CFO OpenAI Sarah Friar mengatakan permintaan komputasi AI meningkat seperti “tembok vertikal,” jauh melampaui kapasitas infrastruktur yang tersedia. Meski baru menyelesaikan pendanaan sekitar $122 miliar, OpenAI masih membuka kemungkinan mencari dana tambahan untuk membangun pusat data dan server AI.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How is OpenAI responding to surging demand and a 2026 compute crunch, why might it raise more capital despite its recent $122 billion fundra. Article summary: OpenAI appears to be treating compute as its main bottleneck: it is prioritizing infrastructure, weighing capacity trade-offs, and keeping capital-raising options open even after a $122 billion round [2][5]. Sarah Friar’. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "OpenAI has closed a deal to raise $122 billion at an $852 billion valuation, its largest funding round to date as the company is expected to" source context "OpenAI, not yet public, raises $3B from retail investors in monster $122B fund raise | TechCrunch" Reference image 2: visual subject "OpenAI disclosed a $12
Permintaan terhadap kecerdasan buatan (AI) kini tumbuh jauh lebih cepat daripada infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Bagi OpenAI, ketimpangan ini menjadi salah satu tantangan utama yang membentuk strategi perusahaan pada 2026.
Menurut Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, hambatan terbesar perusahaan saat ini bukanlah kurangnya pengguna untuk produk seperti ChatGPT—melainkan kapasitas komputasi yang terbatas. Bahkan setelah menyelesaikan putaran pendanaan raksasa sekitar $122 miliar, OpenAI masih mempertimbangkan untuk menggalang dana tambahan guna memperluas infrastrukturnya.
Friar menggambarkan pertumbuhan permintaan komputasi AI sebagai "vertical wall of demand"—lonjakan hampir tegak yang menunjukkan peningkatan ekstrem dalam waktu singkat.
Mengembangkan dan menjalankan model AI modern membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar: klaster GPU berkapasitas tinggi, memori bandwidth besar, jaringan data center yang cepat, serta pasokan listrik dalam skala besar. Semua komponen ini mahal dan membutuhkan waktu lama untuk dibangun.
Akibatnya, OpenAI harus membuat keputusan operasional yang sulit. Friar mengatakan perusahaan sedang melakukan “very tough trades”, artinya harus memilih proyek mana yang diprioritaskan karena kapasitas komputasi tidak cukup untuk mengejar semua peluang sekaligus.
Beberapa inisiatif bahkan dilaporkan ditunda atau diprioritaskan ulang agar sumber daya bisa difokuskan pada produk inti seperti ChatGPT.
Dengan kata lain, pertumbuhan OpenAI saat ini lebih dibatasi oleh kapasitas infrastruktur daripada oleh permintaan pasar.
Pendanaan $122 miliar memberi OpenAI fleksibilitas finansial besar. Friar menyebut dana tersebut memberikan perusahaan “banyak opsi” dalam menentukan langkah berikutnya.
Namun, dalam industri AI modern, biaya pengembangan melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pembangunan pusat data, pembelian GPU, jaringan berkecepatan tinggi, hingga infrastruktur listrik bisa menelan puluhan hingga ratusan miliar dolar.
Karena itu, OpenAI tidak menutup kemungkinan untuk kembali mencari pendanaan baru. Tujuannya bukan sekadar menambah kas operasional, tetapi memastikan perusahaan memiliki kapasitas komputasi yang cukup untuk tetap bersaing dalam pengembangan AI paling canggih.
Beberapa laporan menyebut OpenAI sedang mempertimbangkan strategi infrastruktur yang bisa melibatkan investasi sekitar $600 miliar untuk server AI dan pusat data dalam beberapa tahun ke depan.
Skala investasi sebesar ini membawa peluang sekaligus risiko:
Friar disebut telah memperingatkan bahwa komitmen infrastruktur yang sangat besar bisa menjadi tekanan finansial jika pertumbuhan pendapatan tidak mengikuti.
Kekurangan komputasi ini juga menjadi indikator seberapa cepat penggunaan AI meningkat.
Komentar Friar menunjukkan bahwa beban kerja dari produk OpenAI berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan perusahaan. Alih‑alih kesulitan menarik pengguna baru, OpenAI justru menghadapi masalah sebaliknya: permintaan terhadap AI lebih besar daripada kapasitas sistem yang tersedia untuk melayaninya.
Akibatnya, perusahaan harus menyeimbangkan sumber daya komputasi untuk berbagai kebutuhan sekaligus, seperti:
Setiap proyek baru berarti harus berbagi sumber daya komputasi yang sama.
Tekanan infrastruktur ini juga memengaruhi diskusi internal tentang kapan OpenAI sebaiknya melantai di bursa.
CEO Sam Altman dilaporkan mendukung kemungkinan IPO pada akhir 2026. Namun Friar memperingatkan bahwa perusahaan mungkin belum siap menjadi perusahaan publik dalam waktu sedekat itu.
Beberapa kekhawatiran yang muncul antara lain:
Karena alasan tersebut, OpenAI kemungkinan akan memilih untuk tetap menggalang dana secara privat terlebih dahulu sambil memperluas kapasitas komputasi dan menstabilkan model bisnisnya.
Komentar Friar mencerminkan perubahan besar dalam industri AI. Persaingan tidak lagi hanya tentang algoritma terbaik—tetapi juga tentang siapa yang memiliki komputasi paling besar.
Melatih model AI mutakhir kini membutuhkan klaster GPU dan pusat data berskala raksasa. Perusahaan dengan infrastruktur komputasi terbesar dapat melatih model lebih besar, meluncurkan produk lebih cepat, dan memperbarui teknologi lebih sering.
Strategi OpenAI tampaknya mengikuti logika tersebut: mengamankan komputasi sebanyak mungkin, membiayai pembangunan infrastrukturnya, dan baru mempertimbangkan IPO ketika organisasi serta pendapatannya cukup stabil untuk menopang investasi besar tersebut.
Untuk saat ini, tantangan terbesar OpenAI bukan mencari pengguna—melainkan membangun cukup banyak mesin untuk melayani mereka.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
CFO OpenAI Sarah Friar mengatakan permintaan komputasi AI meningkat seperti “tembok vertikal,” jauh melampaui kapasitas infrastruktur yang tersedia.
CFO OpenAI Sarah Friar mengatakan permintaan komputasi AI meningkat seperti “tembok vertikal,” jauh melampaui kapasitas infrastruktur yang tersedia. Meski baru menyelesaikan pendanaan sekitar $122 miliar, OpenAI masih membuka kemungkinan mencari dana tambahan untuk membangun pusat data dan server AI.
Perdebatan internal soal IPO pada 2026 mencerminkan besarnya investasi infrastruktur—hingga ratusan miliar dolar—yang masih harus dipenuhi sebelum perusahaan siap masuk bursa.