Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini menjadi jalur utama ekspor energi dari negara‑negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Jika jalur ini terganggu, distribusi energi global langsung terkena dampaknya.
Ekonomi Asia dinilai sangat rentan karena banyak negara di kawasan ini sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah yang dikirim melalui selat tersebut .
Wong memperingatkan bahwa dampak pertama kemungkinan muncul di pasar energi. Jika pengiriman minyak tetap terbatas, harga bahan bakar dapat melonjak dan mendorong inflasi di berbagai negara .
Namun efeknya tidak berhenti pada energi. Biaya bahan bakar dan pengiriman yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi pupuk, pertanian, dan distribusi barang—yang pada akhirnya bisa menaikkan harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya .
Penutupan berkepanjangan berpotensi menciptakan kekurangan pasokan bagi negara yang bergantung pada ekspor energi dari Teluk. Dalam jangka pendek, keterbatasan pasokan bisa mendorong harga minyak melonjak tajam.
Namun dalam jangka lebih panjang, harga yang sangat tinggi dapat menekan permintaan. Maskapai penerbangan, perusahaan logistik, pabrik, hingga konsumen mungkin mengurangi penggunaan energi ketika biaya meningkat dan aktivitas ekonomi melambat.
Jika krisis ini menyebabkan inflasi meningkat sekaligus pertumbuhan ekonomi melemah, pembuat kebijakan akan menghadapi pilihan sulit.
Bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, tetapi kebijakan tersebut juga bisa memperlambat ekonomi dan memperbesar risiko resesi. Kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah inilah yang dikenal sebagai stagflasi.
Wong menekankan bahwa guncangan energi biasanya merambat ke berbagai sektor ekonomi. Energi adalah komponen penting dalam produksi pupuk, pertanian, transportasi, dan penyimpanan makanan.
Jika biaya energi naik, biaya produksi dan distribusi pangan juga akan meningkat. Dampaknya bisa berupa kenaikan harga makanan secara global, yang memberi tekanan lebih besar pada rumah tangga—terutama di negara yang bergantung pada impor .
Krisis energi juga dapat memengaruhi pasar valuta asing. Negara yang sangat bergantung pada impor energi mungkin melihat neraca perdagangan memburuk karena tagihan energi meningkat, yang berpotensi melemahkan mata uang mereka.
Sebaliknya, mata uang negara pengekspor energi atau mata uang yang dianggap “safe haven” dapat menguat karena investor mencari aset yang lebih stabil di tengah ketidakpastian global.
Wong memperingatkan bahwa jika gangguan berlangsung cukup lama, kombinasi harga tinggi, kekurangan pasokan, dan perlambatan ekonomi dapat menyerupai stagflasi yang terjadi setelah krisis minyak 1970‑an .
Ia menekankan bahwa dunia perlu bersiap menghadapi gangguan selama berbulan‑bulan, dan tekanan ekonomi bisa semakin berat sebelum kondisi membaik . Bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali, pemulihan aliran energi normal mungkin tertunda karena perbaikan pelabuhan, pembersihan ranjau, dan pemulihan logistik global
.
Seberapa besar dampak ekonomi global akan bergantung pada beberapa faktor utama: berapa lama gangguan berlangsung, apakah rute alternatif atau cadangan minyak dapat menutup kekurangan pasokan, serta bagaimana pemerintah dan bank sentral merespons krisis tersebut.
Comments
0 comments