Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik AS–Iran pada 2026 memicu lonjakan harga minyak global, yang kemudian menaikkan harga BBM dan bahan bakar pesawat. Maskapai di AS, Kanada, dan Asia mulai menaikkan tarif, mengurangi frekuensi penerbangan, dan menambah surcharge bahan bakar karena biaya op...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are the U.S.-Iran conflict, Strait of Hormuz shipping disruptions, and Trump-era metal tariffs driving up gas prices, airfares, airline. Article summary: The common driver is a supply-cost shock: conflict risk and constrained Strait of Hormuz flows lift crude, gasoline, diesel, and jet fuel, while higher steel/aluminum tariffs add a slower-moving cost layer through aircra. Topic tags: general, general web, user generated, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# US/Iran conflict – key considerations in the aviation market. **The following provides a high-level overview of the potential impact of and challenges posed by the US/Iran confli" source context "US/Iran conflict – key considerations in the aviation market | White & Case LLP" Reference image 2: visua
Pada 2026, biaya perjalanan global meningkat tajam akibat kombinasi konflik geopolitik dan kebijakan perdagangan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengganggu lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting di dunia. Di saat yang sama, kenaikan tarif impor baja dan aluminium oleh Amerika Serikat meningkatkan biaya di rantai pasok industri penerbangan.
Kombinasi faktor ini menciptakan apa yang oleh ekonom disebut supply‑cost shock—guncangan pasokan yang mendorong naik biaya produksi dan transportasi. Dampaknya terasa langsung pada harga bensin, bahan bakar pesawat, tiket penerbangan, dan biaya liburan musim panas.
Selat Hormuz adalah jalur sempit di Teluk Persia yang menjadi titik transit utama perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global biasanya melewati selat ini setiap hari.
Selama konflik 2026, serangan terhadap kapal dan eskalasi militer membuat lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun drastis.
Akibatnya, produsen energi di Timur Tengah tidak dapat mengekspor sebagian besar produksinya. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan produsen Teluk—termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain—harus menghentikan sekitar 7,5 juta barel produksi minyak per hari selama gangguan tersebut.
Ketika pasokan global tiba‑tiba berkurang sebesar itu, pasar energi bereaksi cepat. Harga minyak Brent melonjak dari sekitar $70 per barel menjadi hampir $120 hanya dalam beberapa hari, sebelum sedikit turun ketika pasar mengantisipasi kemungkinan negosiasi.
Lonjakan harga minyak mentah biasanya segera terasa pada harga bahan bakar yang dibayar konsumen.
Menurut proyeksi terbaru EIA, harga rata‑rata bensin eceran di Amerika Serikat diperkirakan sekitar $3,34 per galon pada 2026, naik dari sekitar $3,10 pada 2025. Jika pasokan membaik, harga diperkirakan sedikit turun pada 2027.
Rantai sebabnya relatif sederhana:
Karena energi merupakan komponen utama transportasi dan logistik, kenaikan harga ini juga meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara.
Maskapai penerbangan sangat sensitif terhadap harga energi karena bahan bakar adalah salah satu biaya operasional terbesar.
Selama krisis 2026, harga bahan bakar jet melonjak tajam. Pada satu titik di awal tahun, harga globalnya lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketika biaya bahan bakar naik, maskapai biasanya mengambil beberapa langkah:
Di Amerika Serikat, industri maskapai menyatakan bahwa operator sudah mengurangi frekuensi penerbangan dan menyesuaikan kapasitas menjelang musim liburan musim panas untuk mengimbangi biaya bahan bakar yang melonjak.
Langkah ini membantu menjaga profitabilitas maskapai, tetapi bagi penumpang berarti pilihan penerbangan lebih sedikit dan harga tiket lebih mahal.
Dampak lonjakan biaya energi sudah terlihat di beberapa kawasan.
Kanada: Data Statistics Canada menunjukkan tarif penerbangan naik 2,9% secara tahunan pada Maret 2026, membalik tren penurunan hampir dua tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan melonjaknya harga bahan bakar pesawat.
Asia: Banyak ekonomi Asia bergantung pada impor energi dari Teluk Persia yang melewati Selat Hormuz. Ketika biaya bahan bakar meningkat, sejumlah maskapai Asia‑Pasifik mulai mengenakan surcharge bahan bakar darurat atau menaikkan tarif untuk menutup biaya tambahan.
Karena rantai pasok bahan bakar penerbangan membutuhkan waktu untuk stabil, harga tiket sering tetap tinggi bahkan setelah aliran minyak mulai pulih.
Lonjakan harga energi adalah penyebab utama kenaikan biaya perjalanan, tetapi kebijakan perdagangan juga menambah tekanan jangka menengah.
Pada Juni 2025, pemerintah Amerika Serikat menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari 25% menjadi 50% melalui kebijakan Section 232.
Tarif ini tidak langsung memengaruhi harga bensin, tetapi berdampak pada industri penerbangan karena:
Dalam jangka panjang, kenaikan biaya produksi dan pemeliharaan ini dapat ikut mendorong kenaikan tarif penerbangan.
Kombinasi lonjakan energi dan biaya rantai pasok membuat maskapai menghadapi dilema.
Jika biaya tersebut dibebankan kepada penumpang, harga tiket naik dan permintaan perjalanan bisa melemah. Jika maskapai menanggungnya sendiri, margin keuntungan menyusut.
Di tingkat ekonomi makro, lonjakan harga minyak secara historis bersifat inflasioner karena memengaruhi hampir semua sektor—dari transportasi hingga logistik dan energi rumah tangga.
Badan energi memperkirakan stabilisasi akan terjadi, tetapi tidak segera.
EIA memperkirakan pasar minyak global dapat mulai kembali stabil ketika produksi dan pengiriman pulih, dengan aliran energi mendekati tingkat sebelum konflik pada akhir 2026 atau awal 2027 jika gangguan mereda.
Namun, jadwal penerbangan, kontrak bahan bakar, dan perencanaan armada maskapai biasanya direncanakan berbulan‑bulan sebelumnya. Artinya, penurunan harga tiket kemungkinan akan tertinggal dibanding penurunan harga minyak.
Lonjakan harga BBM dan biaya perjalanan pada 2026 berasal dari efek berantai dalam ekonomi global:
Bagi wisatawan, konsekuensinya cukup jelas: perjalanan udara pada 2026—terutama penerbangan jarak jauh—cenderung lebih mahal. Pemulihan harga kemungkinan baru terjadi ketika perdagangan energi global kembali stabil.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik AS–Iran pada 2026 memicu lonjakan harga minyak global, yang kemudian menaikkan harga BBM dan bahan bakar pesawat.
Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik AS–Iran pada 2026 memicu lonjakan harga minyak global, yang kemudian menaikkan harga BBM dan bahan bakar pesawat. Maskapai di AS, Kanada, dan Asia mulai menaikkan tarif, mengurangi frekuensi penerbangan, dan menambah surcharge bahan bakar karena biaya operasional melonjak.
Tarif baja dan aluminium AS yang naik hingga 50% menambah tekanan biaya di industri penerbangan, sementara stabilisasi harga energi kemungkinan baru terlihat akhir 2026 atau awal 2027.