Turki beralih dari menyeimbangkan posisi antara Kyiv dan Moskow menjadi secara aktif memfasilitasi masuknya Ukraina ke panggung diplomasi dan keamanan Timur Tengah. April 2026, Presiden Zelensky terbang ke Damaskus dengan pesawat kenegaraan Turki bersama Menlu Fidan untuk negosiasi keamanan, drone, dan rekonstruksi—...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How is the decade-long alignment between Turkish President Recep Tayyip Erdogan and Russian President Vladimir Putin unraveling, with Ankara. Article summary: Here is a concise breakdown of the analysis from Gonul Tol's June 7, 2026 New York Times piece, corroborated by independent reporting. **The decade-long Erdogan-Putin alignment is rapidly unraveling as Ankara shifts from. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "## The relationship between the Russian and Turkish presidents that emerged out of crisis has unsettled the West and surprised with its endurance. Russian President Vladimir Putin" source context "The Uneasy Alliance Between Putin and Erdogan" Reference image 2: visual subject "It’s a relationship that’s been hau
Kemitraan transaksional yang selama lebih dari satu dekade mendefinisikan hubungan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Rusia Vladimir Putin kini retak di hadapan publik. Sebuah analisis terbaru dari Senior Fellow Middle East Institute, Gönül Tol, yang diterbitkan oleh New York Times, menegaskan bahwa apa yang tadinya adalah aksi saling menjaga keseimbangan kini telah berbelok tajam ke arah Ukraina. Ankara sekarang berperan sebagai koridor utama bagi ekspansi militer dan diplomatik Kyiv ke Timur Tengah pasca-rezim Assad .
Ini bukanlah pergeseran yang terjadi diam-diam; ini adalah perubahan operasional yang nyata dan keras. Sinyal paling dramatis terlihat pada April 2026, ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menaiki pesawat kenegaraan Turki dan terbang ke Damaskus bersama Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan untuk sebuah pertemuan trilateral dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa . Koreografinya begitu jelas: Turki bukan sekadar mediator antara dua pihak yang berjauhan—Ankara adalah sponsor yang memperkenalkan Ukraina ke sebuah kawasan yang selama ini dianggap sebagai halaman belakang Rusia.
Kedatangan Zelensky di Damaskus pada 5 April 2026 adalah kunjungan pertama seorang presiden Ukraina ke Suriah . Meskipun agenda resmi meliputi koordinasi keamanan, proyek rekonstruksi bersama, dan stabilitas regional, pesan tersiratnya jauh lebih tajam. Ukraina dan Suriah sepakat untuk memperdalam kerja sama keamanan, dan pertemuan itu secara eksplisit membahas keahlian perang Kyiv—termasuk teknologi dan peperangan drone—yang kini dijadikan sebagai aset diplomatik bernilai tinggi
.
Peran Turki di sini adalah sebagai sponsor aktif, bukan tuan rumah yang netral. Yetkin Report menggambarkan momen ini sebagai “diplomasi anti-perang Turki” yang mempertemukan para pemimpin dari dua negara yang dilanda perang, dengan Menteri Fidan hadir secara fisik di ruangan sebagai penjamin dari keselarasan baru ini . Simbolisme ini diperkuat sehari sebelumnya, ketika Zelensky dan Erdoğan mengadakan pembicaraan di Istanbul yang mencakup keahlian drone, transfer teknologi, dan bahkan infrastruktur gas bersama
. Seperti yang ditulis oleh seorang analis, “Ukraina sedang memonetisasi kompetensi di medan perang; Turki adalah koridor tempat kompetensi itu memasuki Timur Tengah yang baru”
.
Keretakan ini tidak terjadi secara tiba-tiba—telah terbangun sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina menyingkap batas-batas kekuatan Moskow. Selama bertahun-tahun, hubungan Rusia-Turki lebih condong menguntungkan Rusia, karena Putin berusaha memperdalam ketergantungan strategis Ankara . Namun persamaan itu mulai berubah ketika momentum perang Rusia di medan tempur mandek. Kini Turki berpotensi muncul sebagai kekuatan angkatan laut utama di Laut Hitam, dan hubungan bilateralnya dengan Rusia tidak lagi menguntungkan Moskow secara meyakinkan
.
Kalender politik domestik Erdoğan juga berperan. Setelah mengamankan masa jabatan baru, ia menggunakan ruang politiknya untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat setelah bertahun-tahun penuh ketegangan, memunculkan pertanyaan tentang ketahanan hubungan akrabnya dengan Putin . Analisis Tol menunjukkan bahwa pragmatisme geopolitik—bukan konversi ideologis—yang mendorong reorientasi Ankara. Erdoğan telah memanfaatkan nilai strategis Turki untuk kembali terlibat dengan ibu kota-ibu kota Barat, bahkan ketika ia menghadapi penangkapan massal, tindakan keras terhadap oposisi, dan ekonomi yang sakit di dalam negeri
.
Perpisahan ini belum sepenuhnya total. Ankara masih terus merundingkan kesepakatan gas alam dengan Moskow, menjaga lindung nilai energi yang pragmatis . Namun, kerja sama itu kini lebih tampak sebagai pengecualian daripada fondasi dari sebuah aliansi yang lebih luas. Tol menggambarkan arah langkah Erdogan sebagai perubahan pro-Ukraina yang menentukan, bukan sekadar guncangan sementara
.
Sponsor Turki memberi Ukraina akses ke ibu kota-ibu kota utama Arab dan Suriah pasca-perang yang tidak dapat dicapainya sendirian. Dengan memposisikan Kyiv sebagai mitra keamanan dan pemangku kepentingan rekonstruksi, Ankara secara aktif mematahkan monopoli lama Rusia atas hubungan militer di kawasan Syam (Levant) . Pertemuan puncak Damaskus pada April 2026 juga melibatkan para kepala pertahanan dan intelijen Suriah, menegaskan bahwa kerja sama keamanan yang dibahas bukan sekadar simbolis
.
Bagi Ukraina, imbalannya adalah kedalaman strategis: sebuah panggung baru di mana keahlian militer yang diperoleh dengan susah payah memiliki nilai tukar tinggi, dan tempat mereka bisa membangun aliansi yang mempersulit kalkulasi regional Moskow. Bagi Turki, keuntungannya adalah peran penataan kawasan yang lebih luas. Seperti yang dicatat seorang analis, dengan Iran yang terdegradasi dan perhatian Rusia yang terpaku pada Ukraina, Ankara kini aktif menjawab pertanyaan tentang “siapa yang menulis peta baru Timur Tengah” .
Singkatnya, vonis Tol tidak ambigu: sebuah “momen besar” telah tiba. Erdoğan telah memilih Ukraina ketimbang Rusia, dan Putin telah kehilangan mitra yang dulunya dapat diandalkan, yang kini berfungsi sebagai fasilitator utama ekspansi Ukraina ke Timur Tengah .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Turki beralih dari menyeimbangkan posisi antara Kyiv dan Moskow menjadi secara aktif memfasilitasi masuknya Ukraina ke panggung diplomasi dan keamanan Timur Tengah.
Turki beralih dari menyeimbangkan posisi antara Kyiv dan Moskow menjadi secara aktif memfasilitasi masuknya Ukraina ke panggung diplomasi dan keamanan Timur Tengah. April 2026, Presiden Zelensky terbang ke Damaskus dengan pesawat kenegaraan Turki bersama Menlu Fidan untuk negosiasi keamanan, drone, dan rekonstruksi—ekspansi besar pertama Ukraina di luar lingkaran tradisionalnya.
Pergeseran strategis ini, menurut analisis Gönül Tol, didorong oleh melemahnya pengaruh militer Rusia, langkah Erdogan pasca pemilu untuk kembali merangkul Barat, dan ambisi Turki menjadi arsitek utama tatanan kawasan...