Sejak kasus‑kasus pertama teridentifikasi, jumlah korban terus bertambah. Data yang dirilis organisasi kesehatan internasional dan otoritas setempat menunjukkan situasi yang masih berkembang cepat:
Perbedaan angka ini mencerminkan kenyataan bahwa dalam tahap awal wabah, kasus yang dikonfirmasi melalui laboratorium sering kali tertinggal dari jumlah kasus suspek di lapangan.
Wabah Ebola Bundibugyo di RD Kongo dan Uganda telah memicu respons global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan situasi ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), atau keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
WHO menilai risiko di tingkat nasional di RD Kongo “sangat tinggi,” sementara risiko global masih dianggap rendah.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyatakan risiko penyebaran ke AS saat ini rendah, tetapi tetap memperketat pengawasan perjalanan serta memperingatkan tenaga kesehatan untuk segera mengidentifikasi dan mengisolasi kasus yang dicurigai.
Kasus tiga relawan Palang Merah menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan epidemiologi wabah. Jika paparan mereka pada 27 Maret memang terkait dengan wabah Bundibugyo saat ini, maka rantai penularan kemungkinan sudah aktif jauh sebelum kasus pertama dikonfirmasi di laboratorium pada pertengahan Mei.
Bagi para ahli kesehatan masyarakat, informasi seperti ini sangat penting untuk memahami bagaimana dan kapan wabah benar‑benar dimulai, serta untuk menelusuri jalur penularan yang mungkin masih tersembunyi di masyarakat.