“Jika Amerika Serikat tidak memaksa negara kami, perusahaan kami, dan industri kami, kami tidak akan melakukan hal seperti ini. Tapi kami juga berterima kasih kepada Amerika Serikat,” ujar Xu, menanggapi pertanyaan tentang bagaimana ide arsitektur chip revolusioner mereka muncul . Pernyataan ini adalah pengakuan paling langsung bahwa restriksi AS telah mendorong Huawei untuk memikirkan ulang fundamental cara mereka merancang chip.
Inti dari gebrakan ini adalah melepaskan diri dari ketergantungan industri pada mesin litografi extreme ultraviolet (EUV) buatan perusahaan Belanda, ASML. Mesin yang krusial untuk mencetak sirkuit super kecil ini tidak boleh dijual ke China. Alih-alih terus berjuang di jalur 'Moore's Law' yang kini dijaga ketat oleh akses ke mesin EUV, Huawei mencoba mengubah total medan permainannya.
Dalam ajang IEEE International Symposium on Circuits and Systems (ISCAS) di Shanghai pada 25 Mei 2026, kepala semikonduktor Huawei, He Tingbo, memperkenalkan dua konsep kunci: Hukum Penskalaan Tau (τ) dan arsitektur LogicFolding. Mereka memaparkan peta jalan untuk mencapai kepadatan transistor yang setara dengan proses manufaktur 1,4 nanometer pada tahun 2031—teknologi yang diproyeksikan akan menjadi yang tercanggih di dunia saat itu—tanpa sekalipun menyentuh mesin EUV canggih ASML .
Selama puluhan tahun, industri chip berlomba-lomba mengejar angka nanometer yang semakin kecil—ukuran transistor—sebagai patokan kemajuan. Inilah inti dari Hukum Moore. Huawei, dengan Hukum Penskalaan Tau-nya, ingin menghapus patokan itu. Mereka mendefinisikan ulang kemajuan bukan dari seberapa kecil sebuah transistor, melainkan dari delay propagasi sinyal, yaitu waktu yang dibutuhkan data untuk berjalan melintasi sebuah chip dan sistem .
Ibaratnya, alih-alih terus-menerus membangun jalan yang lebih sempit, Huawei fokus memastikan mobil-mobil di dalamnya bisa melaju dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat. Tujuannya adalah untuk memampatkan konstanta waktu tau ini secara simultan di empat level: level perangkat (meminimalkan resistansi dan kapasitansi parasit), level sirkuit, level chip, dan level sistem secara keseluruhan . Huawei menyebut hukum ini sebagai “prinsip panduan baru untuk evolusi semikonduktor dan sistem elektronik” .
Jika Hukum Tau adalah teorinya, maka LogicFolding adalah implementasi fisiknya. Ini adalah teknik penumpukan logika 3D vertikal yang secara harfiah ‘melipat’ sirkuit logika menjadi beberapa lapisan. Logikanya sederhana: dengan menumpuk sirkuit, jalur kabel kritis menjadi lebih pendek, sehingga mengurangi beban resistif dan kapasitif yang memperlambat sinyal .
Huawei mengklaim pendekatan ini dapat memberikan:
Peta jalan yang dipublikasikan Huawei cukup agresif. Mereka membayangkan chip dua lapis pertama memasuki pasar pada tahun 2026, kemungkinan digunakan dalam prosesor Kirin baru untuk seri Mate 90. Kemudian, pada tahun 2031, sebuah chip tiga lapis diharapkan mampu mencapai kepadatan transistor yang setara dengan apa yang akan dicapai TSMC atau Samsung pada node 1,4nm. Yang paling krusial, semua ini direncanakan tanpa menggunakan litografi EUV .
Meski klaimnya bombastis, ada banyak alasan untuk skeptis. Pertama, angka peningkatan kepadatan 55% adalah klaim sepihak dari Huawei yang belum diverifikasi secara independen . Apakah hasil lab bisa diterjemahkan ke dalam produksi massal? Itu pertanyaan besar. Analisis independen dari Reuters menggambarkan pendekatan ini sebagai “jalan bagi China untuk membangun chip mutakhir meskipun ada sanksi AS,” namun juga memperingatkan bahwa apakah ini merupakan terobosan sejati “masih harus dilihat” .
Kedua, LogicFolding menghadapi tantangan praktis yang signifikan. Pembuangan panas menjadi jauh lebih sulit ketika sirkuit logika ditumpuk secara vertikal. Ekosistem perangkat lunak desain (design tool) yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan arsitektur ini dengan andal juga belum matang. Dan, yang paling penting, hasil manufaktur (yield) untuk chip logika tiga lapis belum terbukti dalam skala komersial .
Bahkan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menyebut kerja Huawei sebagai “sebuah terobosan,” menegaskan bahwa itu “bukan ancaman bagi TSMC.” Ia mencatat bahwa TSMC telah menggunakan kemasan 3D canggih selama bertahun-tahun, dan tantangan sebenarnya adalah meningkatkan produksi . Ujian sesungguhnya akan datang dengan peluncuran chip Kirin di akhir tahun 2026, yang akan menunjukkan apakah klaim peningkatan kepadatan ini bertahan ketika jutaan unit harus diproduksi .
Strategi baru Huawei ini membawa implikasi berbeda bagi para raksasa chip Korea Selatan. Bagi Samsung, yang bersaing langsung dengan TSMC di pasar foundry canggih, strategi Huawei adalah ancaman bersyarat. Jika LogicFolding berhasil, ia dapat mempersempit keunggulan manufaktur yang saat ini dinikmati pabrik Samsung yang dilengkapi mesin EUV. Huawei berpotensi memproduksi chip logika kelas AI dan server yang kompetitif melalui pabrik domestik atau foundry yang dapat diakses China, sehingga mengurangi premi atas akses EUV dan menekan harga di bisnis foundry .
Sementara itu, ancaman bagi SK Hynix lebih bersifat tidak langsung. LogicFolding adalah arsitektur untuk chip logika; ia tidak secara langsung ditujukan untuk produksi DRAM atau High-Bandwidth Memory (HBM) yang menjadi bisnis inti SK Hynix. Namun, jika Huawei berhasil membangun ekosistem chip AI yang kompetitif, perusahaan-perusahaan China dapat mengurangi ketergantungan pada pemasok chip non-China. Ini pada akhirnya dapat melunakkan permintaan untuk produk memori canggih yang dijual SK Hynix ke dalam sistem-sistem tersebut .
Pengungkapan Hukum Tau dan LogicFolding menyingkap strategi China yang telah berevolusi jauh melampaui sekadar upaya mengejar ketertinggalan di node proses konvensional. China kini mencoba mendefinisikan ulang apa arti dari ‘mengecilkan’ chip. Alih-alih bertarung di medan pertempuran EUV yang aturannya ditentukan oleh ASML, TSMC, dan Samsung, Huawei mencoba mengubah medan perangnya itu sendiri. Kemajuan tak lagi diukur dalam nanometer, melainkan dalam waktu .
Lompatan arsitektur ini adalah bagian dari dorongan kemandirian yang lebih luas, yang mencakup optimalisasi di level perangkat, sirkuit, chip, dan sistem, bukan hanya litografi . Ini juga merupakan sinyal bahwa rezim kontrol ekspor Washington, meskipun membebani biaya yang nyata, tidak menghentikan kemajuan chip China. Sebaliknya, ia telah menyalurkan sumber daya yang sangat besar ke jalur-jalur alternatif. Tindakan mengkreditkan sanksi AS secara publik sebagai katalis untuk LogicFolding adalah upaya untuk mengklaim bahwa tekanan itu menjadi bumerang .
Pengungkapan ini di konferensi IEEE di Shanghai mengirim pesan yang disengaja bahwa Huawei berniat untuk tetap menjadi bagian dari percakapan semikonduktor terdepan, dengan atau tanpa alat yang direstriksi . Bagi para pembuat kebijakan di Washington dan para pesaing di Seoul serta Hsinchu, pertanyaan mendesaknya bukan lagi apakah China akan menemukan jalan keluar dari sanksi, tetapi seberapa cepat jalan keluar itu bisa menjadi kompetitif.