Jawaban pendeknya: tidak, RCP8.5 tidak “salah” sebagai alat uji tekanan atau stress test dalam pemodelan iklim. Yang bermasalah adalah cara ia kerap dikomunikasikan: seolah-olah itulah masa depan “business-as-usual” yang paling mungkin terjadi [7].
Dengan kata lain, RCP8.5 masih berguna untuk melihat skenario emisi sangat tinggi dan risiko iklim ekstrem, tetapi makin tidak tepat jika dipakai sebagai perkiraan utama tentang masa depan dunia [1][
7].
RCP8.5 itu skenario, bukan ramalan
RCP8.5 adalah salah satu skenario emisi yang digunakan dalam pemodelan iklim. Poin pentingnya: skenario bukan prediksi. Ia lebih mirip pertanyaan “bagaimana jika?” daripada ramalan “ini pasti terjadi”.
Menurut penjelasan para penyusunnya, RCP8.5 dimaksudkan sebagai skenario baseline emisi yang sangat tinggi, bukan sebagai hasil yang paling mungkin atau pilihan yang diberi tingkat peluang tertentu [7]. Jadi, menyebutnya “salah” karena dunia tidak persis mengikutinya bisa keliru sasaran.
Lalu, kenapa RCP8.5 banyak dikritik?
Kritik terbesar menyasar asumsi dasarnya: RCP8.5 membutuhkan penggunaan bahan bakar fosil yang sangat besar pada masa depan, terutama ekspansi batu bara yang dramatis . Banyak peneliti kini menilai jalur seperti itu kurang mungkin jika dibandingkan dengan tren energi dan kebijakan yang sedang berjalan .




