Perak tidak menghasilkan bunga. Karena itu, daya tarik relatifnya biasanya meningkat ketika investor memperkirakan suku bunga lebih rendah, imbal hasil riil yang melemah, atau dolar AS yang turun.
Data inflasi Amerika Serikat yang lebih lunak mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mengambil sikap yang jauh lebih agresif. Pasar kemudian berfokus pada data ketenagakerjaan AS dan arahan kebijakan The Fed berikutnya.
Namun, dukungan ini masih bersyarat. Sinyal The Fed yang kembali hawkish, kenaikan imbal hasil riil, atau penguatan dolar dapat segera menekan harga perak. Logikanya, perak dihargai dalam dolar AS dan harus bersaing dengan aset yang memberikan imbal hasil. J.P. Morgan juga menilai arah suku bunga sebagai salah satu penentu penting jalur harga perak.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan risiko gangguan di sekitar Selat Hormuz menambah ketidakpastian pada pasar energi. Kondisi ini turut mendukung premi geopolitik pada logam mulia.
Dampaknya terhadap perak bersifat dua arah. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset perlindungan. Namun, jika gangguan tersebut mendorong harga energi dan ekspektasi inflasi, The Fed bisa terdorong mempertahankan kebijakan yang lebih ketat—yang pada akhirnya menjadi hambatan bagi perak.
Perak juga tidak sepenuhnya berfungsi sebagai aset defensif seperti emas karena sebagian besar permintaannya berasal dari sektor industri. Jika risiko geopolitik mulai mengganggu aktivitas ekonomi, perak belum tentu mendapat manfaat yang konsisten seperti emas.
Reli Januari sempat membawa harga perak menembus US$100 sebelum mengalami koreksi tajam. Setelah harga mulai stabil, muncul ruang bagi aksi beli saat harga melemah, minat spekulatif baru, serta penilaian ulang terhadap fundamental pasokan dan permintaan jangka panjang.
Posisi di pasar berjangka juga menjadi lebih mendukung. Eksposur net-long perak naik 32% pada pekan hingga 4 Agustus, meskipun total posisi masih relatif rendah, sekitar 11.000 kontrak. Ini menunjukkan adanya pembelian baru dalam reli Agustus, tetapi belum mencerminkan penumpukan posisi yang ekstrem.
Prospek 2026 dari Silver Institute memperkirakan pasar perak mengalami defisit tahunan keenam berturut-turut sebesar 67 juta ons, meskipun total pasokan diproyeksikan meningkat 1,5%. Untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, pasar kemungkinan masih harus mengandalkan persediaan perak yang sudah berada di atas permukaan tanah.
Defisit yang berlangsung lama merupakan sinyal positif bagi prospek jangka panjang. Artinya, produksi tambang, daur ulang, dan sumber pasokan lain diperkirakan belum mampu memenuhi seluruh permintaan.
Namun, defisit bukan berarti harga pasti naik pada bulan berikutnya. Perak tetap dapat turun ketika arus investasi melemah, aktivitas industri melambat, atau dolar AS menguat.
Komposisi permintaan menjadi sangat penting pada 2026. Investasi fisik diperkirakan naik 20% menjadi 227 juta ons, sehingga membantu mengimbangi pelemahan di sejumlah sektor lain. Di sisi pasokan, produksi tambang terkonsentrasi di negara-negara besar seperti Meksiko, Peru, dan China. Konsentrasi ini membuat pasar rentan terhadap gangguan di sejumlah kecil negara produsen.
Pusat data AI, semikonduktor, elektrifikasi, infrastruktur listrik, dan teknologi otomotif membentuk narasi permintaan perak jangka panjang yang masuk akal. Berbagai aplikasi tersebut dapat menopang penggunaan industri seiring kapasitas pemrosesan data dan infrastruktur kelistrikan terus berkembang.
Meski demikian, data jangka pendek membutuhkan pembacaan yang lebih hati-hati. Prospek 2026 memperkirakan total fabrikasi industri justru turun 2% menjadi sekitar 650 juta ons, level terendah dalam empat tahun. Pengurangan intensitas penggunaan perak dan substitusi dalam manufaktur panel fotovoltaik menjadi alasan penting di balik proyeksi tersebut. Dampaknya mengimbangi sebagian pertumbuhan dari pusat data, teknologi terkait AI, dan kendaraan.
Dengan demikian, AI saat ini lebih tepat disebut sebagai tema bullish struktural, bukan bukti terverifikasi bahwa total permintaan industri sedang meningkat pada 2026. Dukungan langsung terhadap harga kemungkinan lebih banyak berasal dari permintaan investasi dan kondisi makroekonomi daripada konsumsi AI semata.
Pada 17 Agustus, spot XAG/USD menguji sekitar US$66,40 per ounce, area resistance teknikal penting. Sebelumnya pada Agustus, perak spot bergerak di kisaran pertengahan US$60 dan menghadapi resistance sekitar US$66,60–US$67.
Di India, kontrak perak MCX diperdagangkan di sekitar ₹154.200 per kilogram pada 5 Agustus, dengan support sesi tersebut di ₹152.500 dan resistance di ₹157.500. Harga lokal dapat berbeda dari harga spot internasional karena dipengaruhi pergerakan mata uang, pajak, premi lokal, dan spesifikasi kontrak.
Bukti yang tersedia menunjukkan minat investasi yang tetap kuat dan pasar global yang relatif ketat. Namun, data tersebut belum cukup untuk menetapkan tren harga spot terkini yang spesifik untuk China atau Eropa. Premi regional dan ketersediaan perak fisik dapat bergerak berbeda dari kuotasi utama XAG/USD.
Proyeksi yang beredar sangat beragam, dan tanggal serta metodologinya tidak selalu sama. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sebagai skenario dengan tingkat keyakinan yang berbeda, bukan sebagai target yang setara.
Perbedaan yang lebar di antara proyeksi tersebut justru menjadi sinyal bahwa ketidakpastian pasar sedang tinggi. Agar harga mencapai US$100 atau lebih, pasar kemungkinan membutuhkan lebih dari sekadar defisit pasokan dasar: arus investasi fisik dan finansial yang lebih kuat, lingkungan dolar yang terus melemah dan imbal hasil yang lebih rendah, atau guncangan pasokan maupun geopolitik baru.
Pemulihan Agustus kini mendekati beberapa zona support dan resistance penting:
Level teknikal bukan jaminan hasil. Karena volatilitas perak cukup tinggi, pergerakan intraday yang menembus support atau resistance kurang bermakna dibandingkan penutupan yang bertahan dan diikuti momentum lanjutan.
Langkah berikutnya akan bergantung pada apakah beberapa faktor utama bergerak searah:
Bisa, tetapi bukti yang tersedia saat ini lebih mendukung pandangan bahwa US$100—terlebih lagi harga tiga digit—merupakan skenario bullish ekstrem, bukan skenario utama. Konfirmasi teknikal yang paling jelas adalah penembusan berkelanjutan di atas US$72, diikuti arus investasi yang lebih kuat serta latar belakang The Fed dan dolar AS yang mendukung.
Untuk saat ini, pemulihan perak memiliki fondasi yang cukup kredibel: defisit pasokan tahunan keenam yang diproyeksikan, kenaikan investasi fisik, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih lunak.
Namun, pasar masih harus membuktikan kemampuannya menembus resistance ketika permintaan industri 2026 justru diperkirakan menyusut. Kesimpulan yang paling masuk akal saat ini adalah bahwa perak sedang memulihkan diri di tengah pasar yang sangat volatil—belum memasuki reli yang terkonfirmasi menuju US$100.
Perak tidak menghasilkan bunga. Karena itu, daya tarik relatifnya biasanya meningkat ketika investor memperkirakan suku bunga lebih rendah, imbal hasil riil yang melemah, atau dolar AS yang turun.
Data inflasi Amerika Serikat yang lebih lunak mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mengambil sikap yang jauh lebih agresif. Pasar kemudian berfokus pada data ketenagakerjaan AS dan arahan kebijakan The Fed berikutnya.
Namun, dukungan ini masih bersyarat. Sinyal The Fed yang kembali hawkish, kenaikan imbal hasil riil, atau penguatan dolar dapat segera menekan harga perak. Logikanya, perak dihargai dalam dolar AS dan harus bersaing dengan aset yang memberikan imbal hasil. J.P. Morgan juga menilai arah suku bunga sebagai salah satu penentu penting jalur harga perak.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan risiko gangguan di sekitar Selat Hormuz menambah ketidakpastian pada pasar energi. Kondisi ini turut mendukung premi geopolitik pada logam mulia.
Dampaknya terhadap perak bersifat dua arah. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset perlindungan. Namun, jika gangguan tersebut mendorong harga energi dan ekspektasi inflasi, The Fed bisa terdorong mempertahankan kebijakan yang lebih ketat—yang pada akhirnya menjadi hambatan bagi perak.
Perak juga tidak sepenuhnya berfungsi sebagai aset defensif seperti emas karena sebagian besar permintaannya berasal dari sektor industri. Jika risiko geopolitik mulai mengganggu aktivitas ekonomi, perak belum tentu mendapat manfaat yang konsisten seperti emas.
Reli Januari sempat membawa harga perak menembus US$100 sebelum mengalami koreksi tajam. Setelah harga mulai stabil, muncul ruang bagi aksi beli saat harga melemah, minat spekulatif baru, serta penilaian ulang terhadap fundamental pasokan dan permintaan jangka panjang.
Posisi di pasar berjangka juga menjadi lebih mendukung. Eksposur net-long perak naik 32% pada pekan hingga 4 Agustus, meskipun total posisi masih relatif rendah, sekitar 11.000 kontrak. Ini menunjukkan adanya pembelian baru dalam reli Agustus, tetapi belum mencerminkan penumpukan posisi yang ekstrem.
Prospek 2026 dari Silver Institute memperkirakan pasar perak mengalami defisit tahunan keenam berturut-turut sebesar 67 juta ons, meskipun total pasokan diproyeksikan meningkat 1,5%. Untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, pasar kemungkinan masih harus mengandalkan persediaan perak yang sudah berada di atas permukaan tanah.
Defisit yang berlangsung lama merupakan sinyal positif bagi prospek jangka panjang. Artinya, produksi tambang, daur ulang, dan sumber pasokan lain diperkirakan belum mampu memenuhi seluruh permintaan.
Namun, defisit bukan berarti harga pasti naik pada bulan berikutnya. Perak tetap dapat turun ketika arus investasi melemah, aktivitas industri melambat, atau dolar AS menguat.
Komposisi permintaan menjadi sangat penting pada 2026. Investasi fisik diperkirakan naik 20% menjadi 227 juta ons, sehingga membantu mengimbangi pelemahan di sejumlah sektor lain. Di sisi pasokan, produksi tambang terkonsentrasi di negara-negara besar seperti Meksiko, Peru, dan China. Konsentrasi ini membuat pasar rentan terhadap gangguan di sejumlah kecil negara produsen.
Pusat data AI, semikonduktor, elektrifikasi, infrastruktur listrik, dan teknologi otomotif membentuk narasi permintaan perak jangka panjang yang masuk akal. Berbagai aplikasi tersebut dapat menopang penggunaan industri seiring kapasitas pemrosesan data dan infrastruktur kelistrikan terus berkembang.
Meski demikian, data jangka pendek membutuhkan pembacaan yang lebih hati-hati. Prospek 2026 memperkirakan total fabrikasi industri justru turun 2% menjadi sekitar 650 juta ons, level terendah dalam empat tahun. Pengurangan intensitas penggunaan perak dan substitusi dalam manufaktur panel fotovoltaik menjadi alasan penting di balik proyeksi tersebut. Dampaknya mengimbangi sebagian pertumbuhan dari pusat data, teknologi terkait AI, dan kendaraan.
Dengan demikian, AI saat ini lebih tepat disebut sebagai tema bullish struktural, bukan bukti terverifikasi bahwa total permintaan industri sedang meningkat pada 2026. Dukungan langsung terhadap harga kemungkinan lebih banyak berasal dari permintaan investasi dan kondisi makroekonomi daripada konsumsi AI semata.
Pada 17 Agustus, spot XAG/USD menguji sekitar US$66,40 per ounce, area resistance teknikal penting. Sebelumnya pada Agustus, perak spot bergerak di kisaran pertengahan US$60 dan menghadapi resistance sekitar US$66,60–US$67.
Di India, kontrak perak MCX diperdagangkan di sekitar ₹154.200 per kilogram pada 5 Agustus, dengan support sesi tersebut di ₹152.500 dan resistance di ₹157.500. Harga lokal dapat berbeda dari harga spot internasional karena dipengaruhi pergerakan mata uang, pajak, premi lokal, dan spesifikasi kontrak.
Bukti yang tersedia menunjukkan minat investasi yang tetap kuat dan pasar global yang relatif ketat. Namun, data tersebut belum cukup untuk menetapkan tren harga spot terkini yang spesifik untuk China atau Eropa. Premi regional dan ketersediaan perak fisik dapat bergerak berbeda dari kuotasi utama XAG/USD.
Proyeksi yang beredar sangat beragam, dan tanggal serta metodologinya tidak selalu sama. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sebagai skenario dengan tingkat keyakinan yang berbeda, bukan sebagai target yang setara.
Perbedaan yang lebar di antara proyeksi tersebut justru menjadi sinyal bahwa ketidakpastian pasar sedang tinggi. Agar harga mencapai US$100 atau lebih, pasar kemungkinan membutuhkan lebih dari sekadar defisit pasokan dasar: arus investasi fisik dan finansial yang lebih kuat, lingkungan dolar yang terus melemah dan imbal hasil yang lebih rendah, atau guncangan pasokan maupun geopolitik baru.
Pemulihan Agustus kini mendekati beberapa zona support dan resistance penting:
Level teknikal bukan jaminan hasil. Karena volatilitas perak cukup tinggi, pergerakan intraday yang menembus support atau resistance kurang bermakna dibandingkan penutupan yang bertahan dan diikuti momentum lanjutan.
Langkah berikutnya akan bergantung pada apakah beberapa faktor utama bergerak searah:
Bisa, tetapi bukti yang tersedia saat ini lebih mendukung pandangan bahwa US$100—terlebih lagi harga tiga digit—merupakan skenario bullish ekstrem, bukan skenario utama. Konfirmasi teknikal yang paling jelas adalah penembusan berkelanjutan di atas US$72, diikuti arus investasi yang lebih kuat serta latar belakang The Fed dan dolar AS yang mendukung.
Untuk saat ini, pemulihan perak memiliki fondasi yang cukup kredibel: defisit pasokan tahunan keenam yang diproyeksikan, kenaikan investasi fisik, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih lunak.
Namun, pasar masih harus membuktikan kemampuannya menembus resistance ketika permintaan industri 2026 justru diperkirakan menyusut. Kesimpulan yang paling masuk akal saat ini adalah bahwa perak sedang memulihkan diri di tengah pasar yang sangat volatil—belum memasuki reli yang terkonfirmasi menuju US$100.