Jepang menopang yen dengan menjual dolar dari cadangan devisanya dan membeli yen di pasar global. Negara ini memiliki sekitar $1,38 triliun cadangan resmi dan lebih dari $1 triliun obligasi pemerintah AS, memberi ruang besar untuk intervensi.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How is Japan defending the yen against its recent slide, why did a senior Finance Ministry official say selling U.S. Treasuries to fund yen-. Article summary: Japan is defending the yen mainly through actual or suspected yen-buying/dollar-selling intervention using its foreign-exchange reserves, while market reports also focus on whether that intervention is being funded partl. Topic tags: general, general web, user generated, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "January 25, 2026 - " Using reserves set aside for currency intervention would require selling U.S. Treasuries ," Takayuki Kobayashi, a senior official of Takaichi's Liberal Democra" source context "Japan PM vows to act against speculative market moves after yen spike" Reference image 2: visual subject
Pemerintah Jepang berusaha menahan pelemahan yen terutama melalui intervensi di pasar valuta asing—yakni menjual dolar AS dari cadangan devisa dan membeli yen di pasar global. Strategi ini bisa menstabilkan nilai tukar dalam jangka pendek, tetapi ada dilema besar: penyebab utama melemahnya yen bukanlah gejolak pasar sesaat, melainkan perbedaan suku bunga global.
Saat melakukan intervensi, otoritas Jepang biasanya menjual aset berdenominasi dolar dari cadangan mereka lalu membeli yen. Langkah ini menekan nilai tukar USD/JPY dan dapat memaksa spekulan yang bertaruh pada pelemahan yen untuk menutup posisi mereka. Operasi ini dijalankan oleh Bank of Japan atas nama Kementerian Keuangan Jepang.
Jepang memiliki kapasitas finansial besar untuk melakukan langkah tersebut. Hingga April 2026, negara itu memiliki sekitar $1,38 triliun cadangan resmi, termasuk sekitar $1,17 triliun cadangan mata uang asing yang bisa digunakan untuk operasi valuta asing.
Intervensi besar dapat mengguncang pasar dalam waktu singkat. Dalam beberapa episode sebelumnya, pemerintah Jepang menghabiskan puluhan miliar dolar dalam waktu singkat—misalnya sekitar $62 miliar dalam satu bulan saat operasi mempertahankan yen.
Namun biasanya intervensi semacam ini ditujukan untuk menahan pergerakan yang terlalu cepat atau tidak teratur, bukan mempertahankan satu level nilai tukar tertentu dalam jangka panjang.
Sebagian pengamat pasar menduga bahwa sebagian dana intervensi bisa berasal dari penjualan U.S. Treasury—obligasi pemerintah Amerika Serikat. Jepang adalah pemegang asing terbesar obligasi tersebut, dengan kepemilikan sekitar $1,06 triliun.
Secara teori, menjual obligasi itu memberi pemerintah dolar tunai yang bisa langsung digunakan untuk membeli yen. Namun para pejabat memperingatkan bahwa pendekatan ini bisa kontraproduktif.
Masalahnya ada pada reaksi pasar obligasi:
Jika itu terjadi, arus modal global bisa kembali mengalir ke aset dolar berimbal hasil tinggi—yang pada akhirnya menguatkan dolar lagi dan menghapus efek intervensi yen. Karena itu, analis dan pembuat kebijakan sering memperingatkan bahwa penjualan besar Treasury justru bisa melemahkan upaya mempertahankan yen.
Untuk menghindari dampak tersebut, otoritas Jepang biasanya mencoba mendanai intervensi lebih dulu dari deposito dolar atau aset cadangan yang sangat likuid, bukan langsung menjual obligasi.
Pendekatan ini memberi beberapa keuntungan:
Namun cara ini juga punya batas. Jika intervensi berulang menguras cadangan yang paling likuid, pemerintah pada akhirnya mungkin harus menjual sekuritas seperti Treasury untuk menambah kas. Pada tahap itu, operasi valuta asing bisa mulai berdampak pada pasar keuangan global.
Tekanan struktural terbesar pada yen berasal dari perbedaan suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang.
Jika suku bunga AS jauh lebih tinggi, investor global dapat meminjam dalam yen yang berbunga rendah lalu menanamkannya pada aset dolar dengan imbal hasil lebih tinggi. Strategi ini dikenal sebagai carry trade.
Arus modal ini melemahkan yen karena:
Akibatnya, intervensi mata uang saja jarang cukup untuk membalikkan tren jangka panjang. Ia bisa memicu penguatan yen sementara, tetapi insentif investasi tetap sama sampai kebijakan moneter berubah.
Nilai tukar sekitar 160 yen per dolar telah menjadi ambang psikologis penting bagi pasar.
Banyak pelaku pasar menganggap pergerakan mendekati level itu meningkatkan kemungkinan intervensi pemerintah. Dalam beberapa episode sebelumnya, tindakan pemerintah terjadi setelah yen mendekati atau menembus level serupa, menandakan kekhawatiran otoritas terhadap volatilitas berlebihan.
Meski begitu, pemerintah biasanya lebih fokus melawan pergerakan spekulatif yang terlalu cepat, bukan mempertahankan angka tertentu secara permanen.
Upaya Jepang mempertahankan yen tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing.
Karena negara ini memiliki cadangan devisa yang sangat besar dan merupakan salah satu pemilik terbesar utang pemerintah AS, kebijakan Jepang dapat memengaruhi:
Di sinilah dilema muncul. Jepang memang memiliki sumber daya besar untuk menahan pelemahan yen dengan menggunakan cadangannya. Tetapi jika langkah itu melibatkan penjualan besar obligasi AS, kondisi keuangan global bisa mengetat—dan secara ironis mendorong dolar menjadi lebih kuat lagi.
Singkatnya, Tokyo memiliki amunisi finansial besar untuk membela mata uangnya. Tantangan sebenarnya adalah bahwa faktor utama yang melemahkan yen—terutama selisih suku bunga dengan Amerika Serikat—jauh lebih sulit diubah dibandingkan sekadar melakukan intervensi di pasar mata uang.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Jepang menopang yen dengan menjual dolar dari cadangan devisanya dan membeli yen di pasar global.
Jepang menopang yen dengan menjual dolar dari cadangan devisanya dan membeli yen di pasar global. Negara ini memiliki sekitar $1,38 triliun cadangan resmi dan lebih dari $1 triliun obligasi pemerintah AS, memberi ruang besar untuk intervensi.
Menjual U.S. Treasuries untuk membiayai intervensi bisa menaikkan imbal hasil AS dan justru memperkuat dolar, sehingga melemahkan yen kembali.