Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh proyek energi bersih baru dan kontrak pembelian listrik jangka panjang yang mulai memasok listrik rendah karbon ke jaringan listrik tempat fasilitas Google beroperasi.
Target Google untuk 2030 berbeda dari strategi energi terbarukan yang selama ini digunakan banyak perusahaan.
Banyak perusahaan mengklaim menggunakan 100% energi terbarukan dengan membeli listrik terbarukan atau sertifikat energi terbarukan yang jumlahnya setara dengan konsumsi listrik tahunan mereka.
Namun secara praktik, listrik yang benar‑benar mengalir ke fasilitas mereka pada waktu tertentu bisa saja masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil.
Energi dari panel surya pada siang hari atau turbin angin saat berangin biasanya hanya "mengimbangi" penggunaan listrik berbasis fosil pada waktu lain.
Target 24/7 CFE mencoba menutup celah tersebut.
Google ingin mencocokkan konsumsi listrik dengan energi bebas karbon setiap jam dan di setiap jaringan listrik tempat mereka beroperasi.
Konsekuensinya, strategi pengadaan energi harus berubah:
Karena itu Google mulai mendorong kombinasi teknologi seperti penyimpanan energi, panas bumi (geothermal), nuklir generasi baru, serta operasi pusat data yang lebih fleksibel.
Beberapa perkembangan terbaru menunjukkan Google terus memperluas pasokan listrik bersih meskipun konsumsi energinya meningkat.
Sejak 2010 hingga 2024, Google telah menandatangani lebih dari 170 perjanjian pembelian energi bersih dengan total kapasitas lebih dari 22 gigawatt di seluruh dunia.
Hal ini menjadikan perusahaan tersebut salah satu pembeli listrik bersih korporat terbesar secara global.
Menurut laporan lingkungan Google, lebih dari 25 proyek energi bersih yang sebelumnya dikontrak mulai beroperasi pada 2024, menambahkan sekitar 2,5 GW kapasitas listrik bersih baru ke jaringan yang memasok operasinya.
Proyek‑proyek ini memainkan peran penting dalam menurunkan emisi pusat data meskipun kebutuhan listrik meningkat.
Google juga terus menandatangani kontrak baru. Salah satu contohnya adalah serangkaian perjanjian pembelian listrik dengan Clearway yang diperkirakan menyediakan hampir 1,2 GW energi bebas karbon dari proyek di Missouri, Texas, dan West Virginia di Amerika Serikat untuk membantu memasok listrik ke data center.
Untuk mengukur progres, Google menggunakan metrik persentase energi bebas karbon (CFE).
Data terbaru menunjukkan perusahaan mencapai sekitar 66% energi bebas karbon secara rata‑rata per jam di seluruh operasinya, dengan beberapa wilayah jaringan listrik melampaui 80%.
Angka tersebut menunjukkan kemajuan nyata, tetapi juga menegaskan bahwa masih ada jarak yang cukup jauh menuju target penuh pada 2030.
Membeli energi terbarukan saja tidak cukup untuk mencapai target 24/7.
Google juga mengubah cara pusat datanya berinteraksi dengan jaringan listrik.
Salah satu pendekatan adalah carbon‑aware computing, yaitu memindahkan sebagian beban komputasi ke lokasi atau waktu ketika listrik yang tersedia lebih bersih.
Perusahaan juga mengembangkan kemampuan demand response, yang memungkinkan pusat data menurunkan atau menggeser konsumsi listrik ketika jaringan listrik sedang mengalami tekanan atau ketika pembangkit fosil mendominasi.
Efisiensi komputasi juga menjadi fokus. Penelitian internal Google menunjukkan bahwa kombinasi teknik pelatihan model dan optimasi infrastruktur dapat mengurangi energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI hingga 100 kali lipat dan emisinya hingga 1.000 kali dalam beberapa kasus.
Strategi keberlanjutan Google tidak hanya fokus pada operasinya sendiri.
Pada Mei 2026, Google DeepMind meluncurkan program akselerator “AI for the Planet” di kawasan Asia‑Pasifik.
Program selama tiga bulan ini ditujukan bagi startup, lembaga riset, dan organisasi nirlaba yang mengembangkan solusi berbasis AI untuk masalah lingkungan.
Bidang yang menjadi fokus antara lain:
Peserta akan mendapatkan bimbingan teknis serta dukungan dari para ahli AI Google untuk mengintegrasikan model AI canggih ke dalam proyek mereka.
Program ini mencerminkan visi yang lebih luas di dalam Google: AI tidak hanya harus dijalankan dengan energi yang lebih bersih, tetapi juga dapat digunakan untuk mempercepat solusi iklim di berbagai sektor.
Target Google untuk menjalankan operasi dengan energi bebas karbon 24/7 pada 2030 menandai perubahan besar dalam cara perusahaan teknologi besar mendekati energi terbarukan.
Alih‑alih sekadar menyeimbangkan konsumsi listrik secara tahunan, Google mencoba mencocokkan penggunaan listrik dengan sumber energi bersih setiap jam dan di setiap wilayah jaringan listrik.
Sejauh ini terlihat dua tren yang berjalan bersamaan: kebutuhan listrik dari AI meningkat cepat, tetapi emisi pusat data dapat ditekan melalui proyek energi bersih baru, kontrak listrik jangka panjang, dan peningkatan efisiensi.
Apakah target pencocokan energi bebas karbon setiap jam benar‑benar tercapai pada 2030 masih belum pasti. Namun strategi ini sudah mulai memengaruhi cara operator pusat data dan penyedia cloud besar memikirkan sumber energi untuk infrastruktur AI generasi berikutnya.
Comments
0 comments