Secara teori, menjual obligasi itu memberi pemerintah dolar tunai yang bisa langsung digunakan untuk membeli yen. Namun para pejabat memperingatkan bahwa pendekatan ini bisa kontraproduktif.
Masalahnya ada pada reaksi pasar obligasi:
Jika itu terjadi, arus modal global bisa kembali mengalir ke aset dolar berimbal hasil tinggi—yang pada akhirnya menguatkan dolar lagi dan menghapus efek intervensi yen. Karena itu, analis dan pembuat kebijakan sering memperingatkan bahwa penjualan besar Treasury justru bisa melemahkan upaya mempertahankan yen.
Untuk menghindari dampak tersebut, otoritas Jepang biasanya mencoba mendanai intervensi lebih dulu dari deposito dolar atau aset cadangan yang sangat likuid, bukan langsung menjual obligasi.
Pendekatan ini memberi beberapa keuntungan:
Namun cara ini juga punya batas. Jika intervensi berulang menguras cadangan yang paling likuid, pemerintah pada akhirnya mungkin harus menjual sekuritas seperti Treasury untuk menambah kas. Pada tahap itu, operasi valuta asing bisa mulai berdampak pada pasar keuangan global.
Tekanan struktural terbesar pada yen berasal dari perbedaan suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang.
Jika suku bunga AS jauh lebih tinggi, investor global dapat meminjam dalam yen yang berbunga rendah lalu menanamkannya pada aset dolar dengan imbal hasil lebih tinggi. Strategi ini dikenal sebagai carry trade.
Arus modal ini melemahkan yen karena:
Akibatnya, intervensi mata uang saja jarang cukup untuk membalikkan tren jangka panjang. Ia bisa memicu penguatan yen sementara, tetapi insentif investasi tetap sama sampai kebijakan moneter berubah.
Nilai tukar sekitar 160 yen per dolar telah menjadi ambang psikologis penting bagi pasar.
Banyak pelaku pasar menganggap pergerakan mendekati level itu meningkatkan kemungkinan intervensi pemerintah. Dalam beberapa episode sebelumnya, tindakan pemerintah terjadi setelah yen mendekati atau menembus level serupa, menandakan kekhawatiran otoritas terhadap volatilitas berlebihan.
Meski begitu, pemerintah biasanya lebih fokus melawan pergerakan spekulatif yang terlalu cepat, bukan mempertahankan angka tertentu secara permanen.
Upaya Jepang mempertahankan yen tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing.
Karena negara ini memiliki cadangan devisa yang sangat besar dan merupakan salah satu pemilik terbesar utang pemerintah AS, kebijakan Jepang dapat memengaruhi:
Di sinilah dilema muncul. Jepang memang memiliki sumber daya besar untuk menahan pelemahan yen dengan menggunakan cadangannya. Tetapi jika langkah itu melibatkan penjualan besar obligasi AS, kondisi keuangan global bisa mengetat—dan secara ironis mendorong dolar menjadi lebih kuat lagi.
Singkatnya, Tokyo memiliki amunisi finansial besar untuk membela mata uangnya. Tantangan sebenarnya adalah bahwa faktor utama yang melemahkan yen—terutama selisih suku bunga dengan Amerika Serikat—jauh lebih sulit diubah dibandingkan sekadar melakukan intervensi di pasar mata uang.
Comments
0 comments