Sektor otomotif adalah salah satu pengguna semikonduktor terbesar di Eropa. Mobil modern menggunakan ratusan chip untuk berbagai fungsi—mulai dari sistem keselamatan hingga manajemen baterai kendaraan listrik.
Karena itu, gangguan kecil pada pasokan chip dapat langsung menghentikan jalur produksi kendaraan. Komisi Eropa kini mempertimbangkan pendekatan baru yang menempatkan manajemen risiko sebagai prioritas, bukan sekadar efisiensi biaya.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa rancangan kebijakan baru dapat mencakup ketentuan agar produsen mobil menggunakan setidaknya dua pemasok chip untuk komponen tertentu dan memasukkan faktor ketahanan rantai pasok dalam keputusan pengadaan mereka.
Pendekatan ini dimaksudkan untuk mencegah situasi di mana satu perusahaan atau satu wilayah menjadi "titik lemah" yang bisa melumpuhkan industri otomotif Eropa.
Kekhawatiran tentang ketergantungan tersebut semakin kuat setelah krisis yang melibatkan Nexperia, produsen semikonduktor yang berbasis di Belanda tetapi memiliki hubungan dengan perusahaan China.
Pada akhir September 2025, pemerintah Belanda mengambil langkah luar biasa dengan mengambil alih kendali perusahaan tersebut karena alasan keamanan ekonomi dan tata kelola.
Langkah itu memicu ketegangan geopolitik dengan Beijing, yang kemudian menerapkan pembatasan ekspor terkait produksi Nexperia di China.
Akibatnya, pasokan chip tertentu—terutama komponen yang digunakan dalam elektronik otomotif—menjadi tidak stabil dan menimbulkan kekhawatiran akan penghentian produksi mobil di Eropa dan wilayah lain.
Krisis ini memperlihatkan satu fakta penting: bahkan chip yang relatif sederhana sekalipun dapat menjadi titik kemacetan global jika produksi terkonsentrasi pada beberapa pemasok saja.
Walau rancangan finalnya belum dipublikasikan, diskusi kebijakan dan laporan media menunjukkan beberapa langkah yang kemungkinan dipertimbangkan:
EU Chips Act II merupakan bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat kedaulatan teknologi (technological sovereignty) Eropa. Artinya, Uni Eropa ingin memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam desain, produksi, dan pengembangan chip sehingga tidak terlalu bergantung pada pemasok dari luar kawasan.
Pendekatan ini tidak hanya menyasar pabrik chip (fabs), tetapi juga seluruh ekosistem semikonduktor—mulai dari penelitian, desain chip, hingga aplikasi industri seperti otomotif, telekomunikasi, energi, dan kecerdasan buatan.
Penting dicatat bahwa Chips Act II masih berupa proposal yang direncanakan, bukan undang‑undang yang sudah berlaku. Komisi Eropa diperkirakan akan merilis proposal resminya pada 2026 setelah proses evaluasi kebijakan sebelumnya selesai.
Artinya, beberapa ide seperti kewajiban diversifikasi pemasok chip bagi produsen mobil masih berada dalam tahap pembahasan dan belum menjadi aturan final.
Namun arah kebijakan Uni Eropa sudah cukup jelas: membangun industri semikonduktor yang lebih kuat dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu pemasok atau satu negara.
Comments
0 comments