Perbedaan angka terutama disebabkan oleh perbedaan waktu pelaporan dan keterbatasan pengawasan epidemiologi di wilayah terdampak.
Wabah ini disebabkan oleh Bundibugyo virus, salah satu jenis virus Ebola yang relatif jarang ditemukan. Virus ini dikonfirmasi melalui analisis laboratorium oleh Institut Nasional Penelitian Biomedis (INRB) di Kinshasa.
Strain ini dianggap mengkhawatirkan karena beberapa alasan utama:
Vaksin Ebola yang sudah tersedia saat ini ditujukan untuk strain Zaire, sehingga tidak otomatis memberikan perlindungan terhadap Bundibugyo.
Sejauh ini, penyebaran utama terjadi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut DRC yang berbatasan dengan Uganda.
Otoritas kesehatan melaporkan bahwa wabah telah memengaruhi setidaknya sembilan zona kesehatan di negara tersebut.
Perkembangan terbaru menunjukkan:
Bukti resmi mengenai penyebaran signifikan ke South Kivu masih terbatas dalam laporan awal yang tersedia.
Pejabat kesehatan memperkirakan jumlah infeksi sebenarnya mungkin lebih tinggi dari yang dilaporkan. Beberapa faktor utama:
WHO pertama kali menerima peringatan tentang penyakit misterius dengan kematian tinggi pada 5 Mei 2026 di Zona Kesehatan Mongbwalu, Ituri, termasuk kematian tenaga kesehatan.
Pada 15 Mei 2026, tes laboratorium memastikan penyakit tersebut adalah Ebola strain Bundibugyo, dan wabah resmi diumumkan oleh pemerintah DRC serta Uganda.
Pada 16 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) berdasarkan Regulasi Kesehatan Internasional.
Status ini menandakan bahwa wabah memiliki potensi risiko internasional dan memerlukan koordinasi global dalam respons kesehatan.
Sejumlah langkah telah diambil oleh organisasi kesehatan global dan pemerintah:
Saat ini:
Perawatan terutama berfokus pada perawatan suportif dini, seperti menjaga cairan tubuh dan mengobati komplikasi, yang dapat meningkatkan peluang bertahan hidup.
Secara historis, virus Bundibugyo memiliki tingkat kematian sekitar 30% dari pasien yang terinfeksi.
Namun, dalam tahap awal wabah, rasio kematian sering tampak lebih tinggi karena banyak kasus masih diklasifikasikan sebagai kasus suspek dan pengawasan kesehatan belum sepenuhnya lengkap.
Dengan meningkatnya pengujian dan pelacakan kontak, angka tersebut biasanya menjadi lebih akurat seiring waktu.