PM Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu inflasi global, kekurangan bahan bakar, dan meningkatkan risiko resesi—mirip krisis minyak 1970‑an. Sekitar 20 juta barel minyak per hari—sekitar 20% konsumsi minyak dunia—biasanya melewati selat ini, menjadikanny...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What did Singapore Prime Minister Lawrence Wong warn about the prolonged Strait of Hormuz closure, and how could the crisis affect global in. Article summary: Singapore Prime Minister Lawrence Wong warned that a prolonged Strait of Hormuz closure would slow Singapore’s growth, raise recession risks, and could become as severe as — or worse than — the 1970s oil shocks if disrup. Topic tags: general, general web, user generated, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Singaporean PM warns Mideast crisis to prolong supply disruptions, raise recession risks-Xinhua. # Singaporean PM warns Mideast crisis to prolong supply disruptions, raise recessio" source context "Singaporean PM warns Mideast crisis to prolong supply disruptions, raise recession risks-Xinhua" Referen
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama dapat memicu guncangan ekonomi global yang menyerupai krisis minyak pada era 1970‑an. Dalam pidato May Day, ia mengatakan gangguan berkepanjangan pada jalur energi vital ini bisa menyebabkan inflasi melonjak, pasokan energi menipis, dan meningkatkan risiko resesi di berbagai negara jika berlangsung berbulan‑bulan .
Menurut Wong, krisis ini kemungkinan tidak akan selesai dalam waktu dekat. Bahkan jika selat tersebut akhirnya dibuka kembali, pemulihan pasokan energi global bisa memakan waktu karena kerusakan infrastruktur, proses pembersihan ranjau laut, dan kebutuhan untuk memulihkan kepercayaan pasar .
Selat Hormuz adalah salah satu titik sempit perdagangan energi paling penting di dunia. Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur ini—setara dengan sekitar 20% konsumsi cairan minyak bumi global dan lebih dari seperempat perdagangan minyak laut dunia .
Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini menjadi jalur utama ekspor energi dari negara‑negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Jika jalur ini terganggu, distribusi energi global langsung terkena dampaknya.
Ekonomi Asia dinilai sangat rentan karena banyak negara di kawasan ini sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah yang dikirim melalui selat tersebut .
Wong memperingatkan bahwa dampak pertama kemungkinan muncul di pasar energi. Jika pengiriman minyak tetap terbatas, harga bahan bakar dapat melonjak dan mendorong inflasi di berbagai negara .
Namun efeknya tidak berhenti pada energi. Biaya bahan bakar dan pengiriman yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi pupuk, pertanian, dan distribusi barang—yang pada akhirnya bisa menaikkan harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya .
Penutupan berkepanjangan berpotensi menciptakan kekurangan pasokan bagi negara yang bergantung pada ekspor energi dari Teluk. Dalam jangka pendek, keterbatasan pasokan bisa mendorong harga minyak melonjak tajam.
Namun dalam jangka lebih panjang, harga yang sangat tinggi dapat menekan permintaan. Maskapai penerbangan, perusahaan logistik, pabrik, hingga konsumen mungkin mengurangi penggunaan energi ketika biaya meningkat dan aktivitas ekonomi melambat.
Jika krisis ini menyebabkan inflasi meningkat sekaligus pertumbuhan ekonomi melemah, pembuat kebijakan akan menghadapi pilihan sulit.
Bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, tetapi kebijakan tersebut juga bisa memperlambat ekonomi dan memperbesar risiko resesi. Kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah inilah yang dikenal sebagai stagflasi.
Wong menekankan bahwa guncangan energi biasanya merambat ke berbagai sektor ekonomi. Energi adalah komponen penting dalam produksi pupuk, pertanian, transportasi, dan penyimpanan makanan.
Jika biaya energi naik, biaya produksi dan distribusi pangan juga akan meningkat. Dampaknya bisa berupa kenaikan harga makanan secara global, yang memberi tekanan lebih besar pada rumah tangga—terutama di negara yang bergantung pada impor .
Krisis energi juga dapat memengaruhi pasar valuta asing. Negara yang sangat bergantung pada impor energi mungkin melihat neraca perdagangan memburuk karena tagihan energi meningkat, yang berpotensi melemahkan mata uang mereka.
Sebaliknya, mata uang negara pengekspor energi atau mata uang yang dianggap “safe haven” dapat menguat karena investor mencari aset yang lebih stabil di tengah ketidakpastian global.
Wong memperingatkan bahwa jika gangguan berlangsung cukup lama, kombinasi harga tinggi, kekurangan pasokan, dan perlambatan ekonomi dapat menyerupai stagflasi yang terjadi setelah krisis minyak 1970‑an .
Ia menekankan bahwa dunia perlu bersiap menghadapi gangguan selama berbulan‑bulan, dan tekanan ekonomi bisa semakin berat sebelum kondisi membaik . Bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali, pemulihan aliran energi normal mungkin tertunda karena perbaikan pelabuhan, pembersihan ranjau, dan pemulihan logistik global
.
Seberapa besar dampak ekonomi global akan bergantung pada beberapa faktor utama: berapa lama gangguan berlangsung, apakah rute alternatif atau cadangan minyak dapat menutup kekurangan pasokan, serta bagaimana pemerintah dan bank sentral merespons krisis tersebut.
Namun satu hal jelas: karena Selat Hormuz membawa porsi besar perdagangan energi dunia, penutupan yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan efek domino pada pasar energi, inflasi global, sistem pangan, dan stabilitas pasar keuangan .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
PM Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu inflasi global, kekurangan bahan bakar, dan meningkatkan risiko resesi—mirip krisis minyak 1970‑an.
PM Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu inflasi global, kekurangan bahan bakar, dan meningkatkan risiko resesi—mirip krisis minyak 1970‑an. Sekitar 20 juta barel minyak per hari—sekitar 20% konsumsi minyak dunia—biasanya melewati selat ini, menjadikannya salah satu titik paling kritis dalam perdagangan energi global [17].
Gangguan pasokan energi dapat merambat ke pupuk, pangan, dan rantai pasok global, memaksa bank sentral menghadapi dilema antara menahan inflasi atau mendukung pertumbuhan ekonomi [3][4].