Pada 2025–2026, AI coding assistant berubah dari sekadar alat opsional menjadi bagian rutin dari workflow developer. Banyak engineer menggunakan AI untuk membantu menulis kode, membuat dokumentasi, debugging, hingga mencari solusi teknis.
Namun ada tren menarik: penggunaan meningkat, tetapi tingkat kepercayaan terhadap hasil AI justru menurun. Banyak developer merasa tetap perlu mengecek dan memperbaiki kode yang dihasilkan AI sebelum digunakan di sistem produksi.
Hal ini membuat keuntungan produktivitas tidak selalu sebesar yang dibayangkan.
Salah satu faktor utama adalah perubahan struktur biaya.
Estimasi penggunaan enterprise untuk Claude Code dilaporkan naik dari sekitar $6 menjadi sekitar $13 per developer per hari aktif, dengan sebagian pengguna bisa mencapai $30 per hari.
Dalam praktiknya, biaya skala perusahaan biasanya berada di kisaran $150–$250 per developer per bulan, sebelum optimasi penggunaan dilakukan.
Masalahnya menjadi jauh lebih besar ketika ribuan engineer memakai alat yang sama. Banyak vendor AI kini menggunakan model harga berbasis token, artinya perusahaan membayar setiap kali model memproses atau menghasilkan teks atau kode.
Akibatnya, semakin intens penggunaan, semakin cepat biaya membengkak—sering kali melampaui perencanaan anggaran awal.
Salah satu contoh paling sering dibahas adalah Uber.
Menurut laporan yang beredar, perusahaan ride‑hailing tersebut menghabiskan seluruh anggaran AI internal untuk 2026 pada bulan April, hanya sekitar empat bulan setelah tahun berjalan.
Hal ini terjadi setelah Claude Code diadopsi luas oleh sekitar 5.000 engineer di perusahaan tersebut.
Kasus ini menunjukkan bagaimana biaya kecil per developer dapat berubah menjadi pengeluaran sangat besar ketika digunakan secara luas di organisasi dengan ribuan staf teknis.
Microsoft dilaporkan mengambil langkah serupa.
Setelah memberikan akses Claude Code kepada ribuan karyawan internal, perusahaan tersebut kini disebut membatalkan sebagian besar lisensi internalnya dan mengalihkan developer ke GitHub Copilot CLI, alat AI coding yang lebih terintegrasi dengan ekosistem Microsoft.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan akuntabilitas dalam pengeluaran AI dan mengontrol biaya penggunaan di seluruh organisasi.
Perlu dicatat bahwa ini bukan berarti Microsoft meninggalkan teknologi Anthropic sepenuhnya—model Claude masih tersedia melalui beberapa layanan Microsoft lainnya—tetapi antarmuka dan alat utama yang digunakan developer bisa berubah.
Narasi populer menyebut AI akan membuat pengembangan software jauh lebih cepat dan murah. Namun penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang lebih rumit.
Sebuah randomized controlled trial (RCT) terhadap developer open‑source berpengalaman menemukan bahwa penggunaan alat AI generatif justru membuat mereka menyelesaikan tugas sekitar 19% lebih lambat, meskipun para developer merasa mereka bekerja lebih cepat.
Penelitian lain juga memperingatkan bahwa peningkatan volume kode yang dihasilkan AI bisa menambah beban review dan memperbesar risiko technical debt jika kualitas kode tidak konsisten.
Dengan kata lain, AI coding tools bisa membantu dalam beberapa situasi—misalnya membuat prototipe atau tugas sederhana—tetapi dampaknya terhadap produktivitas nyata dalam proyek besar masih bervariasi.
Dari berbagai laporan tersebut, satu pola mulai terlihat:
Artinya, perusahaan seperti Uber dan Microsoft kemungkinan tidak meninggalkan AI coding, tetapi sedang menyesuaikan strategi agar teknologi ini tetap ekonomis ketika digunakan oleh ribuan developer sekaligus.
Beberapa klaim terkait Uber dan Microsoft berasal dari laporan media dan sumber sekunder, bukan pernyataan resmi perusahaan. Karena itu, detailnya sebaiknya dipahami sebagai laporan yang sedang berkembang, bukan konfirmasi final dari perusahaan tersebut.
Comments
0 comments