Narasi keunggulan Solana biasanya dimulai dari transaksi yang cepat dan murah. Dua karakteristik ini penting untuk trading karena pengguna dapat melakukan banyak transaksi, sementara market maker perlu terus memperbarui kuotasi dan menyeimbangkan inventaris.
Tetapi kecepatan saja tidak otomatis menghasilkan volume besar. Blockchain yang cepat dengan likuiditas tipis tetap dapat memberikan harga eksekusi yang buruk. Keunggulan Solana terletak pada gabungan antara performa jaringan dan ekosistem venue yang sudah terbentuk. Galaxy mencatat Solana memimpin volume DEX, biaya aplikasi, dan biaya jaringan, meski aktivitas absolutnya melemah.
Bagi trader, dampaknya terasa dalam praktik: likuiditas dapat digunakan kembali untuk berbagai jenis transaksi, alih-alih harus dibangun dari nol setiap kali muncul tren aset baru.
Perdagangan memecoin masih menjadi sumber penting aktivitas Solana. Namun, Galaxy memperkirakan porsinya kini sekitar 20–30% dari volume DEX Solana, turun dari sekitar 60% pada Januari. Pada saat yang sama, perdagangan SOL dengan stablecoin dan berbagai swap lain mengambil porsi yang lebih besar.
Perubahan komposisi ini tidak berarti Solana sudah terbebas dari siklus spekulasi. Ketika selera risiko turun, volume total tetap bisa merosot tajam. Galaxy melaporkan volume DEX Solana turun 45% secara kuartalan pada kuartal II 2026, meski jaringan tersebut tetap mempertahankan posisi teratas.
Kesimpulan yang lebih hati-hati adalah bahwa memecoin berfungsi sebagai kanal akuisisi pengguna dan likuiditas yang penting. Akan tetapi, basis trading Solana saat ini lebih luas daripada aktivitas memecoin semata. Hal itu membuat kepemimpinannya lebih meyakinkan dibandingkan jika seluruh peringkat hanya didorong oleh satu peluncuran token—meski Solana tetap sensitif terhadap perubahan permintaan spekulatif.
Ketika trader berkumpul di satu jaringan, penyedia likuiditas memiliki alasan untuk mengikuti mereka. Market maker dapat memasang kuotasi di tempat arus order paling dalam, sedangkan agregator dapat mengarahkan transaksi ke venue dengan eksekusi terbaik.
Pengguna pun cenderung mengikuti rute tersebut, bukan berpindah ke jaringan yang memiliki lebih sedikit aset atau likuiditas yang lebih lemah. Terbentuklah semacam ketergantungan jalur (path dependence): Solana tidak harus menjadi yang terbaik di setiap kategori produk jika ekosistemnya secara keseluruhan tetap menjadi tempat termudah untuk menemukan arus trading.
Data kuartal I menggambarkan daya tahan relatif ini. Volume Solana turun 31% dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi pangsa pasarnya justru naik tipis menjadi 31%. Solana juga tetap menjadi blockchain terdepan berdasarkan volume DEX untuk kuartal kelima berturut-turut.
Meski demikian, angka volume perlu dibaca dengan cermat. Total DEX dapat mencakup arbitrase, aktivitas bot, farming insentif, dan arus transaksi lain yang belum tentu mencerminkan pengguna jangka panjang. Ukuran yang lebih kuat untuk menilai keberlanjutan adalah aktivitas organik berulang, kedalaman likuiditas, slippage, pendapatan biaya, dan retensi pengguna.
Bukti bahwa basis trading Solana mulai melampaui spekulasi kripto murni terlihat dari pertumbuhan aset dunia nyata atau real-world assets (RWA) yang ditokenisasi. Nilai pasokan RWA di Solana menembus US$3 miliar pada Juni 2026. Dalam pembaruan akhir Juli, Solana menyebut nilai RWA non-stablecoin mencapai US$3,7 miliar yang tersebar di antara 313.000 pemegang.
Perdagangan aset tertokenisasi di Solana mencapai sekitar US$5,8 miliar pada kuartal II 2026, naik 114% dari kuartal sebelumnya. Saham tertokenisasi menyumbang sebagian besar aktivitas tersebut, sekitar US$4,8 miliar. Sejumlah estimasi menempatkan pangsa Solana di pasar global volume DEX saham tertokenisasi pada kisaran 95–97%.
Angka tersebut belum membuktikan bahwa aset tertokenisasi akan menggantikan trading spekulatif secara permanen. Namun, data itu menunjukkan Solana telah menjadi venue penting untuk kategori aktivitas on-chain yang berbeda. Kategori ini dapat membawa aset baru, permintaan stablecoin, market maker, dan pemegang aset ke dalam lingkungan likuiditas yang sama.
Ada batasan penting. Pada akhir Juli, Robinhood Chain dilaporkan telah melampaui Solana dalam volume harian saham tertokenisasi. Ini menunjukkan dominasi Solana tidak berlaku tanpa pengecualian di setiap kelas aset. Keunggulan Solana yang lebih luas berada pada total ekosistem trading, bukan kepemimpinan mutlak di setiap ceruk pasar.
Sejumlah perbandingan mingguan menempatkan volume spot DEX Solana di bawah Binance, tetapi di atas Bybit, Coinbase, dan Kraken. Satu laporan menyebut posisi tersebut bertahan selama empat pekan berturut-turut, sementara laporan berikutnya memperpanjangnya menjadi delapan pekan.
Perbandingan ini menarik karena mengukur aktivitas gabungan DEX di sebuah blockchain berdampingan dengan volume bursa terpusat individual. Namun, metriknya belum tentu identik. Cakupan venue, definisi pasar spot, jendela waktu, dan metode pembersihan data dapat berbeda.
Karena itu, hasilnya sebaiknya dipahami sebagai perbandingan volume spot yang dilaporkan pada periode tertentu—bukan bukti bahwa DEX telah menggantikan bursa terpusat secara permanen. Kesimpulan yang lebih aman: ekosistem DEX Solana telah mencapai skala yang cukup besar untuk bersaing memperebutkan perhatian dengan venue trading utama.
Robinhood Chain menunjukkan betapa cepat jaringan pesaing dapat menarik perhatian. Tidak lama setelah peluncuran, jaringan tersebut dilaporkan mencapai puncak volume DEX 24 jam sebesar US$877 juta dan sempat melampaui Ethereum mainnet serta Base, sementara Solana masih berada di posisi teratas.
Namun, snapshot lain pada 8 Juli menempatkan volume DEX 24 jam Solana di atas US$440 juta, dibandingkan sekitar US$405 juta untuk Robinhood Chain. Bukti yang beragam ini lebih berguna jika dibaca sebagai perbedaan antara lonjakan aktivitas berbasis insentif dan jaringan likuiditas yang sudah matang.
Pertanyaan utamanya bukan siapa yang mencatat angka terbesar dalam satu hari, melainkan apakah pesaing mampu mempertahankan pengguna, aset, dan market maker setelah insentif peluncuran berkurang. Volume sesaat kurang penting dibandingkan likuiditas yang bertahan, pengguna berulang, dan aktivitas yang tersebar di berbagai kategori trading.
Ekosistem Layer 2 Ethereum, BNB Chain, Hyperliquid, dan Robinhood Chain dapat menantang Solana melalui latensi lebih rendah, biaya lebih murah, pengalaman dompet yang lebih baik, insentif likuiditas, atau akses modal yang lebih mudah. Pesaing tidak harus unggul dalam semua aspek; cukup menjadi sangat kompetitif di satu kategori yang memiliki distribusi pengguna kuat.
Market maker dapat berpindah ketika venue lain menawarkan ekonomi inventaris yang lebih menarik, mensubsidi volume, atau terhubung langsung ke basis pengguna yang besar. Jika likuiditas ikut berpindah, trader dapat mengikuti eksekusi yang lebih baik dan roda gila Solana mulai melemah.
Walaupun komposisi asetnya semakin beragam, memecoin masih menyumbang bagian material dari volume Solana. Penurunan spekulasi yang berkepanjangan dapat memangkas aktivitas secara signifikan. Penurunan volume DEX sebesar 45% pada kuartal II menjadi pengingat bahwa mempertahankan pangsa pasar tidak sama dengan mencatat pertumbuhan absolut.
Volume DEX yang besar tidak selalu sama dengan penggunaan ekonomi yang tahan lama. Wash trading, aktivitas bot, putaran arbitrase, dan farming insentif dapat memperbesar angka yang terlihat. Indikator yang lebih bermakna adalah pengguna organik yang bertahan, kedalaman stablecoin, slippage, pendapatan biaya, likuiditas yang tetap tersedia, serta adopsi aset tertokenisasi.
Gangguan operasional saat pasar bergejolak juga dapat merusak roda gila secara tidak proporsional. Trader dan market maker biasanya paling tidak toleran terhadap kemacetan atau eksekusi yang tidak andal ketika harga bergerak cepat.
Kepemimpinan volume DEX Solana selama 16 pekan berturut-turut konsisten dengan adanya keunggulan struktural, tetapi bukan jaminan bahwa posisi itu akan bertahan selamanya. Solana menggabungkan eksekusi murah, ekosistem venue yang padat, basis likuiditas yang saling memperkuat, serta pertumbuhan aset tertokenisasi. Kombinasi ini membantu menjelaskan mengapa Solana tetap memimpin meski volume kuartalannya turun.
Risiko terbesar bukan sekadar satu pesaing yang mencatat angka lebih tinggi dalam waktu singkat. Risiko sebenarnya muncul jika sebuah jaringan lain mampu menawarkan eksekusi yang sebanding, ditambah insentif, distribusi, atau kategori aset yang lebih menarik—dan mempertahankannya cukup lama untuk memindahkan likuiditas serta kebiasaan trading.
Dengan kata lain, rekor Solana memang bermakna. Namun, rekor itu harus terus dipertahankan melalui likuiditas berkualitas, eksekusi yang andal, dan permintaan yang tidak hanya bergantung pada siklus spekulatif berikutnya.