Kaja Kallas mengatakan Eropa yang terpecah memberi keuntungan strategis bagi Amerika Serikat, China, dan Rusia karena melemahkan posisi tawar Uni Eropa. Ia meminta negara anggota UE tidak membuat kesepakatan bilateral dengan Washington agar kekuatan pasar tunggal Eropa tetap menjadi alat negosiasi bersama.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How is EU foreign policy chief Kaja Kallas arguing that the United States, China, and Russia each benefit from a divided Europe, why is she. Article summary: Kaja Kallas is framing European division as a strategic advantage for Washington, Beijing, and Moscow: if EU states cut separate deals or split over Russia policy, Europe loses bargaining power and geopolitical weight. T. Topic tags: general, government, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Kallas urged EU member states not to negotiate individually with Washington, arguing that Europe's strength lies in acting collectively." source context "EU’s Kallas Says US Wants To Divide Europe - StratNews Global" Reference image 2: visual subject "Kallas urged EU member states not to negotiate indi
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memperingatkan bahwa perpecahan di antara negara-negara Eropa justru menguntungkan kekuatan besar dunia. Dalam pandangannya, Amerika Serikat, China, dan Rusia sama‑sama memiliki insentif strategis jika Uni Eropa tidak bertindak sebagai satu kesatuan.
Pesannya sederhana: ketika Eropa terpecah, pengaruh geopolitiknya melemah. Sebaliknya, ketika negara-negara anggota bersatu, Uni Eropa menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang jauh lebih sulit ditekan oleh pihak luar.
Menurut Kallas, kekuatan utama UE berasal dari kemampuannya bertindak sebagai blok ekonomi dan politik bersama. Dengan pasar tunggal ratusan juta konsumen dan koordinasi kebijakan luar negeri, Eropa bisa menegosiasikan kesepakatan global dari posisi kuat.
Namun jika negara-negara anggota bertindak sendiri-sendiri, situasinya berubah.
Kallas menegaskan bahwa justru karena Uni Eropa kuat ketika bersatu, beberapa kekuatan eksternal lebih nyaman menghadapi Eropa yang terfragmentasi.
Seruan Kallas muncul di tengah ketegangan perdagangan antara Brussel dan Washington.
Pada 27 Juli 2025, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan politik terkait tarif dan perdagangan untuk menstabilkan hubungan ekonomi transatlantik. Meski demikian, implementasinya masih memicu perdebatan di dalam UE.
Negara anggota dan anggota Parlemen Eropa masih berbeda pendapat mengenai detail kesepakatan tersebut, dan beberapa tuntutan dianggap terlalu ambisius untuk segera disepakati.
Negosiator utama Parlemen Eropa, Bernd Lange, bahkan mengatakan masih ada "jalan yang harus ditempuh" sebelum kesepakatan perdagangan dengan AS benar-benar rampung.
Dalam konteks ini, Kallas khawatir bahwa jika negara anggota mulai membuat kesepakatan langsung dengan Washington, maka:
Itulah sebabnya ia mendorong negara anggota untuk tetap bernegosiasi sebagai satu blok.
Seruan persatuan itu muncul saat Uni Eropa sendiri masih menghadapi perbedaan pandangan internal.
Salah satu perdebatan utama adalah apakah UE harus membuka pembicaraan langsung dengan Rusia mengenai cara mengakhiri perang di Ukraina. Beberapa negara anggota lebih memilih menunggu dan memperlemah posisi Rusia terlebih dahulu sebelum negosiasi, sementara yang lain lebih terbuka pada dialog.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa mencapai posisi bersama di antara 27 negara anggota tidak selalu mudah.
Moskow sendiri menanggapi peran Kallas dengan nada skeptis. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa jika Kallas menjadi negosiator dengan Rusia, ia kemungkinan akan menghadapi masa yang sulit dalam peran tersebut.
Peskov juga mengisyaratkan bahwa Rusia lebih memilih berurusan dengan tokoh yang tidak memiliki riwayat kritik keras terhadap Moskow.
Pesan utama Kallas adalah bahwa kekuatan geopolitik Eropa bergantung pada kesatuan internalnya. Dengan perang di Ukraina, hubungan transatlantik yang lebih rumit, dan persaingan global yang meningkat, ia menilai UE harus menghindari langkah-langkah yang bisa memecah posisi bersama.
Jika negara anggota tetap bersatu dalam perdagangan, diplomasi, dan keamanan, Uni Eropa dapat bertindak sebagai kekuatan global yang sebanding dengan pemain besar lain. Jika tidak, negara-negara besar akan lebih mudah memanfaatkan perbedaan di dalam blok tersebut.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kaja Kallas mengatakan Eropa yang terpecah memberi keuntungan strategis bagi Amerika Serikat, China, dan Rusia karena melemahkan posisi tawar Uni Eropa.
Kaja Kallas mengatakan Eropa yang terpecah memberi keuntungan strategis bagi Amerika Serikat, China, dan Rusia karena melemahkan posisi tawar Uni Eropa. Ia meminta negara anggota UE tidak membuat kesepakatan bilateral dengan Washington agar kekuatan pasar tunggal Eropa tetap menjadi alat negosiasi bersama.
Perdebatan internal UE masih tajam, terutama soal perdagangan dengan AS dan apakah blok tersebut harus membuka pembicaraan langsung dengan Rusia mengenai Ukraina.[6][7][8]