Meski gencatan senjata Gaza dimulai 10 Oktober 2025, laporan PBB dan lembaga kemanusiaan menyebut serangan udara, artileri, dan tembakan tetap terjadi hampir setiap hari. Setidaknya 393 pelanggaran gencatan senjata dilaporkan hingga akhir November 2025, dengan 339 warga Palestina tewas dan lebih dari 870 orang terluka.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How have Israeli strikes continued in Gaza’s Nuseirat and Bureij refugee camps despite the October 2025 ceasefire, what casualties and cease. Article summary: Israeli strikes have continued in and around Gaza’s central refugee camps even after the 10 October 2025 ceasefire, including reported attacks on Nuseirat and Bureij during the truce. The strongest UN-sourced evidence I . Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Despite a ceasefire that took effect in October 2025, the Israeli army has continued to violate it, killing 574 Palestinians and wounding 1,518" source context "Israeli violations continue in Gaza despite start of 2nd phase of ceasefire" Reference image 2: visual subject "Catastrophic famine 'imminent' in Norther
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 dimaksudkan untuk meredakan konflik di Jalur Gaza serta memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut. Namun berbagai laporan dari pakar Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB), lembaga kemanusiaan, dan media menunjukkan bahwa serangan udara, tembakan artileri, dan penembakan masih terjadi selama masa gencatan senjata, termasuk di sekitar kamp pengungsi Nuseirat dan Bureij di Gaza tengah.
Walaupun intensitas pertempuran menurun dibanding fase perang sebelumnya, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa pelanggaran gencatan senjata tetap sering terjadi, korban jiwa terus bertambah, dan situasi kemanusiaan tetap memprihatinkan.
Beberapa laporan selama periode gencatan senjata menyebut adanya serangan Israel di kamp pengungsi Gaza bagian tengah.
Saksi mata dan laporan lokal mengatakan wilayah permukiman di kamp Nuseirat dan Bureij terkena serangan meski gencatan senjata masih berlaku, melukai sejumlah warga Palestina dan merusak bangunan. Insiden lain juga melibatkan penembakan artileri dan serangan udara di sekitar kamp Bureij serta wilayah Gaza tengah lainnya selama masa gencatan senjata.
Selain itu, ada laporan mengenai pembongkaran bangunan dan serangan di sekitar Nuseirat dan kamp‑kamp pusat Gaza, yang menurut pekerja kemanusiaan membuat operasi penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi sangat sulit.
Peristiwa tersebut merupakan bagian dari pola yang lebih luas dari serangan yang dilaporkan di berbagai wilayah Gaza selama periode gencatan senjata.
Pakar hak asasi manusia PBB memperingatkan pada akhir November 2025 bahwa pasukan Israel telah melakukan setidaknya 393 pelanggaran gencatan senjata sejak perjanjian berlaku. Dalam pernyataan mereka disebutkan bahwa:
Angka 870+ tersebut merujuk pada jumlah korban luka, bukan korban tewas, yang sering disalahartikan dalam sejumlah klaim yang beredar.
Dokumen lain yang beredar di Perserikatan Bangsa‑Bangsa juga menyebut “ratusan pelanggaran” sejak gencatan senjata dimulai, termasuk 211 warga Palestina yang tewas dalam periode tiga minggu setelah perjanjian diberlakukan.
Laporan PBB dan lembaga kemanusiaan menunjukkan bahwa jumlah korban yang terkait dengan serangan selama masa gencatan senjata terus meningkat dari waktu ke waktu.
Beberapa tonggak angka korban yang disebut dalam laporan terkait PBB antara lain:
Beberapa laporan media yang mengutip otoritas kesehatan Gaza menyebut angka korban yang lebih tinggi, tetapi angka yang terkait dengan laporan PBB di atas termasuk yang paling sering dijadikan rujukan untuk periode tersebut.
Berbagai sumber menggambarkan kekerasan selama gencatan senjata sebagai sering dan berkelanjutan.
Laporan kemanusiaan menyebut serangan udara terus terjadi “hampir setiap hari” pada bulan‑bulan awal setelah perjanjian gencatan senjata.
Pelaporan terkait PBB pada tahun 2026 juga menyatakan bahwa serangan udara, penembakan artileri, dan tembakan senjata masih terjadi setiap hari di berbagai wilayah Gaza, meskipun secara teknis gencatan senjata masih berlaku.
Beberapa laporan lokal juga menggambarkan tindakan militer selama masa gencatan senjata sebagai pelanggaran yang terjadi hampir setiap hari, menunjukkan bahwa konflik tidak benar‑benar berhenti tetapi berubah menjadi kekerasan berintensitas lebih rendah.
Pejabat dan pakar Perserikatan Bangsa‑Bangsa berulang kali memperingatkan bahwa serangan yang terus berlangsung mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh.
Beberapa tuntutan utama yang disampaikan meliputi:
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa operasi bantuan masih terhambat oleh pembatasan visa, persetujuan impor, terbatasnya titik penyeberangan, serta pembatasan pergerakan tim bantuan.
Dalam pengarahan kepada Dewan Keamanan, pejabat PBB juga menggambarkan situasi gencatan senjata sebagai “rapuh”, dan memperingatkan bahwa serangan yang terus berlangsung dapat merusak upaya diplomatik untuk menstabilkan Gaza.
Secara keseluruhan, pernyataan PBB, laporan kemanusiaan, dan kesaksian lokal menunjukkan bahwa gencatan senjata Oktober 2025 memang menurunkan skala konflik tetapi tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan.
Serangan yang dilaporkan di wilayah seperti kamp pengungsi Nuseirat dan Bureij menjadi contoh bagaimana kekerasan tetap terjadi selama periode gencatan senjata. Pada saat yang sama, jumlah korban terus meningkat dan Perserikatan Bangsa‑Bangsa berulang kali menyerukan agar semua pihak mematuhi perjanjian gencatan senjata serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat mencapai warga sipil Gaza tanpa pembatasan.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Meski gencatan senjata Gaza dimulai 10 Oktober 2025, laporan PBB dan lembaga kemanusiaan menyebut serangan udara, artileri, dan tembakan tetap terjadi hampir setiap hari.
Meski gencatan senjata Gaza dimulai 10 Oktober 2025, laporan PBB dan lembaga kemanusiaan menyebut serangan udara, artileri, dan tembakan tetap terjadi hampir setiap hari. Setidaknya 393 pelanggaran gencatan senjata dilaporkan hingga akhir November 2025, dengan 339 warga Palestina tewas dan lebih dari 870 orang terluka.
Pejabat PBB berulang kali memperingatkan bahwa kekerasan yang terus berlanjut mengancam gencatan senjata yang rapuh dan mendesak akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.