Penelitian lain menunjukkan bahwa hanya untuk pembangunan pusat data AI saja bisa memerlukan investasi triliunan dolar, karena kebutuhan listrik, pendinginan, dan jaringan yang sangat besar.
Akibatnya, investasi AI mulai terlihat lebih seperti pembangunan industri berskala besar—dengan permintaan jangka panjang untuk perangkat keras, konstruksi fasilitas, dan pembangkit listrik. Dalam sejarah ekonomi, siklus investasi seperti ini sering mendorong kenaikan tingkat suku bunga keseimbangan.
R‑star mencerminkan keseimbangan antara tabungan global dan permintaan investasi. Ketika terjadi boom investasi yang besar dan berlangsung lama, keseimbangan tersebut bisa berubah.
Beberapa mekanisme utama yang berperan:
1. Permintaan modal meningkat
Jika perusahaan memperkirakan teknologi baru seperti AI akan menghasilkan keuntungan besar, mereka akan meningkatkan investasi bahkan ketika suku bunga lebih tinggi. Ekspektasi produktivitas dari AI dapat menaikkan estimasi tingkat suku bunga netral.
2. Belanja infrastruktur yang berlangsung lama
Implementasi AI membutuhkan pembaruan chip secara berkala, pembangunan kampus pusat data raksasa, dan peningkatan kapasitas listrik. Siklus investasi bertahun‑tahun ini menciptakan permintaan modal yang terus‑menerus.
3. Ekspektasi produktivitas lebih tinggi
Jika pasar percaya AI akan meningkatkan produktivitas ekonomi jangka panjang, ekonomi dapat menopang suku bunga riil yang lebih tinggi tanpa memperlambat pertumbuhan.
Dengan kata lain, suku bunga yang lebih tinggi tidak selalu berarti kebijakan moneter lebih ketat—bisa juga mencerminkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
Selain faktor makro, pembiayaan proyek AI juga bisa langsung memengaruhi pasar obligasi.
Penelitian dari Federal Reserve Bank of Dallas menunjukkan bahwa investasi AI berpotensi meningkatkan pasokan obligasi jangka panjang secara signifikan, terutama dari perusahaan yang membiayai pembangunan pusat data melalui utang.
Beberapa saluran yang mendorong kenaikan yield antara lain:
Jika pasokan obligasi jangka panjang meningkat, investor harus menyerap lebih banyak risiko durasi. Kondisi ini biasanya menaikkan term premium dan yield jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi besar memang mulai menerbitkan utang dalam jumlah besar dan mengalokasikan ratusan miliar dolar untuk proyek pusat data AI.
Para ekonom memperingatkan bahwa lonjakan penerbitan obligasi korporasi saja sudah cukup untuk memberi tekanan naik pada suku bunga jika pasar harus menyerap volume utang baru yang sangat besar.
Jika suku bunga riil netral naik secara struktural, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan.
Banyak pemerintah di dunia terbiasa dengan era suku bunga sangat rendah setelah krisis keuangan global 2008. Lingkungan baru dengan suku bunga lebih tinggi dapat mengubah perhitungan fiskal.
Beberapa konsekuensi yang mungkin muncul:
Keberlanjutan fiskal akhirnya bergantung pada apakah pertumbuhan ekonomi juga meningkat seiring investasi AI tersebut.
Suku bunga adalah komponen penting dalam model valuasi saham. Ketika yield riil naik, nilai sekarang dari laba masa depan biasanya turun.
Efek ini paling terasa pada saham pertumbuhan jangka panjang, termasuk banyak perusahaan yang terlibat dalam ekosistem AI, karena valuasinya bergantung pada laba yang diharapkan bertahun‑tahun ke depan.
Jika kenaikan yield terjadi karena pasar percaya AI akan meningkatkan produktivitas dan laba perusahaan, dampak negatifnya bisa diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat.
Namun jika yield naik terutama karena lonjakan utang dan kebutuhan pembiayaan, multipel valuasi saham—terutama sektor teknologi—bisa tertekan.
Perusahaan teknologi yang membangun infrastruktur AI juga menghadapi tantangan finansial sendiri: siklus belanja modal yang sangat besar.
Perusahaan cloud raksasa seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Meta menginvestasikan dana besar untuk GPU, pusat data, dan energi. Sebagian belanja didanai dari kas internal, tetapi semakin banyak yang mengandalkan pasar utang.
Situasi ini dapat menciptakan tekanan pada arus kas:
Jika monetisasi AI tertinggal dari belanja infrastrukturnya, arus kas bebas perusahaan dapat menurun meskipun pendapatan terus meningkat.
Dampak jangka panjang boom investasi AI sangat bergantung pada satu hal: apakah teknologi ini benar‑benar meningkatkan produktivitas ekonomi.
Jika AI secara signifikan meningkatkan efisiensi di berbagai sektor, suku bunga riil yang lebih tinggi bisa menjadi tanda ekonomi yang lebih kuat.
Kemungkinan hasilnya:
Dalam skenario ini, kenaikan yield mencerminkan pengembalian modal yang lebih tinggi, bukan tekanan finansial.
Namun jika adopsi AI lebih lambat atau manfaat ekonominya lebih kecil dari harapan, boom investasi ini bisa memunculkan risiko.
Beberapa potensi masalah:
Yield obligasi bisa tetap tinggi karena pasokan utang besar, tetapi tanpa pertumbuhan ekonomi yang cukup untuk membenarkannya.
Boom infrastruktur AI sudah mulai mengubah pasar modal global. Pembangunan komputasi dan energi dalam skala triliunan dolar hampir pasti meningkatkan kebutuhan pembiayaan, pasokan obligasi, dan dinamika suku bunga jangka panjang.
Namun hasil akhirnya masih bergantung pada satu faktor kunci: apakah AI benar‑benar menghasilkan lonjakan produktivitas yang saat ini sudah diperhitungkan oleh investor di masa depan.