Jantung memiliki sistem sarafnya sendiri dan berkomunikasi dua arah dengan otak. Karena itu, jantung dapat memengaruhi keadaan tubuh, stres, dan respons emosional.
Dalam kardiologi juga ada efek fisiologis yang kadang disebut mirip “memori”, misalnya perubahan perilaku listrik jantung setelah pola rangsangan tertentu. Namun, ini bukan memori seperti mengingat masa kecil, mengenali wajah, menyimpan pengalaman, atau membawa kepribadian seseorang.
Ada laporan bahwa sebagian penerima transplantasi jantung merasa mengalami selera, emosi, mimpi, atau “ingatan” yang mirip dengan donor. Cerita seperti ini mudah menarik perhatian karena menyentuh isu identitas: setelah menerima organ orang lain, apakah sebagian diri donor ikut berpindah?
Masalahnya, laporan semacam itu umumnya anekdotal. Artinya, cerita tersebut belum cukup untuk membuktikan sebab-akibat. Perubahan setelah transplantasi bisa dipengaruhi banyak hal: harapan dan sugesti, kebetulan, obat imunosupresan, trauma medis, stres identitas setelah operasi besar, atau cara seseorang menyusun kembali cerita hidupnya setelah pengalaman ekstrem.
Artikel berjudul Beyond the Pump membahas kemungkinan adanya “heart memory” dan mengusulkan beberapa mekanisme, seperti memori seluler, perubahan epigenetik, dan interaksi energi. Namun, artikel itu bersifat naratif: ia merangkum dan mengajukan gagasan, bukan menunjukkan bukti konklusif bahwa kenangan pribadi benar-benar tersimpan di jantung lalu berpindah ke penerima transplantasi.
Hal serupa berlaku untuk artikel di Medical Hypotheses tentang “cellular memory” setelah transplantasi jantung. Meski terindeks di PubMed, jurnal tersebut memang dikenal sebagai tempat untuk gagasan spekulatif dan hipotesis ilmiah. Jadi, publikasi itu tidak bisa diperlakukan sebagai bukti kuat bahwa memori donor berpindah lewat organ jantung.
Dalam neurosains arus utama, memori pribadi dipahami sebagai hasil kerja jaringan otak: disimpan, diubah, dan direkonstruksi melalui aktivitas saraf. Jantung dapat memengaruhi suasana tubuh dan emosi, tetapi itu berbeda dari menyimpan kenangan autobiografis.
Jadi, kesimpulannya: jantung dapat memengaruhi emosi dan kondisi otak-tubuh, tetapi bukti yang ada belum cukup untuk menyatakan bahwa jantung menyimpan memori pribadi yang dapat ditransfer.