Di Korea Selatan, sinyal darurat krisis ini muncul telanjang pada akhir Maret ketika sebuah supermarket di Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, memasang pengumuman bahwa kantong sampah volume standar telah habis terjual . Simbolnya amat kuat: jika sebuah negara maju tak mampu memproduksi kantong sampah sendiri, rantai pasok petrokimianya sudah rusak total. Pemain-pemain besar seperti LG Chem dan Lotte Chemical sebelumnya telah memperingatkan klien tentang kemungkinan penghentian pasokan etilena dan resin ABS—bahan baku dari hampir semua produk plastik yang beredar di pasar
. Di akhir Maret, setidaknya satu fasilitas pemecah nafta (naphtha cracker) telah berhenti beroperasi total
.
Jepang, yang menggantungkan lebih dari 90% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, mengalami kemelut serupa . Lebih dari selusin perusahaan, termasuk manufaktur raksasa seperti Toto, menghentikan pesanan atau memotong produksi secara drastis, menciptakan pusing kepala humas bagi pemerintah yang terus bersikukuh bahwa pasokan dalam kondisi aman
. Sektor pangan terkena pukulan langsung: material turunan nafta begitu langka sampai-sampai sejumlah perusahaan bahkan tak bisa lagi mencetak nama produk dan label komposisi pada kemasan
. Konsumen diimbau tidak melakukan aksi borong panik, tapi jajak pendapat justru menunjukkan kecemasan publik melonjak tajam
.
Di balik kelangkaan yang terlihat oleh konsumen, ada realitas industri yang telanjang. Industri petrokimia di kedua negara beroperasi dengan persediaan nafta yang sangat tipis. Berbagai laporan sejak pertengahan Maret 2026 mengindikasikan bahwa para produsen Korea Selatan hanya memegang stok sekitar dua minggu, persis di batas minimum sebelum fasilitas pemecah (cracker) terpaksa dimatikan . Inventori nafta Jepang juga setipis itu: terbatas di kisaran dua minggu, dan para produsen tidak sanggup menutup defisit dengan bahan baku alternatif
.
Inilah kerentanan struktural. Dari total 59 juta ton kebutuhan nafta tahunan Korea Selatan, 45% atau 26 juta ton biasanya diimpor dari Timur Tengah . Jepang, sebelum serangan terjadi, menggantungkan 40% kebutuhan naftanya dari kawasan yang sama
. Dengan rute-rute itu kini putus, aksi saling sikut untuk mencari alternatif—dari Aljazair, India, hingga Amerika Serikat—berlangsung panik tapi jauh dari cukup. Korea Selatan bahkan terpaksa membeli nafta dari Rusia untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dimungkinkan berkat pengecualian sanksi sementara dari AS. Tapi satu kargo seberat 27.000 metrik ton itu hanya setetes di lautan kebutuhan jutaan ton yang terus menganga
.
Krisis nafta ini tidak berjalan sendirian. Ia bagian dari himpitan bahan baku yang lebih luas, mencakup aluminium dan urea yang juga bertumpu pada rantai pasok Timur Tengah . Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, memperingatkan bahwa penutupan selat ini berpotensi menciptakan “krisis energi paling serius yang pernah kita alami,” melebur dampak dari dua guncangan minyak masa lalu dan perang Ukraina
.
Kedua pemerintah bergerak agresif, mengerahkan langkah-langkah darurat yang mempertegas bobot krisis ini:
Korea Selatan memberlakukan larangan total ekspor nafta selama lima bulan yang berlaku sejak 27 Maret 2026, plus menetapkan batas atas harga BBM: bensin 1.934 won/liter dan solar 1.923 won/liter . Pemerintah juga mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis mulai April, menetapkan nafta sebagai barang keamanan ekonomi agar alokasi domestik jadi prioritas
. Sebuah pusat dukungan rantai pasok pun diluncurkan untuk memantau kebutuhan harian, sementara para pejabat memperingatkan bahwa pembatasan lebih lanjut—termasuk kemungkinan pelarangan ekspor produk petrokimia jadi—belum disingkirkan dari meja
.
Jepang melakukan pelepasan kedua cadangan minyak negara pada Mei, menyusul kloter pertama di Maret yang totalnya bisa mengamankan konsumsi sekitar 50 hari . Perdana Menteri Takaichi menunjuk Menteri Perindustrian Ryosei Akazawa untuk memimpin gugus tugas khusus pasokan nafta. Tokyo mengklaim telah mengamankan cukup nafta berbasis minyak bumi untuk bertahan hingga 2027, dengan volume impor diperkirakan melonjak tiga kali lipat pada Mei
. Menteri Akazawa bahkan sampai menyatakan bahwa kemacetan rantai pasok bisa dibersihkan “dalam hitungan hari” jika koordinasi logistik membaik
.
Meski begitu, jurang lebar antara pernyataan dan realitas terus menganga. Sementara Tokyo dan Seoul melontarkan narasi menenangkan, laporan dari lapangan justru melukiskan cerita yang bertolak belakang. Di Jepang, puluhan perusahaan justru membantah narasi resmi dengan mengumumkan penghentian atau potensi penghentian pesanan secara langsung . Di Korea Selatan, pelarangan ekspor memang bisa menimbun stok domestik, tapi tak bisa menyihir tambahan impor baru. Industri memperingatkan bahwa langkah-langkah itu “tidak akan cukup” mencegah lebih banyak penghentian operasi pabrik jika Selat Hormuz terus tertutup
. Sektor petrokimia yang sebelumnya kelebihan pasokan struktural kini bertransformasi menjadi mesin kelangkaan akut nyaris dalam semalam
.
Aspek paling meresahkan dari krisis ini mungkin justru terletak pada kemampuannya menelanjangi tulang punggung tak kasat mata dari kehidupan modern. Nafta bukanlah nama yang akrab di dapur rumah tangga. Tapi derivatnyalah yang membentuk keseharian: semprotan obat, plastic wrap makanan, onderdil mobil, dan kantong sampah. Saat Selat Hormuz buntu, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal ketahanan energi di atas kertas. Pertanyaannya adalah apakah supermarket di Hwaseong masih punya kantong plastik untuk dijual, dan apakah sebuah pabrik masih bisa mencetak label pada sebotol minuman. Untuk sekarang, kedua jawaban itu masih gelap.
Comments
0 comments