Tiga badai besar telah berkumpul untuk meredam laju indeks patokan Eropa ini: dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah, kembalinya momok kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), dan fondasi reli pasar yang ternyata sangat rapuh karena hanya ditopang oleh segelintir saham kecerdasan buatan (AI).
Kekhawatiran terbesar datang dari memanasnya konflik di Iran. Blokade di Selat Hormuz telah menghentikan jalur vital perdagangan minyak dunia, mengirimkan harga energi melonjak tajam dan menciptakan krisis pasokan energi yang mengingatkan pada krisis minyak tahun 1970-an.
Dampaknya langsung merambat ke Eropa. Komisioner Ekonomi Uni Eropa, Valdis Dombrovskis, memberikan gambaran yang mengerikan: konflik ini berpotensi memangkas 0,4 poin persentase dari pertumbuhan Uni Eropa di tahun 2026 dan menambah inflasi hingga 1 poin persentase. Kenyataan di lapangan pun mulai mengkonfirmasi kekhawatiran ini. Sektor swasta zona euro kembali mengalami kontraksi pada April 2026, mencatat kinerja terlemahnya dalam 18 bulan terakhir.
“Zona euro sedang menghadapi masalah ekonomi yang semakin dalam akibat perang di Timur Tengah,” ujar Chris Williamson, Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global Market Intelligence. “Konflik ini telah mendorong ekonomi ke dalam penurunan pada bulan April, sekaligus mendorong inflasi naik tajam.”
Meski beberapa analis dari UBS melihat ini sebagai "kejutan inflasi sementara yang didorong energi," bayang-bayang stagflasi—pertumbuhan rendah yang dibarengi inflasi tinggi—kini semakin nyata dan menjadi skenario yang paling dikhawatirkan.
Narasi suku bunga rendah yang selama ini menjadi bahan bakar reli pasar kini sirna. Sepanjang tahun 2025, ECB telah memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan. Namun, lonjakan inflasi akibat perang Iran membuat bank sentral ini harus melakukan manuver drastis.
Pada 19 Maret 2026, ECB memutuskan untuk menahan suku bunga deposito di level 2,00% dan merevisi naik proyeksi inflasinya. Keputusan ini menjadi titik balik. Survei Bloomberg pada Mei 2026 menunjukkan para ekonom memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pada Juni dan September 2026.
Ekspektasi pasar bahkan lebih agresif. Pasar swap memperhitungkan probabilitas sekitar 70% untuk dua kali kenaikan suku bunga tahun ini, sementara platform prediksi Polymarket menunjukkan konsensus trader sebesar 89% bahwa setidaknya akan ada satu kali kenaikan. Kebijakan moneter yang lebih ketat ini jelas menjadi batu sandungan besar bagi valuasi pasar saham yang selama ini dinikmati dalam era uang murah.
Di tengah awan gelap perang dan inflasi, saham-saham AI sempat menjadi secercah harapan. Namun, ada masalah mendasar: penggerak utama reli pasar ini ternyata sangat sempit. Kinerja positif bursa Eropa terbukti sangat bergantung pada segelintir nama.
Riset dari TS Lombard mengungkap fakta yang mengejutkan: dua keranjang saham terkait AI menyumbang lebih dari dua pertiga dari kinerja positif di bursa Eropa selama satu setengah bulan terakhir.
“Kinerja keranjang AI Uni Eropa kami sejak April setara dengan Nasdaq, hanya sedikit di belakang Taiwan,” kata Davide Oneglia, direktur makro global dan Eropa di TS Lombard, merujuk pada indeks teknologi AS dan bursa Taiwan.
Dalam laporan STOXX edisi Februari 2026, disebutkan terjadi rotasi keluar dari saham-saham teknologi dan masuk ke sektor-sektor value Eropa yang berharga murah. Ini adalah cerminan dari pola di pasar AS, di mana indeks S&P 500 dengan bobot setara (equal-weight) tertinggal jauh dari versi berbobot kapitalisasi pasar (cap-weighted), yang membuktikan bahwa reli hanya dinikmati oleh segelintir raksasa teknologi.
Intinya: Jika sentimen terhadap AI berbalik, indeks STOXX 600 akan sangat rentan karena tidak memiliki dukungan yang kuat dari sektor-sektor lainnya.
Jajak pendapat Reuters terbaru memproyeksikan indeks STOXX 600 akan berada di level 640 poin pada akhir tahun 2026, hanya menyiratkan kenaikan tipis 2% dari posisinya saat jajak pendapat dilakukan. Ini adalah koreksi realitas yang pahit dari optimisme sebelumnya.
Kombinasi guncangan stagflasi dari perang Iran, langkah ECB yang terpaksa kembali ke jalur kenaikan suku bunga , dan ketergantungan pasar pada reli saham AI yang sangat terkonsentrasi menciptakan badai yang sempurna bagi prospek bursa Eropa. Para investor dengan berani memulai tahun ini, namun kini mereka harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa reli telah kehabisan bahan bakar, dan perjalanan yang tersisa di tahun 2026 kemungkinan besar akan mendatar dan penuh kehati-hatian.