Enam dari 10 responden dalam survei Juni 2026 terhadap 506 pemilik dan calon pemilik rumah di Singapura mengatakan mereka menjadi pihak utama yang mengelola rumah tangga. Prioritas terbesar responden adalah menghemat biaya utilitas (46%), menghemat waktu (33%), dan memperoleh ketenangan pikiran (29%).
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How does the invisible mental load of running a household affect Singaporean homeowners—particularly women and those in multi-generational f. Article summary: Singaporean homeowners’ “invisible mental load” is the continual work of anticipating, planning, remembering and worrying about the home—not merely doing chores. In the June 2026 Samsung Electronics Singapore–SPH Media s. Topic tags: general, government, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake n
Mengurus rumah bukan hanya soal memasak, mencuci, atau membersihkan ruangan. Ada pula pekerjaan yang tidak terlihat: memperkirakan apa yang harus dilakukan berikutnya, mengingat tugas yang belum selesai, mengecek perangkat, memantau tagihan, dan mengkhawatirkan anggota keluarga saat tidak ada orang lain yang bisa membantu.
Beban mental seperti ini terasa relevan bagi rumah tangga di Singapura yang harus menyeimbangkan pekerjaan, pengasuhan anak, perawatan kerabat lanjut usia, dan berbagai rutinitas harian. Survei yang dilakukan pada Juni 2026 dan ditugaskan oleh Samsung Electronics Singapore bersama SPH Media menemukan bahwa enam dari 10 dari 506 pemilik serta calon pemilik rumah mengatakan mereka menjadi pihak utama yang mengelola rumah tangga. Perempuan juga secara signifikan lebih mungkin memikul tanggung jawab tersebut dibandingkan laki-laki.
Beban ini tidak hanya berupa pekerjaan fisik, tetapi juga rangkaian keputusan, pengingat, dan kekhawatiran yang terus berulang.
Kekhawatiran tersebut dapat terus mengikuti seseorang meski ia sedang berada di luar rumah. Di tengah jam kerja, misalnya, pengelola rumah tangga mungkin tetap memikirkan cucian, pendingin ruangan, rutinitas sekolah, tagihan, keamanan rumah, dan kondisi anggota keluarga—sambil menentukan hal mana yang harus ditangani lebih dulu.
Tantangannya semakin kompleks ketika beberapa generasi tinggal dalam satu rumah. Satu dari tiga responden yang tinggal dalam rumah tangga lintas generasi mengatakan mereka mengkhawatirkan orang tua lanjut usia atau anak-anak saat sedang bepergian.
Teknologi tentu tidak dapat menggantikan perawatan langsung. Namun, akses terhadap informasi yang lebih jelas dan tepat waktu dapat mengurangi sebagian ketidakpastian dalam rutinitas harian. Pengelola rumah mungkin tidak perlu mengingat setiap pemeriksaan perangkat atau bertanya-tanya apakah rutinitas tertentu sudah selesai jika perangkat yang kompatibel dapat memberikan informasi status atau bekerja secara otomatis.
Hasil survei menunjukkan bahwa pemilik rumah lebih menginginkan bantuan praktis daripada teknologi sekadar untuk mengikuti tren. Penghematan biaya utilitas menjadi prioritas utama, yakni 46%, disusul penghematan waktu sebesar 33%, ketenangan pikiran 29%, perlindungan rumah 27%, dan perawatan orang terkasih 19%.
Responden yang belum memiliki sistem rumah terhubung juga melaporkan kekhawatiran lebih besar mengenai tagihan utilitas dan kemungkinan meninggalkan perangkat dalam keadaan menyala dibandingkan mereka yang memiliki smart home. Namun, temuan ini menunjukkan preferensi dan keterkaitan yang dilaporkan responden, bukan bukti bahwa sistem smart home secara langsung menyebabkan stres atau biaya rumah tangga menjadi lebih rendah.
Ekosistem rumah terhubung dapat menyatukan perangkat yang kompatibel melalui satu aplikasi atau hub, lalu menghubungkannya dalam berbagai jadwal dan rutinitas. Manfaat praktisnya adalah berkurangnya jumlah pengecekan dan keputusan kecil yang harus dilakukan secara terpisah oleh orang yang biasanya mengelola rumah.
Rutinitas otomatis dapat menangani tindakan yang berulang, seperti mematikan perangkat pada waktu tertentu. Dengan begitu, pengelola rumah tidak perlu mengingat setiap tugas secara manual. Samsung menjelaskan SmartThings sebagai platform yang dirancang untuk menghemat waktu, mengurangi kerepotan sehari-hari, dan memberikan visibilitas lebih besar terhadap kondisi rumah.
Kontrol jarak jauh dan rutinitas terjadwal dapat membantu menyiapkan rumah sebelum penghuni tiba—misalnya menyalakan pemanas air atau pendingin ruangan yang kompatibel. Sebagian pekerjaan yang biasanya dilakukan sebagai tugas mendadak dapat dipindahkan menjadi aktivitas terjadwal atau dikendalikan dari luar rumah. Kemampuan yang tersedia bergantung pada model perangkat, konfigurasi, dan ketersediaan layanan di wilayah setempat.
AI Energy Mode dan Energy Management di SmartThings dirancang untuk menampilkan penggunaan listrik dari perangkat yang terhubung serta mengidentifikasi peluang penghematan. Samsung menyatakan bahwa mesin cuci Bespoke AI tertentu dapat mengurangi penggunaan energi hingga 70%, sedangkan pendingin ruangan tertentu dapat menguranginya hingga 28%. Hasil sebenarnya bergantung pada model perangkat, pengaturan, dan pola pemakaian setiap rumah.
Untuk perangkat yang kompatibel, pengguna dapat memeriksa status dan mengendalikannya dari jarak jauh. Fitur ini dapat membantu mengatasi kekhawatiran yang umum terjadi: apakah AC atau perangkat lain masih menyala setelah seseorang meninggalkan rumah. Teknologi ini tidak menghilangkan semua risiko, tetapi dapat menggantikan rasa tidak pasti dengan pemeriksaan singkat melalui aplikasi.
Sistem rumah terhubung yang terpadu dapat memberikan visibilitas lebih baik terhadap perangkat dan rutinitas di rumah. Hal ini berpotensi memberi rasa tenang ketika anggota keluarga berada di rumah. Samsung juga menyebut pembaruan SmartThings yang mencakup fungsi keamanan rumah dan perawatan keluarga.
Meski demikian, fitur-fitur tersebut sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti, perawatan langsung, kesepakatan antaranggota keluarga, dan langkah keselamatan yang sesuai. Teknologi paling bermanfaat ketika memudahkan akses informasi tanpa menciptakan arus notifikasi baru yang justru harus terus dipantau oleh pengelola rumah.
Survei tersebut juga memuat pengalaman yang menunjukkan bagaimana intervensi kecil dapat mengurangi pekerjaan koordinasi berulang.
Cindy Ching, 55 tahun, membantu mengelola rumah tangga tiga generasi yang dihuni 11 orang sambil bekerja penuh waktu. Ia menggunakan perintah suara untuk mengatur lampu dan kipas, alarm, serta musik. Pendingin ruangan yang terhubung juga masuk dalam daftar keinginannya agar rumah dapat didinginkan sebelum keluarga tiba.
Clare Lee, 34 tahun, membagi waktu antara merawat anaknya yang berusia tiga tahun, mengerjakan pekerjaan rumah, dan menjalankan rutinitas harian. Ia dapat memeriksa dari jarak jauh apakah AC masih menyala dan menyalakan pemanas air sebelum keluarga pulang. Menurutnya, langkah tersebut menghemat waktu sekaligus mengurangi kekhawatiran.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa nilai teknologi rumah terhubung sering kali muncul dalam momen-momen sederhana. Mematikan perangkat dari jarak jauh, menyiapkan rumah sebelum tiba, atau mengurangi jumlah hal yang harus diingat mungkin tampak sepele jika dilihat satu per satu. Namun, semuanya dapat meringankan beban orang yang selama ini memikul pekerjaan rumah tangga yang tidak terlihat.
Pesan terpenting dari survei ini adalah bahwa teknologi smart home sebaiknya dinilai dari jumlah keputusan yang dapat dihilangkan, bukan dari banyaknya perangkat yang ditambahkan. Bagi pemilik rumah di Singapura—terutama perempuan dan mereka yang mengoordinasikan keluarga lintas generasi—fitur yang paling berguna mungkin justru yang sederhana: rutinitas terjadwal, pemeriksaan jarak jauh, pemantauan energi, dan notifikasi yang dipilih dengan cermat.
Karena penelitian ini ditugaskan oleh Samsung Electronics Singapore dan SPH Media, hasilnya mencerminkan pengalaman serta preferensi yang dilaporkan responden, bukan pengujian independen atas dampak SmartThings. Meski demikian, penelitian tersebut menyoroti kebutuhan yang jelas: teknologi terhubung seharusnya membantu penghuni rumah mengingat lebih sedikit hal, melakukan lebih sedikit pengecekan, dan berkoordinasi dengan lebih mudah.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Enam dari 10 responden dalam survei Juni 2026 terhadap 506 pemilik dan calon pemilik rumah di Singapura mengatakan mereka menjadi pihak utama yang mengelola rumah tangga.
Enam dari 10 responden dalam survei Juni 2026 terhadap 506 pemilik dan calon pemilik rumah di Singapura mengatakan mereka menjadi pihak utama yang mengelola rumah tangga. Prioritas terbesar responden adalah menghemat biaya utilitas (46%), menghemat waktu (33%), dan memperoleh ketenangan pikiran (29%).
Bagi keluarga lintas generasi, otomatisasi dan pemantauan jarak jauh dapat membantu mengecek perangkat, mengatur rutinitas, serta memberi rasa tenang terkait anggota keluarga tanpa menggantikan perawatan langsung.