Startup AI seperti Moonshot AI dan StepFun termasuk perusahaan yang disebut terkena kebijakan tersebut. Laporan lain juga menyebut pemilik TikTok, ByteDance, menghadapi pembatasan terkait penjualan saham sekunder kepada investor Amerika.
Reuters kemudian memperbaiki salah satu laporannya dengan menyatakan bahwa regulator sebenarnya "memutuskan adanya pembatasan" terhadap ByteDance, bukan secara langsung memerintahkan perusahaan tersebut, yang menunjukkan bagaimana kebijakan semacam ini bisa diterapkan secara tidak langsung melalui regulasi.
Dengan kata lain, laporan sebelumnya tidak selalu berarti larangan total, tetapi lebih menunjukkan peningkatan pengawasan terhadap modal asing di perusahaan teknologi strategis.
Sikap China ini sejalan dengan sistem regulasi investasi asing yang sudah berlaku dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan aturan yang diperkenalkan melalui Foreign Investment Law dan langkah-langkah terkait, investasi asing yang berpotensi memengaruhi keamanan nasional dapat dikenai tinjauan keamanan formal oleh otoritas seperti NDRC dan Kementerian Perdagangan (MOFCOM).
Aturan ini memberi pemerintah kewenangan untuk menilai investasi di sektor yang dianggap strategis—misalnya teknologi canggih, infrastruktur penting, atau data sensitif.
Kerangka tersebut memungkinkan China tetap menyatakan diri terbuka terhadap investasi global sambil mempertahankan mekanisme untuk memblokir atau membatasi transaksi tertentu.
Isu ini muncul di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China di bidang teknologi maju seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum.
Washington sendiri telah menerapkan berbagai kebijakan yang membatasi ekspor teknologi dan investasi tertentu ke perusahaan China dengan alasan keamanan nasional. Sebagai respons, Beijing juga memperketat pengawasan terhadap investasi asing di sektor teknologi sensitif.
Dalam konteks tersebut, klarifikasi dari NDRC tampaknya bertujuan untuk menenangkan pasar dan investor global—menegaskan bahwa China masih terbuka terhadap investasi asing, tetapi tetap memiliki ruang untuk menyaring transaksi yang berkaitan dengan teknologi strategis.
Secara praktis, posisi China dapat diringkas menjadi tiga poin utama:
Bagi investor internasional dan perusahaan teknologi, artinya pendanaan lintas negara masih mungkin terjadi—tetapi prosesnya kemungkinan akan menghadapi pengawasan yang lebih ketat jika melibatkan teknologi sensitif atau perusahaan yang dianggap strategis.
Comments
0 comments