Menurut Mast, logika yang sama harus diterapkan pada teknologi AI. Dalam era modern, chip AI dan sistem komputasi canggih dapat memiliki dampak strategis yang setara dengan sistem senjata konvensional.
Banyak pembuat kebijakan di AS menilai AI sebagai teknologi "dual‑use"—yakni teknologi yang memiliki kegunaan komersial sekaligus militer.
AI dapat digunakan untuk berbagai aplikasi sipil seperti analisis data, otomasi industri, atau pengembangan perangkat lunak. Namun teknologi yang sama juga dapat memperkuat:
Karena itu, hasil dari perlombaan AI global dianggap akan sangat memengaruhi keseimbangan kekuatan militer antara Amerika Serikat dan China.
Peringatan Mast berfokus pada perbedaan antara keuntungan perusahaan dan kepentingan strategis negara.
Perusahaan teknologi Amerika mungkin memperoleh keuntungan besar dengan menjual chip AI ke pasar China. Namun menurut Mast, hal tersebut tidak otomatis berarti Amerika sebagai negara juga diuntungkan.
Jika perusahaan China memperoleh akses ke chip AI paling canggih dari AS, mereka dapat menggunakannya untuk mempercepat pengembangan teknologi domestik—termasuk aplikasi militer. Dalam skenario seperti itu, Mast mengatakan Amerika bisa menjadi pihak yang "kalah" dalam persaingan teknologi dan militer meskipun perusahaan-perusahaan AS memperoleh keuntungan jangka pendek.
Kekhawatiran ini mendorong berbagai proposal kebijakan di Kongres AS untuk memperketat kontrol ekspor teknologi AI.
Salah satu contohnya adalah AI OVERWATCH Act, rancangan undang‑undang yang diperkenalkan oleh Mast. RUU ini bertujuan:
Langkah tersebut mencerminkan pandangan yang semakin umum di Washington: teknologi AI kini diperlakukan sebagai komponen utama keamanan nasional, bukan sekadar produk teknologi biasa.
Perdebatan ini menunjukkan perubahan besar dalam cara pemerintah memandang artificial intelligence.
Jika sebelumnya AI dilihat terutama sebagai inovasi komersial, kini banyak negara menganggapnya sebagai teknologi strategis yang dapat menentukan kekuatan ekonomi, militer, dan geopolitik di masa depan.
Dalam kerangka pikir itu, Mast berargumen bahwa chip AI tidak boleh diperlakukan seperti produk teknologi konsumen biasa—melainkan seperti sistem senjata strategis yang dijaga ketat oleh negara.