Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37] Amerika Serikat menjadi contoh skala tekanan tersebut: utang federal telah menembus US$40 triliun, biaya bunga tahu...
Diterbitkan olehDiedit dengan GPT-5.6 LunaGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How have rising long-term government bond yields across the G7—reaching their highest average level since 2008—combined with developed-marke. Article summary: The combination of much larger debt stocks and higher long-term yields is turning fiscal stress into a compounding problem: governments must refinance maturing debt at materially higher coupons, which raises interest bil. Topic tags: general, news, general web, user generated, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah biasanya paling terasa ketika utang publik sudah menumpuk. Saat obligasi lama dengan kupon rendah jatuh tempo, pemerintah harus menggantinya dengan surat utang baru yang menawarkan bunga lebih tinggi. Akibatnya, belanja untuk membayar bunga meningkat dan anggaran untuk layanan publik maupun investasi menjadi lebih terbatas.
Tekanan ini terjadi secara luas. Utang pemerintah di negara-negara maju diproyeksikan mencapai rekor US$75,8 triliun pada akhir 2026, setara sekitar 104% dari produk domestik bruto (PDB), setelah bertambah US$4,2 triliun sepanjang tahun.33 Pada saat yang sama, rata-rata imbal hasil obligasi negara-negara G7 telah mencapai level tertinggi sejak 2008.
37
Kenaikan imbal hasil di pasar tidak langsung mengubah bunga seluruh obligasi pemerintah. Surat utang dengan bunga tetap biasanya masih membayar kupon sesuai ketentuan awal hingga jatuh tempo. Dampak terhadap anggaran muncul secara bertahap ketika pemerintah membiayai kembali surat utang yang jatuh tempo dan menerbitkan utang baru.
Jeda waktu ini dapat membuat risikonya tampak lebih kecil dari kenyataan. Jika biaya pinjaman bertahan di atas pertumbuhan ekonomi nominal sementara pemerintah terus mencatat defisit primer—defisit sebelum pembayaran bunga—rasio utang terhadap PDB dapat terus meningkat. Pemerintah kemudian mungkin perlu berutang lebih banyak untuk membayar bunga, menciptakan lingkaran tekanan antara pasokan obligasi, kepercayaan investor, dan imbal hasil.
Kenaikan biaya pinjaman saat ini dipengaruhi beberapa faktor sekaligus, termasuk defisit besar, ketidakpastian inflasi, kebutuhan belanja geopolitik, serta berkurangnya permintaan terhadap obligasi dengan jatuh tempo sangat panjang.35
46
Utang federal bruto Amerika Serikat menembus US$40 triliun pada Agustus 2026, sementara biaya bunga tahunannya melampaui US$1 triliun.17
19 Imbal hasil Treasury 30 tahun juga naik di atas 5% dan mencapai level tertinggi sejak 2007, sehingga penerbitan maupun pembiayaan kembali utang jangka panjang menjadi lebih mahal.
1
Amerika Serikat memiliki keunggulan berupa pasar Treasury yang sangat likuid dan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Keunggulan tersebut menopang permintaan terhadap surat utangnya, tetapi tidak menghapus persoalan aritmetika: semakin besar stok utang, semakin mahal pula biaya pelayanannya ketika utang baru diterbitkan dengan bunga lebih tinggi.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya pergerakan imbal hasil dalam satu hari, melainkan arah penerbitan dan pembiayaan kembali pada tahun-tahun mendatang. Selama defisit tetap besar, Departemen Keuangan AS harus terus memasok obligasi ke pasar. Investor dapat meminta premi jangka waktu atau premi inflasi yang lebih tinggi untuk menyerap pasokan tersebut, sehingga biaya pinjaman jangka panjang tetap tinggi.35
46
Tekanan terhadap Inggris diperbesar oleh porsi utang yang terkait dengan inflasi. Pembayaran bunga utang bersih diproyeksikan sekitar £109 miliar pada tahun fiskal 2026/27, dibandingkan sekitar £66 miliar untuk pertahanan.50 Imbal hasil gilt Inggris bertenor 30 tahun juga mendekati 6% dalam aksi jual obligasi 2026, level yang terakhir terlihat pada akhir 1990-an.
51
Kombinasi tersebut membuat anggaran Inggris sensitif terhadap suku bunga dan inflasi. Biaya pendanaan jangka panjang yang lebih tinggi dapat menggeser belanja untuk prioritas lain bahkan sebelum seluruh stok utang diperbarui.
Prancis menghadapi pertukaran kepentingan yang serupa. Biaya pelayanan utang negara diperkirakan mencapai sekitar €59 miliar pada 2026, sehingga harus bersaing dengan layanan publik, investasi, pertahanan, dan program belanja lainnya.50 Tantangan Prancis bukan hanya tingkat imbal hasil, tetapi juga ruang fiskal yang terbatas jika pertumbuhan tetap lemah dan biaya bunga terus naik.
Italia sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil yang berlangsung lama karena beban utangnya tinggi, prospek pertumbuhannya terbatas, dan kebutuhan pembiayaan kembalinya besar. Menurut S&P Global Ratings yang dikutip Reuters, pembayaran bunga diperkirakan meningkat hingga sekitar 9% dari pendapatan pemerintah pada 2028.50
Bagi investor, selisih imbal hasil obligasi Italia dan Jerman merupakan indikator penting. Selisih tersebut membantu menunjukkan apakah pasar sedang melakukan penyesuaian ulang suku bunga secara umum atau mulai melihat risiko fiskal khusus Italia. Pelebaran selisih itu dapat menandakan kekhawatiran yang lebih besar terhadap dinamika utang Italia dan menghidupkan kembali risiko fragmentasi di zona euro.
Namun, imbal hasil Italia yang lebih tinggi tidak otomatis berarti krisis. Artinya, ruang kesalahan Italia lebih kecil. Kenaikan biaya pendanaan yang berkepanjangan akan menekan anggaran dan dapat membuat konsolidasi fiskal semakin sulit secara politik.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun mencapai 2,945%, level tertinggi sejak September 1996. Kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan mendorong investor menjual obligasi.2 Imbal hasil obligasi Jepang bertenor 20 tahun dan 30 tahun juga meningkat dalam periode tersebut.
2
Stok utang Jepang sangat besar. Karena itu, imbal hasil yang terlihat lebih rendah dibandingkan Inggris atau Amerika Serikat tetap dapat berdampak signifikan ketika utang terus diperbarui. Imbal hasil domestik yang lebih tinggi juga dapat mengurangi minat investor Jepang untuk memegang obligasi asing, sehingga berpotensi menambah tekanan kenaikan imbal hasil di pasar global.
Perkembangan di Jepang menunjukkan bahwa risiko ini tidak hanya mengancam negara yang selama ini dianggap rapuh secara fiskal. Perubahan dari era suku bunga yang sangat rendah selama puluhan tahun dapat mengubah biaya modal di seluruh perekonomian.
Jerman memulai dari beban utang yang relatif lebih ringan dibandingkan sebagian besar negara G7 lainnya. Namun, imbal hasil jangka panjangnya juga naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.36 Hal ini penting karena kebutuhan belanja untuk pertahanan dan infrastruktur meningkatkan kebutuhan pembiayaan, bahkan ketika posisi fiskal awal suatu negara lebih kuat.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa utang yang lebih rendah memang memberi daya tahan lebih besar, tetapi tidak sepenuhnya melindungi pemerintah dari penyesuaian ulang global terhadap inflasi, premi jangka waktu, dan pasokan obligasi.
Pemerintah yang menghadapi biaya pembiayaan kembali lebih tinggi memiliki beberapa pilihan, tetapi tidak ada yang tanpa konsekuensi:
Hasil akhirnya bergantung pada hubungan antara suku bunga efektif utang pemerintah dan pertumbuhan PDB nominal. Pertumbuhan nominal yang lebih cepat dapat membuat stok utang lebih mudah ditanggung. Sebaliknya, biaya pinjaman yang terus tinggi dan pertumbuhan yang lemah akan menyulitkan stabilisasi utang.
Obligasi pemerintah dengan imbal hasil di atas 5% kini dapat terlihat lebih menarik dibandingkan saham, terutama bagi investor yang mencari pendapatan kontraktual, pelestarian modal, atau pencocokan aset dengan kewajiban.
Namun, imbal hasil tinggi tidak sama dengan keamanan. Obligasi berdurasi panjang dapat kehilangan nilai secara signifikan jika ekspektasi inflasi, premi jangka waktu, atau premi risiko fiskal kembali meningkat. Investor juga perlu membedakan karakter tiap pasar: Treasury AS, gilt Inggris, obligasi pemerintah Prancis, BTP Italia, dan obligasi pemerintah Jepang memiliki kombinasi risiko durasi, mata uang, inflasi, likuiditas, dan fiskal yang berbeda.
Kenaikan suku bunga bebas risiko juga cenderung menekan valuasi saham, terutama perusahaan pertumbuhan yang sebagian besar labanya diharapkan muncul jauh di masa depan. Ketika investor dapat memperoleh imbal hasil nominal lebih tinggi dari obligasi pemerintah, arus kas masa depan didiskontokan lebih besar. Saham kemudian membutuhkan pertumbuhan laba yang lebih kuat—atau harga yang lebih rendah—agar tetap menarik.
Imbal hasil obligasi negara menjadi acuan bagi banyak aktivitas ekonomi. Kenaikannya dapat:
Dampak terhadap pertumbuhan dapat memperkuat masalah fiskal. Belanja bunga yang lebih besar bisa mengurangi investasi publik, sementara kenaikan pajak atau pemangkasan belanja dapat melemahkan pertumbuhan. Pertumbuhan yang lebih lambat kemudian membuat rasio utang terhadap PDB semakin sulit distabilkan.
Risiko utamanya bukan setiap negara G7 tiba-tiba kehilangan akses ke pasar. Risikonya adalah stok utang yang besar perlahan berubah menjadi beban tetap atas anggaran masa depan.
Dengan utang negara maju yang diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun dan biaya pinjaman rata-rata G7 berada di level tertinggi sejak 2008, pembiayaan kembali utang mulai menjadi kendala strategis, bukan lagi sekadar urusan administratif.33
37 Negara yang paling rentan adalah negara yang menggabungkan utang tinggi, pertumbuhan lemah, defisit besar, dan kebutuhan pembiayaan kembali dalam waktu dekat.
Bagi investor dan pelaku usaha, penyesuaian ulang ini membuat obligasi pemerintah lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Namun, modal juga menjadi lebih mahal dan volatilitas pasar kemungkinan tetap tinggi.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37]
Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37] Amerika Serikat menjadi contoh skala tekanan tersebut: utang federal telah menembus US$40 triliun, biaya bunga tahunan melampaui US$1 triliun, dan imbal hasil Treasury 30 tahun naik di atas 5%.[17][19]
Ini bukan berarti setiap negara G7 akan segera mengalami krisis. Masalah utamanya adalah ruang fiskal yang makin sempit, terutama di Italia, Inggris, Prancis, dan Jepang ketika imbal hasil tinggi bertahan di tengah pe...
Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37] Amerika Serikat menjadi contoh skala tekanan tersebut: utang federal telah menembus US$40 triliun, biaya bunga tahu...
Diterbitkan olehDiedit dengan GPT-5.6 LunaGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How have rising long-term government bond yields across the G7—reaching their highest average level since 2008—combined with developed-marke. Article summary: The combination of much larger debt stocks and higher long-term yields is turning fiscal stress into a compounding problem: governments must refinance maturing debt at materially higher coupons, which raises interest bil. Topic tags: general, news, general web, user generated, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah biasanya paling terasa ketika utang publik sudah menumpuk. Saat obligasi lama dengan kupon rendah jatuh tempo, pemerintah harus menggantinya dengan surat utang baru yang menawarkan bunga lebih tinggi. Akibatnya, belanja untuk membayar bunga meningkat dan anggaran untuk layanan publik maupun investasi menjadi lebih terbatas.
Tekanan ini terjadi secara luas. Utang pemerintah di negara-negara maju diproyeksikan mencapai rekor US$75,8 triliun pada akhir 2026, setara sekitar 104% dari produk domestik bruto (PDB), setelah bertambah US$4,2 triliun sepanjang tahun.33 Pada saat yang sama, rata-rata imbal hasil obligasi negara-negara G7 telah mencapai level tertinggi sejak 2008.
37
Kenaikan imbal hasil di pasar tidak langsung mengubah bunga seluruh obligasi pemerintah. Surat utang dengan bunga tetap biasanya masih membayar kupon sesuai ketentuan awal hingga jatuh tempo. Dampak terhadap anggaran muncul secara bertahap ketika pemerintah membiayai kembali surat utang yang jatuh tempo dan menerbitkan utang baru.
Jeda waktu ini dapat membuat risikonya tampak lebih kecil dari kenyataan. Jika biaya pinjaman bertahan di atas pertumbuhan ekonomi nominal sementara pemerintah terus mencatat defisit primer—defisit sebelum pembayaran bunga—rasio utang terhadap PDB dapat terus meningkat. Pemerintah kemudian mungkin perlu berutang lebih banyak untuk membayar bunga, menciptakan lingkaran tekanan antara pasokan obligasi, kepercayaan investor, dan imbal hasil.
Kenaikan biaya pinjaman saat ini dipengaruhi beberapa faktor sekaligus, termasuk defisit besar, ketidakpastian inflasi, kebutuhan belanja geopolitik, serta berkurangnya permintaan terhadap obligasi dengan jatuh tempo sangat panjang.35
46
Utang federal bruto Amerika Serikat menembus US$40 triliun pada Agustus 2026, sementara biaya bunga tahunannya melampaui US$1 triliun.17
19 Imbal hasil Treasury 30 tahun juga naik di atas 5% dan mencapai level tertinggi sejak 2007, sehingga penerbitan maupun pembiayaan kembali utang jangka panjang menjadi lebih mahal.
1
Amerika Serikat memiliki keunggulan berupa pasar Treasury yang sangat likuid dan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Keunggulan tersebut menopang permintaan terhadap surat utangnya, tetapi tidak menghapus persoalan aritmetika: semakin besar stok utang, semakin mahal pula biaya pelayanannya ketika utang baru diterbitkan dengan bunga lebih tinggi.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya pergerakan imbal hasil dalam satu hari, melainkan arah penerbitan dan pembiayaan kembali pada tahun-tahun mendatang. Selama defisit tetap besar, Departemen Keuangan AS harus terus memasok obligasi ke pasar. Investor dapat meminta premi jangka waktu atau premi inflasi yang lebih tinggi untuk menyerap pasokan tersebut, sehingga biaya pinjaman jangka panjang tetap tinggi.35
46
Tekanan terhadap Inggris diperbesar oleh porsi utang yang terkait dengan inflasi. Pembayaran bunga utang bersih diproyeksikan sekitar £109 miliar pada tahun fiskal 2026/27, dibandingkan sekitar £66 miliar untuk pertahanan.50 Imbal hasil gilt Inggris bertenor 30 tahun juga mendekati 6% dalam aksi jual obligasi 2026, level yang terakhir terlihat pada akhir 1990-an.
51
Kombinasi tersebut membuat anggaran Inggris sensitif terhadap suku bunga dan inflasi. Biaya pendanaan jangka panjang yang lebih tinggi dapat menggeser belanja untuk prioritas lain bahkan sebelum seluruh stok utang diperbarui.
Prancis menghadapi pertukaran kepentingan yang serupa. Biaya pelayanan utang negara diperkirakan mencapai sekitar €59 miliar pada 2026, sehingga harus bersaing dengan layanan publik, investasi, pertahanan, dan program belanja lainnya.50 Tantangan Prancis bukan hanya tingkat imbal hasil, tetapi juga ruang fiskal yang terbatas jika pertumbuhan tetap lemah dan biaya bunga terus naik.
Italia sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil yang berlangsung lama karena beban utangnya tinggi, prospek pertumbuhannya terbatas, dan kebutuhan pembiayaan kembalinya besar. Menurut S&P Global Ratings yang dikutip Reuters, pembayaran bunga diperkirakan meningkat hingga sekitar 9% dari pendapatan pemerintah pada 2028.50
Bagi investor, selisih imbal hasil obligasi Italia dan Jerman merupakan indikator penting. Selisih tersebut membantu menunjukkan apakah pasar sedang melakukan penyesuaian ulang suku bunga secara umum atau mulai melihat risiko fiskal khusus Italia. Pelebaran selisih itu dapat menandakan kekhawatiran yang lebih besar terhadap dinamika utang Italia dan menghidupkan kembali risiko fragmentasi di zona euro.
Namun, imbal hasil Italia yang lebih tinggi tidak otomatis berarti krisis. Artinya, ruang kesalahan Italia lebih kecil. Kenaikan biaya pendanaan yang berkepanjangan akan menekan anggaran dan dapat membuat konsolidasi fiskal semakin sulit secara politik.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun mencapai 2,945%, level tertinggi sejak September 1996. Kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan mendorong investor menjual obligasi.2 Imbal hasil obligasi Jepang bertenor 20 tahun dan 30 tahun juga meningkat dalam periode tersebut.
2
Stok utang Jepang sangat besar. Karena itu, imbal hasil yang terlihat lebih rendah dibandingkan Inggris atau Amerika Serikat tetap dapat berdampak signifikan ketika utang terus diperbarui. Imbal hasil domestik yang lebih tinggi juga dapat mengurangi minat investor Jepang untuk memegang obligasi asing, sehingga berpotensi menambah tekanan kenaikan imbal hasil di pasar global.
Perkembangan di Jepang menunjukkan bahwa risiko ini tidak hanya mengancam negara yang selama ini dianggap rapuh secara fiskal. Perubahan dari era suku bunga yang sangat rendah selama puluhan tahun dapat mengubah biaya modal di seluruh perekonomian.
Jerman memulai dari beban utang yang relatif lebih ringan dibandingkan sebagian besar negara G7 lainnya. Namun, imbal hasil jangka panjangnya juga naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.36 Hal ini penting karena kebutuhan belanja untuk pertahanan dan infrastruktur meningkatkan kebutuhan pembiayaan, bahkan ketika posisi fiskal awal suatu negara lebih kuat.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa utang yang lebih rendah memang memberi daya tahan lebih besar, tetapi tidak sepenuhnya melindungi pemerintah dari penyesuaian ulang global terhadap inflasi, premi jangka waktu, dan pasokan obligasi.
Pemerintah yang menghadapi biaya pembiayaan kembali lebih tinggi memiliki beberapa pilihan, tetapi tidak ada yang tanpa konsekuensi:
Hasil akhirnya bergantung pada hubungan antara suku bunga efektif utang pemerintah dan pertumbuhan PDB nominal. Pertumbuhan nominal yang lebih cepat dapat membuat stok utang lebih mudah ditanggung. Sebaliknya, biaya pinjaman yang terus tinggi dan pertumbuhan yang lemah akan menyulitkan stabilisasi utang.
Obligasi pemerintah dengan imbal hasil di atas 5% kini dapat terlihat lebih menarik dibandingkan saham, terutama bagi investor yang mencari pendapatan kontraktual, pelestarian modal, atau pencocokan aset dengan kewajiban.
Namun, imbal hasil tinggi tidak sama dengan keamanan. Obligasi berdurasi panjang dapat kehilangan nilai secara signifikan jika ekspektasi inflasi, premi jangka waktu, atau premi risiko fiskal kembali meningkat. Investor juga perlu membedakan karakter tiap pasar: Treasury AS, gilt Inggris, obligasi pemerintah Prancis, BTP Italia, dan obligasi pemerintah Jepang memiliki kombinasi risiko durasi, mata uang, inflasi, likuiditas, dan fiskal yang berbeda.
Kenaikan suku bunga bebas risiko juga cenderung menekan valuasi saham, terutama perusahaan pertumbuhan yang sebagian besar labanya diharapkan muncul jauh di masa depan. Ketika investor dapat memperoleh imbal hasil nominal lebih tinggi dari obligasi pemerintah, arus kas masa depan didiskontokan lebih besar. Saham kemudian membutuhkan pertumbuhan laba yang lebih kuat—atau harga yang lebih rendah—agar tetap menarik.
Imbal hasil obligasi negara menjadi acuan bagi banyak aktivitas ekonomi. Kenaikannya dapat:
Dampak terhadap pertumbuhan dapat memperkuat masalah fiskal. Belanja bunga yang lebih besar bisa mengurangi investasi publik, sementara kenaikan pajak atau pemangkasan belanja dapat melemahkan pertumbuhan. Pertumbuhan yang lebih lambat kemudian membuat rasio utang terhadap PDB semakin sulit distabilkan.
Risiko utamanya bukan setiap negara G7 tiba-tiba kehilangan akses ke pasar. Risikonya adalah stok utang yang besar perlahan berubah menjadi beban tetap atas anggaran masa depan.
Dengan utang negara maju yang diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun dan biaya pinjaman rata-rata G7 berada di level tertinggi sejak 2008, pembiayaan kembali utang mulai menjadi kendala strategis, bukan lagi sekadar urusan administratif.33
37 Negara yang paling rentan adalah negara yang menggabungkan utang tinggi, pertumbuhan lemah, defisit besar, dan kebutuhan pembiayaan kembali dalam waktu dekat.
Bagi investor dan pelaku usaha, penyesuaian ulang ini membuat obligasi pemerintah lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Namun, modal juga menjadi lebih mahal dan volatilitas pasar kemungkinan tetap tinggi.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37]
Utang pemerintah negara maju diproyeksikan mencapai US$75,8 triliun atau sekitar 104% dari PDB pada akhir 2026, sementara rata rata imbal hasil obligasi G7 berada di level tertinggi sejak 2008.[33][37] Amerika Serikat menjadi contoh skala tekanan tersebut: utang federal telah menembus US$40 triliun, biaya bunga tahunan melampaui US$1 triliun, dan imbal hasil Treasury 30 tahun naik di atas 5%.[17][19]
Ini bukan berarti setiap negara G7 akan segera mengalami krisis. Masalah utamanya adalah ruang fiskal yang makin sempit, terutama di Italia, Inggris, Prancis, dan Jepang ketika imbal hasil tinggi bertahan di tengah pe...