Sberbank ingin menggunakan chip AI buatan China untuk menjalankan model GigaChat karena sanksi Barat setelah invasi Ukraina membatasi akses Rusia ke semikonduktor canggih seperti GPU Nvidia.[5][55] Chip Huawei Ascend disebut sebagai kandidat utama, tetapi performanya masih di bawah GPU kelas atas seperti Nvidia H200...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What does Sberbank’s plan to power its GigaChat AI with Chinese-made chips reveal about Russia’s growing dependence on China for advanced te. Article summary: Assuming Sberbank is moving to power GigaChat with Chinese-made AI chips, the move would show Russia being pushed deeper into China’s technology ecosystem because Western sanctions have restricted access to advanced West. Topic tags: general, general web, user generated, academic, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "##### Sberbank Turns to Chinese Chips to Power Russia's GigaChat AI model. Russia’s largest bank, Sberbank, is planning to use Chinese-made semiconductor chips to power its GigaCha" source context "Sberbank Turns to Chinese Chips to Power Russia's GigaChat AI ..." Reference image 2: visual s
Upaya Rusia membangun kecerdasan buatan nasional kini semakin terkait dengan teknologi China. Sberbank—bank terbesar di Rusia sekaligus pengembang model bahasa besar GigaChat—mengatakan pihaknya berharap dapat menggunakan chip buatan China untuk menjalankan sistem AI mereka, karena sanksi Barat membatasi akses Rusia ke perangkat komputasi canggih dari luar negeri.
Langkah ini mencerminkan perubahan geopolitik yang lebih luas dalam industri AI global: sanksi dan kontrol ekspor mengubah rantai pasokan teknologi, mendorong Rusia mendekat ke ekosistem semikonduktor China.
Setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, dan sekutu mereka menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi dan kontrol ekspor terhadap Rusia.
Langkah tersebut mencakup pembatasan pada:
Uni Eropa memperketat kontrol ekspor atas teknologi dual-use untuk membatasi akses Rusia terhadap teknologi penting bagi sektor militer dan industri. Inggris dan negara sekutu juga melarang ekspor teknologi penting serta menjatuhkan sanksi pada bank-bank besar Rusia.
Selain itu, kontrol ekspor dari pemerintah Barat mewajibkan lisensi khusus—yang biasanya ditolak—untuk penjualan komponen teknologi tinggi seperti semikonduktor ke Rusia.
Akibatnya, kemampuan Rusia untuk membeli GPU canggih dari pemasok Barat seperti Nvidia menjadi sangat terbatas. Untuk sistem AI yang membutuhkan komputasi dalam skala besar, hal ini menciptakan hambatan besar.
Dengan akses ke rantai pasokan Barat yang hampir tertutup, China menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu menyediakan perangkat keras AI dalam skala besar.
Pemerintah Rusia sendiri telah mendorong kerja sama teknologi yang lebih dalam dengan China untuk mengurangi ketergantungan pada sistem Barat.
Saat kunjungan ke China, CEO Sberbank German Gref mengatakan bahwa bank tersebut berharap secara bertahap dapat menggunakan mikrochip China untuk menjalankan GigaChat, meskipun transisinya masih berlangsung.
Bagi kedua pihak, langkah ini memiliki manfaat strategis:
Namun hubungan ini tidak sepenuhnya seimbang. Rusia sangat bergantung pada pasokan komputasi dari luar negeri, sementara China sendiri masih menghadapi keterbatasan dalam manufaktur chip paling canggih.
Sberbank belum mengonfirmasi secara resmi prosesor mana yang akan digunakan. Namun laporan industri sering menyebut keluarga akselerator AI Huawei Ascend sebagai kandidat paling mungkin.
Huawei memperluas produksi chip tersebut sebagai bagian dari upaya China membangun ekosistem hardware AI domestik. Produksi akselerator Ascend 910C diperkirakan mencapai sekitar 600.000 unit pada 2026, sementara total produksi chip Ascend dapat mencapai sekitar 1,6 juta die dalam lini produknya.
Arsitektur Ascend dirancang untuk beban kerja pelatihan dan inferensi AI yang serupa dengan GPU pusat data Nvidia.
Namun permintaan domestik di China—dari perusahaan besar seperti ByteDance dan Alibaba—dapat membuat pasokan tetap ketat. Hal ini berpotensi menyulitkan pembeli luar negeri seperti Rusia untuk memperoleh jumlah besar.
Meski berkembang pesat, sebagian analis menilai chip China masih tertinggal dari akselerator Barat paling canggih.
Sebagai contoh:
Perbedaan ini tidak berarti chip China tidak bisa digunakan. Banyak organisasi mengatasinya dengan menjalankan cluster GPU yang lebih besar atau menggunakan teknik komputasi terdistribusi. Namun biasanya hal itu membutuhkan lebih banyak perangkat keras, energi, dan rekayasa sistem.
GigaChat sendiri merupakan keluarga model yang cukup kuat—terutama untuk tugas berbahasa Rusia. Model ini menggunakan arsitektur mixture‑of‑experts dengan sekitar 47 miliar parameter total dan 13 miliar parameter aktif, dan menunjukkan hasil yang baik pada beberapa benchmark matematika dan pemrograman.
Namun dalam perbandingan global, model Rusia masih tertinggal dari sistem AI terdepan.
Beberapa analisis benchmarking menempatkan model dari perusahaan Barat seperti OpenAI dan Anthropic di posisi teratas, sementara model Rusia termasuk GigaChat 2 Max muncul jauh lebih rendah dalam evaluasi komparatif.
Pengamatan lain juga menunjukkan bahwa GigaChat berada di bawah beberapa model Barat dan China—seperti seri GPT, Claude, atau model terbaru dari DeepSeek—dalam berbagai platform evaluasi publik.
Dalam praktiknya, kekuatan utama GigaChat adalah lokalisasi: model ini bekerja baik untuk bahasa Rusia dan aplikasi domestik, khususnya bagi perusahaan dan institusi di Rusia.
Strategi chip Sberbank mencerminkan perubahan geopolitik yang lebih luas dalam industri AI.
Beberapa tren utama yang terlihat:
Namun kemitraan ini juga menunjukkan keterbatasan. Chip paling canggih China masih tertinggal dari hardware Nvidia, dan permintaan domestik di China sudah sangat tinggi.
Bagi Rusia, teknologi China bukanlah pengganti sempurna—melainkan solusi praktis di tengah keterbatasan.
Rencana Sberbank menggunakan chip China untuk menjalankan GigaChat menunjukkan bagaimana geopolitik kini memengaruhi perkembangan AI.
Sanksi Barat secara efektif memutus sebagian akses Rusia ke rantai pasokan semikonduktor Barat, sehingga negara tersebut beralih ke hardware China seperti akselerator Huawei Ascend. Meski memungkinkan pengembangan AI tetap berjalan, chip ini masih berada di bawah GPU Nvidia dalam hal performa dan ekosistem perangkat lunak.
Hasil akhirnya adalah hubungan teknologi Rusia–China yang semakin erat—namun juga dibentuk oleh keterbatasan sumber daya dan kapasitas industri.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Sberbank ingin menggunakan chip AI buatan China untuk menjalankan model GigaChat karena sanksi Barat setelah invasi Ukraina membatasi akses Rusia ke semikonduktor canggih seperti GPU Nvidia.[5][55]
Sberbank ingin menggunakan chip AI buatan China untuk menjalankan model GigaChat karena sanksi Barat setelah invasi Ukraina membatasi akses Rusia ke semikonduktor canggih seperti GPU Nvidia.[5][55] Chip Huawei Ascend disebut sebagai kandidat utama, tetapi performanya masih di bawah GPU kelas atas seperti Nvidia H200 sehingga sering memerlukan lebih banyak perangkat keras untuk mencapai hasil serupa.[18][20]
Langkah ini menunjukkan semakin eratnya kerja sama teknologi Rusia–China, sekaligus memperlihatkan tantangan China dalam memasok chip AI canggih dalam jumlah besar.