Penarikan validator tidak terjadi dalam satu klik. Pertama, validator mengajukan voluntary exit. Validator tetap aktif sampai lapisan konsensus Ethereum memproses permintaan keluar tersebut, dan proses ini tunduk pada batas yang disebut churn limit . Setelah exit selesai difinalisasi, validator menjadi withdrawable pada epoch tertentu. Baru setelah itu withdrawal dimasukkan dan dibayarkan ke alamat withdrawal validator .
Nethermind menjelaskan bahwa full withdrawal melewati dua tahap besar: exit queue dan periode withdrawal. Exit queue menjadi hambatan utama karena berjalan dengan prinsip masuk dulu, keluar dulu (first-in, first-out atau FIFO), serta membatasi jumlah validator yang bisa keluar pada setiap epoch melalui churn limit yang dinamis .
Dengan kata lain, keputusan untuk keluar dari staking tidak langsung membuka kunci ETH. Ethereum memang sengaja mengatur laju keluarnya validator.
Penyebab teknisnya sederhana: permintaan keluar lebih besar daripada kapasitas keluar yang diizinkan protokol. Liquid Collective menjelaskan bahwa churn limit mengatur berapa banyak aktivasi atau exit validator yang bisa dimulai per epoch; jika permintaan melebihi batas itu, sisanya harus menunggu dalam antrean . Dalam analisis September 2025, Figment menyebut kapasitas churn Ethereum sebesar 256 ETH per epoch, atau sekitar 57.600 ETH per hari jika tidak ada blok yang terlewat .
Namun di balik angka itu, ada beberapa pemicu yang membuat permintaan keluar menumpuk.
Lonjakan Juli 2025 terjadi saat harga ETH bergerak kuat. CoinCentral melaporkan exit queue mencapai 644.330 ETH setelah reli ETH dari posisi terendah April, dengan estimasi penundaan sekitar 11 hari . CoinMarketCap kemudian melaporkan queue naik menjadi 671.900 ETH, senilai sekitar US$3,1 miliar, dengan waktu tunggu sekitar 12 hari setelah reli pasar pada musim panas .
Namun permintaan keluar tidak otomatis berarti validator menjual ETH. CoinCentral mencatat bahwa validator bisa saja sedang melakukan reposisi, mengoptimalkan operasi, atau mengganti kustodian; pada saat yang sama, sekitar 390.000 ETH juga berada di entry queue untuk masuk staking . CoinMarketCap juga melaporkan 105.620 ETH masih mengantre untuk staking meski withdrawal meningkat .
Backlog September tampaknya sangat dipengaruhi oleh satu peristiwa infrastruktur yang terkonsentrasi. Figment melaporkan bahwa pada 9 September 2025, sebuah penyedia infrastruktur memutuskan keluar dari seluruh validator ETH miliknya sebagai langkah pengamanan, sehingga sekitar 1,6 juta ETH masuk ke exit queue .
DLNews kemudian mengidentifikasi Kiln sebagai pelaku staking Ethereum besar yang mengeluarkan armada validatornya setelah kerentanan pada infrastruktur staking-nya dieksploitasi. DLNews melaporkan bahwa backlog tersebut menunda withdrawal selama beberapa minggu pada puncaknya, dan antrian akhirnya bersih setelah sekitar empat bulan .
Ini penting karena exit queue yang besar bisa terlihat seperti eksodus staker secara luas, padahal sebagian besar tekanannya mungkin berasal dari satu operator, kustodian, atau respons keamanan tertentu.
Pergerakan institusional juga bisa menciptakan tekanan yang terlihat jelas pada queue. Blockdaemon menggambarkan withdrawal besar dari penyedia staking institusional sebagai peristiwa yang mengaktifkan pengaman bawaan Ethereum dan menciptakan gangguan sementara pada validator exit queue . Di data on-chain, rebalancing institusional bisa tampak mirip dengan banyak validator kecil yang keluar bersamaan.
Bagi solo staker, institusi, maupun platform staking, isu utamanya adalah waktu. Mengirim permintaan exit hanya memulai proses. ETH belum benar-benar dibayarkan sampai validator melewati tahap exit, menjadi withdrawable, lalu masuk ke tahap pembayaran ke alamat withdrawal . Ketika backlog panjang, keputusan unstaking bisa berubah menjadi peristiwa likuiditas yang berlangsung beberapa minggu .
Ada satu sisi penyeimbang: validator yang masih berada di queue belum tentu menganggur. Stakefish mencatat bahwa validator tetap aktif dan terus memperoleh reward sampai benar-benar keluar . Meski begitu, menerima reward sambil menunggu tidak sama dengan memiliki ETH yang sudah likuid untuk kebutuhan redemption, agunan, pengelolaan kas, atau penempatan ulang modal.
Intinya, staking Ethereum memiliki jeda penyelesaian. Saat queue pendek, jeda ini mungkin mudah dikelola. Saat queue panjang, ia menjadi risiko operasional yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Protokol liquid staking merasakan tekanan exit queue melalui proses redemption. Figment mencatat bahwa keluar dari validator adalah langkah pertama yang dibutuhkan untuk melikuidasi posisi staking . Jika banyak pemegang token ingin menukar kembali posisinya menjadi ETH pada waktu bersamaan, exit queue validator yang panjang dapat memperlambat proses redemption di lapisan dasarnya.
Tekanan itu juga bisa muncul di pasar sekunder. CoinCentral melaporkan bahwa withdrawal ETH besar dari Aave oleh Justin Sun sempat membuat token stETH milik Lido mengalami depeg saat lonjakan exit queue pada Juli 2025 . DLNews kemudian menggambarkan backlog exit yang berkepanjangan sebagai masalah bagi protokol dan platform staking Ethereum sebelum akhirnya bersih .
Bagi pemegang liquid staking token, sinyal yang perlu diperhatikan bukan hanya ukuran exit queue. Perhatikan juga jadwal redemption, diskon di pasar sekunder, dan apakah exit terkonsentrasi pada beberapa operator saja.
Exit queue besar adalah lampu kuning, bukan vonis. Queue ada karena Ethereum membatasi laju keluar validator untuk melindungi stabilitas jaringan . Nethermind menjelaskan bahwa desain withdrawal dibuat untuk mencegah perubahan mendadak dalam jumlah validator dan membantu menjaga keamanan jaringan .
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apa penyebab queue itu? Jika exit terkonsentrasi pada satu penyedia, penyebabnya bisa lebih bersifat operasional ketimbang kepanikan pasar secara luas . Jika entry queue juga besar, angka exit headline bisa melebih-lebihkan tekanan penarikan bersih .
Bukan berarti exit queue boleh diabaikan. Backlog panjang tetap menunda likuiditas, memengaruhi platform staking, dan dapat menekan pasar liquid staking token . Namun queue perlu dibaca dengan konteks, bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa permintaan staking runtuh.
Saat exit queue Ethereum kembali melonjak, jangan terpaku pada satu angka. Baca lima sinyal ini secara bersamaan:
Kesimpulannya, exit queue validator Ethereum melonjak karena validator berusaha keluar lebih cepat daripada laju yang diizinkan protokol. Bagi staker, ini berarti likuiditas bisa tertunda dan perencanaan perlu lebih hati-hati. Bagi Ethereum, queue tersebut bekerja sesuai desainnya: memperlambat perubahan mendadak pada set validator sambil memproses exit secara tertib .