sebenarnya adalah makrofag, bukan neuron sensorik, sehingga sangat tidak mungkin berperan sebagai sensor magnetik .
Ironisnya, studi baru 2026 ini justru "memvalidasi" gagasan bahwa makrofag dapat menjadi mediator magnetoresepsi—tetapi menempatkan sensor fungsionalnya di hati, bukan di paruh, dan mengidentifikasi saraf vagus (bukan trigeminal) sebagai jalur saraf yang relevan .
Penemuan ini tidak hanya memecahkan misteri navigasi burung yang telah berusia puluhan tahun, tetapi juga mendemonstrasikan bagaimana alam memanfaatkan fenomena kuantum untuk solusi biologis yang luar biasa.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Tim dari Max Planck Institute dan Universitas Bonn mengidentifikasi makrofag di hati merpati sebagai sel sensor utama yang mendeteksi medan magnet Bumi [15][23].
Tim dari Max Planck Institute dan Universitas Bonn mengidentifikasi makrofag di hati merpati sebagai sel sensor utama yang mendeteksi medan magnet Bumi [15][23]. Mekanisme ini mengandalkan efek kuantum superparamagnetik dari nanopartikel besi oksida yang terkumpul di dalam sel imun saat mendaur ulang sel darah merah tua [5][7][12].
Sinyal magnetik dari hati dikirim ke otak melalui saraf vagus, bukan saraf trigeminal seperti yang diyakini sebelumnya, menuju pusat navigasi di batang otak [5][6][9].