Sebaliknya, jika stok uranium dipindahkan ke negara lain atau dikeluarkan dari kendali langsung Iran, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat senjata—yang sering disebut sebagai breakout time—akan menjadi jauh lebih lama. Hal ini dipandang sebagai langkah membangun kepercayaan bagi AS dan sekutunya.
Keputusan Iran untuk mempertahankan uranium di dalam negeri memberi Teheran dua keuntungan: mempertahankan kapasitas teknis yang sudah dimiliki serta menjaga posisi tawar dalam negosiasi.
Karena berkaitan langsung dengan estimasi waktu produksi bahan senjata nuklir, persoalan stok uranium termasuk isu paling sensitif dalam perundingan.
Jika Iran menolak memindahkan stok tersebut, para perunding Amerika menghadapi dua pilihan sulit:
Banyak analis menilai penghapusan stok secara fisik merupakan langkah non‑proliferasi paling kuat karena benar‑benar menghilangkan material paling berbahaya dari wilayah negara tersebut. Tanpa langkah itu, kesepakatan akan lebih bergantung pada inspeksi dan komitmen politik.
Perkembangan diplomatik antara AS dan Iran juga sangat memengaruhi pasar energi global.
Ketika investor yakin kesepakatan mungkin tercapai, harga minyak cenderung turun karena pasar memperkirakan pasokan dari Timur Tengah bisa kembali mengalir lebih stabil. Dalam salah satu episode optimisme negosiasi, harga minyak bahkan turun tajam karena ekspektasi pasokan meningkat.
Namun ketika pembicaraan terlihat buntu, arah pasar langsung berbalik.
Sebagai contoh, harga minyak sempat melonjak sekitar $4 per barel setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran, memicu kekhawatiran bahwa konflik dan sanksi akan terus membatasi pasokan global.
Laporan terbaru tentang keputusan Iran mempertahankan uranium juga memicu reaksi serupa. Setelah berita tersebut muncul, minyak WTI naik sekitar 2,28% dan Brent sekitar 2,21%, mencerminkan kekhawatiran baru terhadap hasil negosiasi.
Sementara harga minyak naik, pasar saham justru menunjukkan reaksi sebaliknya.
Setelah laporan mengenai kebijakan uranium Iran muncul, futures indeks saham AS turun, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa proses diplomasi mungkin mengalami kebuntuan.
Dalam situasi geopolitik yang menegang, investor biasanya mengurangi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi membuat harga minyak cenderung naik.
Perselisihan mengenai uranium menunjukkan bagaimana isu teknis dalam program nuklir bisa menjadi faktor penentu dalam diplomasi internasional.
Bagi Amerika Serikat, memindahkan stok uranium keluar Iran dianggap sebagai cara paling jelas untuk mengurangi risiko proliferasi nuklir dan meyakinkan sekutu regional. Bagi Iran, mempertahankannya di dalam negeri berarti menjaga kedaulatan, kemampuan teknologi, dan daya tawar strategis.
Selama kedua posisi tersebut belum menemukan titik temu—atau belum muncul solusi kompromi—isu uranium kemungkinan akan tetap menjadi hambatan terbesar menuju kesepakatan. Dan selama ketidakpastian itu berlanjut, pasar global hampir pasti akan terus bereaksi terhadap setiap perkembangan baru dari meja perundingan.