Namun, kekhawatiran publik sirna ketika hasil tes keluar. Kementerian Kesehatan Italia mengonfirmasi bahwa kedua spesimen negatif Ebola. Hasil diagnosa lebih lanjut menunjukkan bahwa mereka justru menderita infeksi bakteri Shigella yang menyebabkan gejala gastrointestinal akut . Dalam pernyataan persnya, kementerian menegaskan bahwa risiko Ebola di Italia "tetap sangat rendah"
. Meski begitu, peristiwa ini menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan global terhadap wabah yang sedang terjadi.
Ketika alarm di Italia mereda, situasi di Afrika Sub-Sahara justru memburuk. Berdasarkan data per 24 Mei 2026 yang terkonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan DRC dan Uganda, berikut adalah rincian kasus yang dilaporkan :
Republik Demokratik Kongo (DRC):
Uganda:
Penting untuk dicatat: Angka di atas adalah gabungan dari wabah yang sedang berlangsung. Sebelumnya, pada awal 2025, Uganda telah menyatakan berakhirnya wabah virus Sudan (dideklarasikan 30 Januari 2025 dan berakhir 26 April 2025) yang melibatkan 14 kasus .
Apa yang membuat krisis kali ini begitu menantang adalah identitas virus penyebabnya. Penyelidikan laboratorium mengonfirmasi bahwa wabah ini dipicu oleh virus Bundibugyo (Orthoebolavirus bundibugyoense) .
Ini bukanlah strain Zaire yang biasa mendominasi berita. Virus Bundibugyo adalah spesies langka yang pertama kali muncul di Distrik Bundibugyo, Uganda, pada 2007. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah merilis Health Alert Network Advisory pada 19 Mei 2026 terkait penyebaran lintas batas antara DRC dan Uganda ini .
C. Raina MacIntyre, seorang pakar keamanan kesehatan global dari UNSW Sydney, menjelaskan bahwa wabah telah berkembang sangat cepat. "Pada 15 Mei, ketika dikonfirmasi sebagai Ebola, sudah ada estimasi 246 kasus. Dengan peningkatan pengawasan, jumlah itu kini berlipat ganda," ungkapnya .
Baca Juga: Mengapa Wabah Kali Ini Sulit Diatasi
Salah satu tantangan terbesar dalam mengendalikan wabah Bundibugyo adalah kekosongan intervensi medis spesifik. Pusat data dan otoritas kesehatan secara eksplisit menyatakan :
Konsekuensinya, upaya respons lebih bergantung pada perawatan suportif (menjaga hidrasi dan fungsi organ), pengendalian infeksi, pelacakan kontak, dan isolasi . Hal ini sangat kontras dengan wabah di Kasai, DRC, pada akhir 2025, di mana lebih dari 35.000 individu berhasil divaksinasi menggunakan stok Ervebo
.
Ketiadaan tameng biologis inilah yang membuat komunitas internasional, termasuk Italia, berada dalam mode siaga tinggi. Meskipun alarm di Milan terbukti palsu, krisis di jantung Afrika masih bergulir tanpa senjata spesifik untuk melawannya.
Artikel ini diperbarui berdasarkan data terbaru otoritas setempat. Tetap pantau informasi selanjutnya.