Analisis tulang dan gigi menunjukkan bahwa sisa-sisa tersebut berasal dari minimal 37 orang, termasuk anak‑anak maupun orang dewasa.
Di dalamnya juga ditemukan benda-benda budaya seperti manik kaca impor dan artefak lainnya, yang menunjukkan bahwa penempatan tulang di dalam guci kemungkinan merupakan bagian dari aktivitas ritual.
Jumlah sisa manusia yang begitu banyak mengejutkan para peneliti karena penemuan pemakaman manusia langsung di dalam guci batu sebelumnya sangat jarang.
Uji penanggalan radiokarbon pada tulang dan gigi menunjukkan bahwa sisa-sisa tersebut ditempatkan di dalam guci antara abad ke‑9 dan ke‑12 M.
Data ini juga menunjukkan bahwa guci tersebut tidak diisi sekaligus, melainkan digunakan berulang kali selama periode panjang—mungkin hingga sekitar 270 tahun.
Artinya, generasi demi generasi kembali ke lokasi yang sama untuk menempatkan sisa-sisa kerabat atau anggota komunitas mereka.
Petunjuk penting berasal dari kondisi tulangnya. Para arkeolog tidak menemukan kerangka utuh, melainkan tulang yang terpisah‑pisah (disarticulated) dari berbagai bagian tubuh.
Pola ini sangat konsisten dengan praktik pemakaman sekunder, yaitu proses pemakaman dua tahap:
Di dalam guci, para peneliti juga melihat pola penataan tertentu: tengkorak ditempatkan di tepi guci, sementara tulang lengan dan kaki dikelompokkan bersama.
Pengaturan ini memperkuat dugaan bahwa guci tersebut berfungsi sebagai ruang pemakaman ritual yang terorganisasi, bukan sekadar tempat pembuangan tulang.
Karena berisi puluhan individu dari berbagai usia yang ditempatkan selama berabad‑abad, para peneliti menyimpulkan bahwa guci itu kemungkinan merupakan makam komunal untuk keluarga besar atau komunitas tertentu.
Penggunaan berulang menunjukkan adanya kegiatan ritual yang berhubungan dengan penghormatan terhadap leluhur, di mana masyarakat kembali ke lokasi yang sama untuk menempatkan sisa-sisa anggota komunitas mereka.
Dalam konteks ini, guci batu kemungkinan menjadi titik upacara penting dalam lanskap megalitik di wilayah tersebut.
Plain of Jars sendiri adalah salah satu situs arkeologi paling misterius di Asia Tenggara. Di wilayah ini terdapat lebih dari 2.000 guci batu besar yang tersebar di lebih dari 100 lokasi.
Selama bertahun‑tahun, para peneliti mengajukan berbagai teori—mulai dari tempat penyimpanan makanan atau air hingga wadah perdagangan.
Penemuan puluhan sisa manusia langsung di dalam satu guci kini memberikan bukti paling jelas sejauh ini bahwa setidaknya sebagian guci digunakan untuk fungsi pemakaman.
Menariknya, para arkeolog menduga bahwa guci batu itu sendiri kemungkinan jauh lebih tua daripada sisa-sisa manusia yang ditemukan di dalamnya.
Ini berarti masyarakat yang hidup pada abad pertengahan mungkin menemukan lanskap megalitik yang sudah kuno, lalu menggunakannya kembali sebagai tempat ritual pemakaman.
Aktivitas ritual di situs guci tampaknya berlanjut hingga sekitar abad ke‑13 M, periode ketika kawasan tersebut mengalami perubahan budaya dan agama, termasuk penyebaran agama Buddha.
Namun, para peneliti menekankan bahwa hubungan langsung antara pemakaman dalam guci dan praktik Buddhis masih bersifat spekulatif dan membutuhkan bukti lebih lanjut.
Ekskavasi di Site 75 menjadi salah satu penelitian paling informatif tentang Plain of Jars hingga saat ini. Temuan ini memberikan:
Secara keseluruhan, penemuan ini membawa para peneliti selangkah lebih dekat untuk memahami lanskap megalitik misterius di Laos—serta masyarakat yang kembali ke tempat itu selama berabad‑abad untuk menghormati orang yang telah meninggal.