Cathay Pacific menghentikan penerbangan penumpang dan kargo Hong Kong–Dubai serta Hong Kong–Riyadh sejak 28 Februari 2026 dan memperpanjang penangguhan hingga 31 Agustus 2026 karena situasi keamanan Timur Tengah. Harga bahan bakar jet melonjak tajam—sekitar US$197,83 per barel pada April 2026 dari US$99,40 pada akhi...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How has Cathay Pacific responded to ongoing Middle East tensions and rising jet fuel prices in 2026, including its decision to suspend Hong. Article summary: Cathay Pacific’s response has been to keep its Dubai and Riyadh routes suspended through 31 August 2026, redeploy aircraft to stronger long-haul markets, and trim some flights temporarily because fuel costs remain elevat. Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# Cathay Pacific to cut flights throughout May and June 2026 due to rising jet fuel prices. Between 16 May 2026 and 30 June 2026, Hong Kong-based airline Cathay Pacific will be cut" source context "Cathay Pacific to cut flights throughout May and June 2026 due to rising jet fuel prices - Travel Tomorrow" Reference image 2: visual
Cathay Pacific menyesuaikan strategi operasionalnya sepanjang 2026 setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga bahan bakar jet memengaruhi industri penerbangan global. Maskapai berbasis Hong Kong ini memilih menangguhkan beberapa rute Teluk, memindahkan kapasitas pesawat ke pasar lain yang lebih kuat, serta mengendalikan biaya operasi.
Meski menghadapi tekanan tersebut, data lalu lintas terbaru menunjukkan permintaan perjalanan internasional tetap kuat.
Cathay Pacific menghentikan penerbangan penumpang dan kargo antara Hong Kong dan dua kota utama di kawasan Teluk—Dubai (Uni Emirat Arab) dan Riyadh (Arab Saudi)—setelah ketegangan regional meningkat pada awal 2026. Penerbangan pertama kali dibatalkan mulai 28 Februari 2026 karena situasi Timur Tengah yang dinilai "volatile" atau tidak stabil.
Penangguhan tersebut kemudian beberapa kali diperpanjang agar penumpang dan pelanggan kargo memiliki kepastian dalam merencanakan perjalanan.
Kronologinya sebagai berikut:
Kebijakan ini memengaruhi penerbangan harian penumpang Cathay Pacific serta layanan pesawat kargo Cathay Cargo menuju kedua kota tersebut. Maskapai menyatakan langkah ini diambil untuk memberikan kepastian bagi pelanggan di tengah kondisi keamanan dan ruang udara regional yang tidak menentu.
Alih-alih membiarkan armada menganggur, Cathay Pacific mengalihkan kapasitas pesawat ke pasar lain yang menunjukkan permintaan kuat.
Beberapa penerbangan tambahan diarahkan ke rute Eropa seperti London dan Zurich, yang mengalami lonjakan permintaan ketika sebagian penumpang menghindari jalur transit Timur Tengah.
Laporan industri juga mencatat penyesuaian kapasitas ke destinasi lain seperti Manchester dan Roma, sebagai bagian dari strategi memanfaatkan permintaan perjalanan jarak jauh yang meningkat.
Pendekatan ini memungkinkan Cathay mempertahankan tingkat pemanfaatan pesawat dan pendapatan jaringan meskipun kehilangan rute Teluk untuk sementara waktu.
Selain gangguan geopolitik, maskapai juga menghadapi lonjakan tajam harga bahan bakar jet—komponen biaya terbesar dalam operasi penerbangan.
Data industri yang dikutip Cathay menunjukkan harga rata-rata bahan bakar jet global naik menjadi sekitar US$197,83 per barel pada awal April 2026, hampir dua kali lipat dibanding US$99,40 per barel pada akhir Februari.
Eksekutif Cathay menggambarkan lonjakan tersebut sebagai sumber "tekanan biaya yang sangat besar" bagi maskapai di seluruh dunia.
Kondisi ini membuat maskapai harus menyesuaikan jadwal, kapasitas, dan strategi jaringan untuk menjaga profitabilitas.
Meski menghadapi tantangan geopolitik dan biaya bahan bakar yang tinggi, Cathay Pacific masih mencatat pertumbuhan permintaan perjalanan.
Pada April 2026, maskapai melaporkan:
Dalam empat bulan pertama 2026, jumlah penumpang juga meningkat signifikan dibanding periode yang sama pada 2025, menandakan pemulihan perjalanan internasional masih berlanjut.
Cathay menyebut permintaan perjalanan liburan dan musim libur sebagai pendorong utama tingkat keterisian kursi yang tinggi, sementara bisnis kargo juga tetap stabil.
Sebelum gangguan di Timur Tengah, Cathay Pacific menargetkan sekitar 10% pertumbuhan kapasitas sebagai bagian dari pemulihan jaringan setelah pandemi.
Penangguhan rute Teluk dan lonjakan harga bahan bakar membuat target tersebut lebih menantang. Namun maskapai tidak memilih untuk memangkas jaringan secara besar-besaran.
Sebaliknya, Cathay fokus pada pengalihan kapasitas dan penyesuaian jadwal, sehingga pertumbuhan masih dapat dipertahankan di rute dengan permintaan kuat.
Menjelang musim perjalanan musim panas—periode puncak bagi industri penerbangan—Cathay memperkirakan permintaan tetap tinggi di banyak rute internasional.
Namun prospek tersebut masih sangat bergantung pada faktor eksternal seperti stabilitas geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga bahan bakar.
Untuk saat ini, strategi Cathay mencerminkan pendekatan yang semakin umum di industri penerbangan: menunda rute yang terdampak risiko geopolitik, mengalihkan pesawat ke pasar yang lebih kuat, dan mempertahankan fleksibilitas jaringan ketika pola perjalanan global berubah.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Cathay Pacific menghentikan penerbangan penumpang dan kargo Hong Kong–Dubai serta Hong Kong–Riyadh sejak 28 Februari 2026 dan memperpanjang penangguhan hingga 31 Agustus 2026 karena situasi keamanan Timur Tengah.
Cathay Pacific menghentikan penerbangan penumpang dan kargo Hong Kong–Dubai serta Hong Kong–Riyadh sejak 28 Februari 2026 dan memperpanjang penangguhan hingga 31 Agustus 2026 karena situasi keamanan Timur Tengah. Harga bahan bakar jet melonjak tajam—sekitar US$197,83 per barel pada April 2026 dari US$99,40 pada akhir Februari—menambah tekanan biaya bagi maskapai global.
Meski rute Teluk dihentikan, Cathay mengalihkan pesawat ke rute dengan permintaan tinggi seperti London dan Zurich serta mencatat kenaikan penumpang 17% secara tahunan pada April 2026.